Urgensi Ijtihad Kolektif (Ijtihad Jama’iy)


15small_1224592110Oleh: Syaikh Dr. Sa’ad bin Turky Al Khatslan

(Anggota Hai`ah Kibar Al Ulama, KSA)

Para ulama telah berkonstribusi besar dalam menjelaskan hukum-hukum syar’i kepada umat baik dalam bentuk ceramah, kajian, fatwa, penelitian, karya tulis dan lain-lain. Konstribusi para ulama dalam hal ini terklasifikasi kepada dua bentuk: Individu dan kelompok. Dari dua bentuk ini, yang terbaik adalah yang kedua. Yaitu melakukan kajian (ijtihad) untuk sampai pada pengetahuan tentang hukum syar’i dalam terma-terma ilmiah dan masalah-masalah kontemporer secara kolektif (Ijtihad Jama’i). Cara ini lebih dekat kepada taufiq dan lebih akurat dalam mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya dalam suatu masalah kontemporer.

(lebih…)

Dasar Pijakan Syariat; Mendatangkan Maslahat, Mencegah Mafsadat


indexBerikut ini adalah uraian Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam kitabnya ‘Adabu Ath Thalab wa Muntahaa Al Arb” tentang kaidah diatas:

Syariat yang suci dan mudah ini dibangun diatas pijakan jalbul mashaalih wa daf’ul mafaasid (mendatangkan kemaslahatan dan mencegah keburukan). Siapa saja yang mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan para Nabi dan sejarah yang dihiyakatkan dalam kitab-kitab Allah yang diturunkan-Nya, ia akan meyakini dasar pijakan itu tanpa ada keraguan dan kesamaran. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan demikian pun terjadi dalam sirah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorang pun yang memiliki ilmu tentang syariat ini yang dapat mengingkarinya.

(lebih…)

Kapankah Seseorang Boleh Berijtihad?


Seseorang boleh berijtihad jika terkumpul padanya empat kriteria:

1. Mengetahui dalil-dalil syar’i; baik al-Kitab, sunnah, ijma, qiyas, istishab dll dalam masalah yang diperlukan.

2. Mengetahui kaidah-kaidah dalam memahami nash-nash syar’i atau yang disebut dengan kaidah-kaidah ushuliyyah. Ia dapat menerapkan kaidah-kaidah itu terhadap nash-nash syar’i dan mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum dari nash-nash syar’i tersebut. Mengetahui dalaalaat isyaraah, dalaalaat tanbiih, mengetahui mafhuum-mafhuum, mengetahui bagaimana mengaplikasikan metode qiyas, mengetahui macam-macam dalaalaat, mengetahui macam-macam sunnah agar ia bisa membedakannya ketika terjadi pertentangan dan mampu mentarjih.

3. Mengetahui bahasa arab yang membuatnya dapat memahami nash-nash syar’i, baik dalam kosa kata dan tata bahasanya.

4. Mengetahui perkara-perkara yang diijmakan dan yang diperselisihkan. Agar ia tidak berijtihad dalam perkara-perkara yang diijmakan.

Siapapun yang memiliki keempat kriteria ini, wajib baginya berijtihad dan beramal sesuai dengan ijtihadnya. Haram baginya mengamalkan sesuatu dengan taklid kepada orang lain. Kecuali jika ia tidak mampu untuk berijtihad. (lebih…)