Menghindari Gosip

CAM00291Gosip atau desas-desus adalah selentingan berita yang tersebar luas, namun kebenarannya masih diragukan. Biasanya sebuah berita tentang suatu keadaan yang terjadi pada seseorang. Gosip tersebar melalui mekanisme pembicaraan dari mulut ke mulut, hingga akhirnya berita itu menjadi rahasia umum.

Berpijak pada landasan salah satu objektif syariat yang primer, hifdz al a’raadh (menjaga kehormatan manusia), membuat gosip, menyebarluaskan, atau sekedar mempercayainya merupakan perbuatan yang dikecam oleh syariat.

Gosip berpotensi kuat mengandung kebohongan dan kepalsuan, sebagian atau seluruhnya. Jika kebohongan adalah dosa yang sangat besar, maka kebohongan yang tersebar luas (menjadi gosip), menjadi lebih besar lagi dan fatal akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bermimpi -dan mimpi seorang Nabi adalah wahyu- melihat seseorang yang disiksa dalam kuburnya dengan cara mulut, hidung dan matanya dirobek dari depan hingga kebelakang. Hal itu dilakukan secara bergiliran untuk setiap sisi wajahnya. Orang itu terus disiksa dengan cara demikian hingga hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, seorang yang disiksa dengan cara itu adalah orang yang keluar dari rumahnya, lalu berdusta dengan satu kedustaan, kemudian kedustaannya itu tersebar luas. (HR Bukhari)

Ikut serta menyebarkan gosip juga tak kalah terlarangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Cukuplah seseorang berdusta, jika ia menyampaikan segala berita yang didengarnya.” (HR Muslim dalam Muqaddimah)

Larangan berikutnya terkait dengan gosip ini adalah tergesa-gesa mempercayainya. Dalam kasus berita dusta (haaditsatu al ifk) yang menimpa Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, Allah dalam al Qur`an menegur langsung para sahabat yang terlibat di dalamnya, dalam rangka mendidik mereka, agar selalu berbaik sangka, tidak tergesa-gesa mempercayai berita yang sampai kepada mereka, bahkan menolak dengan tegas semua isu-isu yang tidak jelas. (Lihat Az Zumar: 12).

Jika semua yang diatas itu terlarang dalam syariat, maka membantah, mengklarifikasi dan berusaha mementahkan gosip yang tersebar adalah perbuatan yang terpuji dari beberapa sisi:

(1) Ia adalah sikap berbaik sangka, (2) Menjauhi syubhat dan potensi kedustaan, serta (3) Membela kehormatan seorang muslim.

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membela kehormatan seorang muslim, Allah akan menjauhkan wajahnya dari apa neraka pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi)

Kerusakan yang ditimbulkan dari kebiasaan mengkonsumi dan menyebarkan gosip ini tidak ringan. Hancurnya sendi-sendi persaudaraan sesama muslim diantara akibat yang dapat timbul karenanya. Jika sudah demikian, maka perpecahan dalam tubuh kaum muslim tidak dapat dihindari. Padahal kata Allah, perpecahan akan menghilangkan kekuatan. Permusuhan akan menghambat tersebarnya kebaikan di tengah-tengah umat. Pertengkaran semasa muslim akan mengundang kerugian yang tidak sedikit bagi masa depan kaum muslimin.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha menghindari gosip atau kabar burung yang tidak jelas sumbernya. Wallahu a’lam.

[Disarikan dari risalah Syaikhuna Sa’ad bin Nashir al Syatsry hafidzahullah berjudul, “Maqaashid al Syarii’ah al Islaamiyyah fii al Muhaafadzah ‘Alaa Dharuurati al ‘Irdh wa Wasaa`ilihaa min Khilaali Muhaarabati al Syaa`I’aati.” (Maqashid Syariat Islamiyyah dalam menjaga kehormatan dan sarana-sarananya, melalui upaya memerangi gosip)]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: