Ikhlas, Melanggengkan Kebaikan

20000000000000000Ikhlas, kata yang mudah diucapkan oleh lisan, namun cukup sulit dihadirkan dan dipertahankan dalam hati. Ayat dan hadis telah sering kita baca dan telinga kita telah berulang kali dijelali ceramah pentingnya ikhlas, namun keikhlasan mudah sekali lenyap dalam qalbu. Bahkan sering tanpa disadari, kita menganggap keikhlasan tidak penting lagi, riya sudah biasa, ujub dan rasa ingin dipuji oleh manusia tak apa-apa.

Butuh kesungguhan untuk menjaga niat, butuh juga pertolongan Allah untuk menangkal riya. Alih-alih kita yang level keimanannya relatif rendah, para ulama di zaman dahulu (salaf) pun ternyata juga perlu untuk bermujahadah melawan ketidakikhlasan, alias riya dalam hatinya.

Sahl bin Abdillah al Turtusy berkata, “Tidak ada yang lebih berat atas jiwa melebihi keikhlasan.”

Yusuf bin al Husain al Razy berkata, “Yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas, betapa sering aku bersungguh-sungguh untuk mengilangkan riya dari hatiku, namun ia tumbuh lagi dalam warna yang lain.”

Ibnu Uyainah berkata, “Diantara doa yang biasa dipanjatkan oleh Mutharrif bin Abdillah, “Ya Allah, sungguh aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa yang aku telah bertobat kepada-Mu darinya, aku memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang telah aku tetapkan atas diriku hanya untuk-Mu, namun aku tidak menunaikannya, dan aku juga memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang aku sangka bahwa aku memaksudkannya untuk-Mu, namun ternyata hatiku dicampuri sesuatu yang Engkau pun mengetahuinya.”

Riya akan hinggap kepada hati orang yang beramal shaleh. Salah satu strategi setan dalam menyesatkan manusia setelah ia tidak mampu menjauhkan seseorang dari kebaikan adalah menghembuskan racun riya ke dalam hati orang yang tengah melakukan kebaikan. Ibarat pohon, semakin tinggi, semakin kencang angin yang menerpanya. Begitu pun semakin besar dan banyak amal kebaikan seseorang, semakin tinggi dorongan untuk riya dalam hatinya.

Dari sinilah kita selalu harus waspada, karya jangan sampai tercampuri riya, amal kebaikan jangan sampai dinodai ketidakikhlasan, dan prestasi jangan sampai disusupi rasa ingin dipuji.

Kebaikan, karya dan prestasi yang benar-benar didekasikan hanya untuk Allah, maka Allah akan melanggengkannya, menetapkan untuknya manfaat yang sangat besar bagi sebanyak-banyak manusia. Imam Malik suatu hari pernah ditanya tentang kitab hadis yang ditulisnya, yaitu “Al Muwaththo”, apa faedah menuliskannya? Padahal sudah banyak selain Imam Maliki yang juga menulis kitab hadis, beliau menjawab,

ما كان لله بقي

 “Apapun yang diperuntukkan bagi Allah, maka ia akan langgeng.”

Ternyata, kitab al Muwaththo Imam Malik benar-benar langgeng hingga saat ini. Kepopuleran kitab Muwaththo Malik telah melampaui kitab-kitab hadis di masanya. Telah banyak kaum muslimin yang mengambil manfaat dari kitab beliau. Hal itu merupakan buah dari keikhlasan sang Imam saat membuat karya tersebut.

Hal ini pun nyata dalam kebaikan-kebaikan baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang para sahabatnya untuk menuliskan hadis-hadis dari beliau. Namun karena semua itu benar-benar didekasikan hanya untuk Allah semata, maka hampir tidak ada moment dari kehidupan beliau yang luput dari pengamatan umatnya. Semuanya diingat orang para sahabatnya, ditransmisikan oleh setiap generasi kepada generasi berikutnya, tercatat dalam lembar-lembar kitab-kitab hadis yang sangat banyak jumlahnya, menjadi pedoman hidup umatnya dalam beribadah kepada Allah.

Demikian pula dengan prestasi, karya, hikmah dan perjuangan para sahabat, tabi’in, tabi’u tabi’in dan para ulama yang datang setelah mereka. Jutaan lembar dan lautan tinta telah mencatat dan melanggengkannya. Hingga saat ini, kita dapat mengakses semua itu sebagai ilmu yang bermanfaat bagi kita dan generasi kita. Sekali lagi, semua yang dapat langgeng itu merupakan buah dari keikhlasan, ketulusan dan keinginan yang terpatri dalam hati mereka untuk meraih keridhaan Allah, bukan untuk selain-Nya.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Amin.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: