Menghindari Gosip


CAM00291Gosip atau desas-desus adalah selentingan berita yang tersebar luas, namun kebenarannya masih diragukan. Biasanya sebuah berita tentang suatu keadaan yang terjadi pada seseorang. Gosip tersebar melalui mekanisme pembicaraan dari mulut ke mulut, hingga akhirnya berita itu menjadi rahasia umum.

Berpijak pada landasan salah satu objektif syariat yang primer, hifdz al a’raadh (menjaga kehormatan manusia), membuat gosip, menyebarluaskan, atau sekedar mempercayainya merupakan perbuatan yang dikecam oleh syariat. (lebih…)

Terpaksa Mengikuti Asuransi Konvensional


Asuransi-ResSeringkali menjadi dilematis, ketika kita sudah mengetahui bahwa asuransi konvensional mengandung hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam, namun kita tidak jarang dalam kondisi terpaksa untuk mengikutinya. Hal itu karena asuransi telah menjadi salah satu bentuk muamalah yang beredar dalam masyarakat kita. Asuransi ada dalam komponen-komponen kebutuhan kita, dalam dunia kerja dan juga transaksi jual beli misalnya. Saat membeli suatu barang, tidak jarang secara otomatis telah mengikuti asuransi tanpa kita inginkan. Begitu juga saat kita bekerja di suatu perusahaan, pihak perusahaan pun mendaftarkan kita sebagai karyawannya kepada perusahaan asuransi konvensional. Nah, dalam kondisi ini, apa hukum mengikuti asuransi dan apa yang harus kita lakukan saat kita mendapat hak untuk menerima uang ganti rugi?

Berikut ini kami kutipkan jawaban Syaikhuna Dr. Sa’ad bin Turki al Khatslaan hafidzahullah:

(lebih…)

Wakaf Uang Tunai; Hukum dan Aplikasinya


downloadSyariat Islam sangat mendorong umatnya kepada sedekah, wakaf dan pinjaman yang baik (qard hasan) untuk kepentingan dan kemajuan umat, baik dalam urusan dunia maupun agamanya. Wakaf merupakan salah satu instrumen syariat untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi umat. Para ulama sepakat atas disyariatkannya wakaf secara umum, sejumlah para sahabat diriwayatkan pernah mewakafkan sebagian harta mereka.

Umar pernah meminta pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sebidang tanah yang didapatkannya di Khaibar, apa yang pantas ia lakukan terhadapnya. Beliau kemudian bersabda, “Jika engkau mau, engkau tahan pokoknya, dan engkau sedekahkan hasilnya.” (Muttafaq ‘alaih)

(lebih…)

Urgensi Ijtihad Kolektif (Ijtihad Jama’iy)


15small_1224592110Oleh: Syaikh Dr. Sa’ad bin Turky Al Khatslan

(Anggota Hai`ah Kibar Al Ulama, KSA)

Para ulama telah berkonstribusi besar dalam menjelaskan hukum-hukum syar’i kepada umat baik dalam bentuk ceramah, kajian, fatwa, penelitian, karya tulis dan lain-lain. Konstribusi para ulama dalam hal ini terklasifikasi kepada dua bentuk: Individu dan kelompok. Dari dua bentuk ini, yang terbaik adalah yang kedua. Yaitu melakukan kajian (ijtihad) untuk sampai pada pengetahuan tentang hukum syar’i dalam terma-terma ilmiah dan masalah-masalah kontemporer secara kolektif (Ijtihad Jama’i). Cara ini lebih dekat kepada taufiq dan lebih akurat dalam mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya dalam suatu masalah kontemporer.

(lebih…)

Mencari Nilai Ibadah Dalam Bekerja


islamic-bankingIslam mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ

 Maka carilah rizki disisi Allah..” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 17)

Bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajat-nya. Hingga Allah dalam Al Qur`an menggandengkannya dengan jihad memerangi orang-orang kafir.

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

(lebih…)

Bahaya Suap


risywahPenyakit berbahaya yang sangat merusak tatanan masyarakat itu bernama suap (risywah). Kerusakan dan kezaliman akan merebak dalam suatu masyarakat yang terbiasa dengan penyakit tersebut. Suap adalah tradisi orang-orang Yahudi. Allah berfirman mencela orang-orang Yahudi, “Mereka senantiasa mendengar kedustaan dan memakan as-suht.” (QS. Al Maidah: 42) Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, “As-Suht” adalah perkara yang haram, ia adalah suap, sebagaimana penafsiran Ibnu Mas’ud dan yang lainnya.

(lebih…)

Kezaliman Itu Bernama Riba


ribaIslam membangun kehidupan masyarakat manusia diatas sejumlah prinsip. Dalam urusan materi, Islam menekankan prinsip agar setiap individu masyarakat memiliki etos kerja yang baik sehingga masing-masing dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Di sisi lain, Islam juga menekankan agar orang-orang yang berharta memiliki kepedulian sosial, memberi perhatian terhadap nasib orang-orang lemah yang kekurangan, baik dengan memberi atau menyediakan lapangan pekerjaan. Harta dalam kendali orang-orang yang berharta dalam pandangan Islam seharusnya dapat membantu mewujudkan beragam kemaslahatan di masyarakat.

Dalam kerangka ini pula, Islam memperingatkan agar orang-orang yang berharta tidak menyia-nyiakan hartanya dengan sikap israf atau menghambur-hamburkan harta dalam hal-hal yang tidak bermanfaat.

(lebih…)

Hukum Membeli Barang-Barang Mewah


sederhanaSebuah pertanyaan disampaikan kepada Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullahu ta’ala: Apakah hukum menjual mobil dan perabot rumah yang mahal?

Jawaban: Dalam hal ini ada keluasan, jika pembeli mampu dan bukan bermaksud untuk berlebih-lebihan serta berbangga diri, akan tetapi menginginkan keindahan, dalam rangka berhias dan ia mampu untuk itu. Karena ia memiliki harta dan kemampuan. Kami tidak mengetahui adanya larangan tentang hal itu. Jika ia membeli mobil yang mewah atau tempat tidur yang bagus, kami tidak mengetahui adanya larangan dalam hal itu. Akan tetapi sikap tawadhu baik. Jika ia tawadhu untuk Allah, memakai barang-barang yang pertengahan saja, maka itu tentu lebih utama. Maksud saya agar ia dapat menyalurkan kelebihan (hartanya) itu untuk sedekah, membantu fakir miskin dan ikut berkonstribusi dalam kegiatan-kegiatan kebaikan.

(lebih…)

Bolehkan Barang Gadai Dipakai Oleh Pemegang Barang?


Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah. Shalawat dan Salam mudah-mudahan tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman. Amma ba’du:

Gadai menggadai adalah jenis transaksi yang telah lumrah dilakukan masyarakat manusia. Ini menunjukkan bahwa transaksi gadai dibutuhkan oleh manusia dalam hubungan interaksi (mu’amalah) mereka di dunia. Sejalan dengan ini, akad gadai adalah jenis transaksi yang dihalakan oleh syariat dengan dalil dari Alquran, sunnah dan ijma para ulama. Namun tentu saja transaksi itu harus dilakukan dengan aturan-aturan yang wajib diperhatikan. Karena ternyata dalam prakteknya, transaksi ini tidak jarang dilakukan dengan tanpa mengindahkan aturan-aturan syar’i, sehingga terjatuh pada perkara yang diharamkan dan menyimpang dari tujuan akad gadai itu sendiri.

Diantara permasalahan yang terkait dengan gadai adalah tentang memanfaatkan barang gadaian yang ada pada pemegang barang gadai/pemberi piutang. Penulis pun pernah ditanya: Apakah boleh menggadaikan barang seperti motor kepada orang yang memberi pinjaman uang (utang) dengan ketentuan bahwa barang itu boleh dipakai oleh pemberi pinjaman?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak beberapa nukilan dari para ulama berikut: (lebih…)

Prinsip Pergaulan


Pergaulan (mu’amalah) dengan sesama adalah kebutuhan setiap manusia. Ia tidak akan dapat lepas dari kehidupan manusia dimana pun ia berada. Karena tidak ada manusia yang dapat hidup menyendiri, terkucil dari kelompok manusia yang lain.

Islam mengajarkan bagaimana seharusnya manusia membangun prinsip pergaulannya dengan sesama. Larangan berbuat zalim, aniaya dan sewenang-wenang, serta perintah berbuat ihsan dan memberi manfaat kepada orang lain begitu banyak dalam Alquran atau Sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pergaulan antar sesama manusia.

Pergaulan dapat memberikan keuntungan dan nilai positif manakala ia dibangun diatas prinsip yang benar. Dan sebaliknya, ia dapat berubah menjadi petaka ketika pola pikir suatu masyarakat terhadapnya mengalami penyimpangan.

Diantara pola pikir keliru yang berkembang pada kebanyakan masyarakat adalah; bahwa pergaulan selalu didasarkan pada prinsip kompensasi (muqabalah). Jika saya menerima, maka saya memberi. Jika orang lain berbuat baik, maka saya pun berbuat baik. Dan jika orang lain berbuat buruk, maka saya pun berbuat buruk. (lebih…)