Memetik Faidah Hadis “Sesungguhnya Orang Yang Paling Takwa dan Mengenal Allah adalah Diriku.”


8703963014_3acc5db4efImam Bukhari rahimahullah berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ الأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ . فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِى وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ : إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا 

Menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam, ia berkata, mengabarkan kepada kami Abdah, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau memerintahkan mereka (para sahabat), beliau memerintahkan mereka dengan sesuatu yang sekiranya mampu mereka kerjakan. Mereka pun berkata, “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Seketika beliau pun marah, hingga nampak kemarahan itu pada wajahnya, kemudian berkata, “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan mengenal Allah adalah diriku.”

(lebih…)

“Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan!”


30076Oleh: Prof. Dr. Al-Syarīf Hatim al-‘Aunī

Dosen Hadis di Program Pasca Sarjana Universitas Ummul Qurā

Hadis tentang doa yang telah populer: “Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan!”, adalah hadis yang sangat lemah, bukan hanya sekedar lemah. Oleh karena itu tidak boleh diamalkan, sekalipun dalam faḍā`il al-a’māl (keutamaan amalan-amalan) di kalangan ulama yang membolehkan beramal dengan hadis daif dalam kategori tersebut!

(lebih…)

Hadis: “Wanita Cantik yang Tumbuh dalam Tempat yang Buruk”


pohonعن أبي سعيد الخدري ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « إياكم وخضراء الدمن » ، فقيل : يا رسول الله ، وما خضراء الدمن ؟ قال : « المرأة الحسناء في المنبت السوء »

Dari Abu Sa’id al Khudry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhi oleh kalian khadhraa`ad diman.” Mereka berkata, “Apakah khadhraa`ad diman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Wanita cantik yang tumbuh dalam lingkungan buruk.”

Takhrij Hadis

Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafaa`, hal. 855 berkata, hadis iyyakum wa khadhraa`ad dman diriwayatkan oleh Ad Daaraquthny dalam “al Afraad”, Ar Raamahurmuzy dan Al ‘Askary dalam “Al Amtsaal”, Ibnu ‘Adiy dalam “Al Kaamil”, Al Qudhaa’iy dalam “Musnad Asy Syihaab, Al Khaathib dalam “Iidhaah al Malbas”, Ad Dailamy, dari jalur al Waaqidy dari Abu Sa’iid al Khudry secara marfu’.

(lebih…)

Hari Perhitungan dan Kata-Kata Baik


kalimah toyyibahSebuah hadis diterima dari sahabat Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata, baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَينَهُ وَبَيْنَهُ تَرْجُمَانٌ ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إلاَّ مَا قَدَّمَ ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرى إلاَّ مَا قَدَّمَ ، وَيَنظُرُ بَيْنَ يَدَيهِ فَلاَ يَرَى إلاَّ النَّار تِلقَاءَ وَجْهِهِ ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَو بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Tidak seorang pun diantara kalian melainkan akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa penerjemah antara dia dengan-Nya. Ia menoleh ke samping kanannya, ia hanya melihat apa yang telah diamalkannya. Kemudian ia menoleh ke samping kirinya, ia pu hanya melihat apa yang telah diamalkannya. Ia melihat ke arah depannya, ia melihat dihadapannya neraka. Maka bertakwalah kalian, walaupun hanya dengan sebutir kurma. Barangsiapa yang tidak memilikinya, maka dengan kata-kata yang baik.” (Muttafaq ‘alaih)

(lebih…)

Hadis: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia itu tertidur, jika mereka mati, barulah mereka terbangun.”


qiyamul-lailHadis ini cukup terkenal di kalangan orang-orang sufi. Padahal sebenarnya ia bukanlah hadis, ungkapan ini adalah perkataan Ali bin Abi Thalib. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah perkataan Sahl bin Abdillah At Tustury, sebagaimana yang di sebutkan oleh al ‘Ajluny dalam “Kasyful Khafaa”

Hadis ini disebutkan secara marfuu tanpa sanad oleh al Ghazaly dalam beberapa bukunya, seperti: “al Ihyaa” (4/23), “al Munqidz min al Dhalaal” (10), “Fadhaa`il al Baathiniyyah” (45), begitu juga disebutkan oleh al Bathluusy dalam “al Hadaa`iq fii al Mathaalib al ‘Aaliyyah” (72, 125).

(lebih…)

Lutut Dulu atau Tangan Dulu?


Tidak ada hadis yang shahih secara marfu’ (sampai ke Nabi) dalam masalah ini. Adapun hadis yang diterima dari Waa’il bin Hujr, ia ma’luul (terdapat kecacatan) karena penyendirian Syariik An-Nakha’i dalam meriwayatkannya dari ‘Aashim bin Kulaib, dari Bapaknya, dari Waa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau sujud mendahulukan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, jika beliau bangkit, mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/222), Nasa`i (2/206), Tirmidzi (2/206) dan Ibnu Majah (1/286)

Daruquthni berkata, “Yazid telah menyendiri dengannya dari Syariik, dan tidak ada yang meriwayatkannya dari Aashim bin Kulaib kecuali Syariik, dan Syariik laisa bil qawiy (tidak kuat) dalam riwayat-riwayat yang ia menyendiri di dalamnya.” (As-Sunan, 1/345)

Bukhari dan yang lainnya juga men-ta’liil (menyatakan kecacatan) hadis ini dengan hal tersebut.

Terdapat riwayat dari Umar dari perbuatannya dengan sanad yang shahih sebagaimana dikeluarkan oleh Ath Thahawi dalam “Syarh al Ma’aany” (1/256) dari jalur Umar bin Hafsh bin Ghiyats, menceritakan kepada kami bapakku, ia berkata, menceritakan kepada kami Al A’masy, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim dan murid-murid Abdullah: ‘Alqamah dan Al Aswad berkata: Kami menghapal dari Umar dalam shalatnya bahwa ia sujud setelah rukuknya dengan kedua lutunya seperti unta dan meletakkan kedua lututnya sebelum tangannya.” (lebih…)

Seorang Mukmin Seperti Unta dicocok Hidung


Bismillaahir rahmaanir rahiim

Ada peribahasa dalam bahasa Indonesia, “Seperti kerbau dicocok Hidung” yang maknanya kurang lebih adalah orang yang tidak memiliki pendirian. Ungkapan peribahasa itu mirip dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahwasannya seorang mukmin seperti unta yang dicocok hidung, kemanapun dia dibawa, ia akan mengikuti.” (Hadis dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Bani dalam Shahih Al Jami 4369).

Akan tetapi makna yang dimaksud oleh hadis tersebut bukanlah makna yang dimaksud dalam peribahasa di atas. Syaikh Abdul Karim Al Khudhair –hafidzahullah- menjelaskan tentang makna hadis tersebut, “Maknanya adalah mudah untuk tunduk, tidak memiliki sikap mau menang sendiri, suka membantah dan ngeyel. Tidak. Seorang mukmin itu selalu dan mudah mengikuti kebenaran, kemanapun kebenaran mengarah, maka ia akan selalu mengikuti kebenaran tersebut. Seperti unta dicocok hidung. Unta yang dicocok hidungnya dan diikat dengan tali kekang tidak akan dapat melawan penuntunnya. (lebih…)

Kesaksian Imam Ibnu Baz untuk Imam Al Albany dalam tashhiih dan tadh’iif (verifikasi hadis)


Pertanyaan: Apa pandangan Anda dalam merefer hukum-hukum hadis Al Albany?

Jawaban: Syaikh Muhammad Nashiruddin termasuk orang terbaik. Beliau adalah diantara ulama yang dikenal dengan istiqamah, akidah yang baik dan kesungguhan di dalam memverifikasi hadis-hadis, dan beliau adalah referensi dalam bab ini. Akan tetapi beliau tidak maksum. Terkadang terjadi darinya kesalahan dalam menshahihkan sebagian hadis atau mendha’ifkannya, seperti yang lainnya dari kalangan para ulama. Setiap orang yang berilmu seperti itu, memiliki kesalahan, baik ulama yang telah lalu atau yang belakangan.

Maka, yang wajib bagi penuntut ilmu adalah meneliti hadis-hadis yang dishahihkannya, dihasankannya atau didha’ifkan, jika ia termasuk ahli ilmu di dalam bidang ini, mengenal hadis, meneliti jalur-jalurnya dan perowi-perowinya. Jika nampak baginya keshahihan hukum yang dinyatakan oleh Syaikh –walhamdulillah-, jika tidak ia bersandar kepada hukum yang nampak baginya dari argumentasi-argumentasi yang ditempuh oleh ahli ilmu dalam bab ini. Kerena ahli ilmu telah meletakkan kaidah-kaidah dalam tashhih dan tadh’if. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (5) – Selesai


وَالْمُنْكَرُ الفَرْدُ بِهِ رَاوٍ غَدَا           تَعْدِيْلـُهُ لاَ يَحْمِلُ التَّفَرُّدَا

Munkar adalah hadis yang menyendiri seorang rawi dengannya, dalam kondisi

Keadilannya tidak mencapai derajat rawi yang pantas menyendiri

 

Munkar, menurut kebanyakan para ahli ilmu adalah hadis yang seorang rawi menyendiri sementara rawi tersebut bukanlah orang yang pantas menyendiri dalam riwayat seperti ini. Menyendiri maksudnya adalah hadis yang ia riwayatkan itu tidak dikenal dari para perawi yang lain, baik dari jalur periwayatan ia sendiri atau dari jalur periwayatan yang lain.

Dari definisi ini, munkar memiliki kaitan yang erat dengan gharib dan fard. Bedanya hanyalah istilah munkar khusus untuk yang salah satu perawinya adalah orang yang tidak mencapai derajat rawi yang pantas/boleh menyendiri dalam periwayatan tersebut. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (4)


وَالْفَرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثـِقَةِ         أَوْ جَمْعٍ اوْ قَصْرٍ عَلىَ رِوَايَةِ

Dan hadis fard (menyendiri) adalah yang engkau ikat dengan rawi tsiqah

Atau dengan jamaah, atau dengan pembatasan pada sebuah riwayat

 

Selanjutnya hadis fard, yang secara bahasa artinya menyendiri. Hadis fard terbagi dua. Pertama, fard mutlak; yaitu hadis yang diriwayatkan dengan satu jalur periwayatan. seorang rawi menyendiri dalam periwayatan hadis tersebut dan tidak ada yang menyepakatinya.

Kedua, fard nisbi; yaitu hadis yang kesendiriannya terkait dengan sisi tertentu. Sisi-sisi inilah yang diantaranya disebutkan al-Baiquny dalam bait diatas:

  • Rawi tsiqah: seperti jika dikatakan, “Hadis ini, tidak ada rawi tsiqah yang meriwayatkannya kecuali si fulan.” Hadis yang seperti ini disebut fard dari sisi perawi tsiqah, walaupun  hadis itu diriwayatkan oleh perawi-perawi lain, namun dhaif.
  • Jamaah: seperti dikatakan, “Hadis ini hanya diriwayatkan oleh penduduk Madinah.”
  • Terbatas pada periwayatan tertentu: seperti dikatakan, “Hadis ini, tidak ada perawi yang meriwayatkan dari si fulan kecuali si fulan.” Walaupun hadisnya sendiri masyhur dari jalur periwayatan perawi yang lain. (lebih…)