Memetik Faidah Hadis “Sesungguhnya Orang Yang Paling Takwa dan Mengenal Allah adalah Diriku.”

8703963014_3acc5db4efImam Bukhari rahimahullah berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ الأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ . فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِى وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ : إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا 

Menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam, ia berkata, mengabarkan kepada kami Abdah, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau memerintahkan mereka (para sahabat), beliau memerintahkan mereka dengan sesuatu yang sekiranya mampu mereka kerjakan. Mereka pun berkata, “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Seketika beliau pun marah, hingga nampak kemarahan itu pada wajahnya, kemudian berkata, “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan mengenal Allah adalah diriku.”

Islam adalah agama yang mudah, Allah ‘azza wa jalla menginginkan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menginginkan kesulitan bagi mereka. Rasulullah juga diutus dengan misi menebar rahmat bagi semesta alam. Sejalan dengan semua ini, Ibunda kita Aisyah radhiyallahu ‘anhu, seorang istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah dan sangat mengenal kehidupan beliau menceritakan salah satu kebiasaan baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, beliau selalu memerintahkan kepada para sahabatnya amalan-amalan yang ringan. Tujuannya, agar mereka dapat melaksanakan amalan tersebut secara kontinyu.

Namun karena para sahabat mengerti bahwa pahala dan derajat yang tinggi sangat ditentukan oleh amal-amal yang banyak, amalan-amalan yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dianggap tidak mencukupi bagi mereka. Sehingga timbullah sebuah asumsi, amalan-amalan ringan seperti itu hanya cocok untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak cocok untuk mereka. Karena beliau sudah mendapat ampunan atas dosa-dosanya baik untuk yang telah lalu atau yang akan datang. Asumsi yang ada dalam benak mereka ini kemudian diutarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun marah besar.

Mengapa beliau marah? Karena asumsi ini mengandung dua kekeliruan:

Pertama, amalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit karena beliau mengandalkan ampunan yang telah dijamin oleh Allah. Ini anggapan yang sangat keliru. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun beliau telah mendapat ampunan dari Allah, tidak serta merta beliau sedikit dalam beribadah kepada Allah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau sangat rajin dan banyak beribadah. Rasulullah diriwatkan melaksanakan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Saat ditanyakan kepada beliau, “Mengapa engkau melakukan ini, bukankah telah diampuni bagimu dosa yang telah lalu dan yang akan datang?” beliau menjawab, “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari Muslim) Rasa syukurlah yang membuat beliau kian rajin beribadah dan beramal.

Kedua, asumsi ini mengandaikan bahwa petunjuk Rasul bukanlah petunjuk yang sempurna. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad..” asumsi ini selanjutnya akan melahirkan sikap kontra ittiba’, Rasul tidak perlu lagi dijadikan tauladan dalam beribadah, yang seharusnya dilakukan adalah menambah dari apa yang telah dituntunkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asumsi ini tentu saja berbahaya. Apa lagi yang akan tersisa dari agama ini jika umatnya sudah tidak lagi memiliki komitmen untuk menjadi pengikut setia pemimpinnya, Nabi akhir zaman, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku..” (Lihat Fathul Baary Ibnu Rajab al Hanbaly: 1/83)

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan ada sejumlah faedah yang dapat kita petik dari hadis diatas:

  1. Amal-amal shaleh akan mengangkat derajat seseorang dan menghilangkan dosa-dosa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari mereka dari sisi ini, namun dari sisi yang lain (kekeliruan dalam dua asusmsi diatas).
  2. Jika seorang hamba telah mencapai puncak dalam ibadah serta buahnya, hal itu akan mendorongnya untuk terus kontinyu melaksakan ibadah, dalam rangka melanggengkan kenikmatan dan menambahnya dengan kesyukuran.
  3. Hendaknya mengikuti apa yang ditetapkan oleh pembuat Syariat, baik dalam azimah atau rukhshah, serta meyakini bahwa mengambil yang mudah, yang sesuai dengan syariat lebih utama dari amalan yang berat tapi bertentangan dengannya.
  4. Yang lebih utama dalam beribadah adalah pertengahan dan kontinyu, bukan berlebihan yang mudah terputus.
  5. Salah satu bukti semangat para sahabat yang tinggi dalam ibadah dan menambah kebaikan.
  6. Disyariatkan marah tatkala menyikapi suatu perbuatan yang bertentangan dengan syariat, memberi peringatan kepada orang yang cerdas agar ia tergugah dan sadar.
  7. Seseorang diperbolehkan membicarakan kelebihan dirinya jika diperlukan dan aman dari rasa sombong dan berbangga diri.
  8. Sebuah penjelasan bahwa Rasulullah merupakan sosok yang telah mencapai martabat manusia yang sempurna, karena kesempurnaan manusia bermuara pada dua esensi: Ilmu dan Amal. Yang pertama diisyaratkan dalam sabdanya, “Orang yang paling berilmu.” Yang kedua diisyaratkan dengan sabda, “Orang yang paling bertakwa.” (Lihat Fathul Baary Ibnu Hajar al Asqalany: 2/90-91)

@Rancabogo, Subang – Malam Kamis, 16 Dzulhijjah 1435 H (11/9/2014) Pkl: 0:04

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: