Terpaksa Mengikuti Asuransi Konvensional

Asuransi-ResSeringkali menjadi dilematis, ketika kita sudah mengetahui bahwa asuransi konvensional mengandung hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam, namun kita tidak jarang dalam kondisi terpaksa untuk mengikutinya. Hal itu karena asuransi telah menjadi salah satu bentuk muamalah yang beredar dalam masyarakat kita. Asuransi ada dalam komponen-komponen kebutuhan kita, dalam dunia kerja dan juga transaksi jual beli misalnya. Saat membeli suatu barang, tidak jarang secara otomatis telah mengikuti asuransi tanpa kita inginkan. Begitu juga saat kita bekerja di suatu perusahaan, pihak perusahaan pun mendaftarkan kita sebagai karyawannya kepada perusahaan asuransi konvensional. Nah, dalam kondisi ini, apa hukum mengikuti asuransi dan apa yang harus kita lakukan saat kita mendapat hak untuk menerima uang ganti rugi?

Berikut ini kami kutipkan jawaban Syaikhuna Dr. Sa’ad bin Turki al Khatslaan hafidzahullah:

Jika seseorang terpaksa mengikuti asuransi konvensional, maka tidak mengapa ia mengikutinya karena ia dalam keadaan terpaksa, tidak apa-apa dan tidak harus menghindar.

Jika ia mengikuti asuransi tersebut karena terpaksa, kemudian terjadi kecelakaan lalu-lintas misalnya, lalu pihak asuransi membayarkan untuknya atau menjamin segala biaya kerusakan mobilnya, dan biaya yang dibayarkan melalui perusahaan asuransi ini lebih besar dari premi yang ia setorkan. Misalnya ia baru saja membayar dua kali setoran, jumlah seluruhnya 500 real. Kemudian terjadi kecelakaan dan perusahaan asuransi membayarkan untuknya biaya kerugian sebesar 3000 real. Dalam kasus seperti ini, ia tentu akan mengambil uang ganti rugi yang jumlahnya lebih besar dari yang ia setorkan. Apa hukum permasalahan ini?

Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama, ia tidak diperbolehkan mengambil uang ganti rugi kecuali sejumlah yang telah ia setorkan. Jika ia misalnya baru menyetorkan 500 real saja, maka ia hanya berhak mengambil sejumlah itu. Karena jika ia mengambil uang dengan jumlah yang lebih besar dari yang telah ia setorkan, berarti ia mengambil harta orang lain tanpa hak, maka ini termasuk bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Pendapat kedua, ia diperbolehkan mengambil seluruh uang yang dibayarkan untuknya, walaupun jumlahnya lebih besar dari yang telah ia setorkan. Karena jika ia diperbolehkan untuk menyetor (uang premi), maka ia tentu boleh pula mengambil (seluruh uang ganti rugi ). Dan karena kaidah syariat mengatakan, “al ghunmu bil gurmi” (keuntungan adalah hak orang yang memiliki resiko kerugian), “al kharaaj bi al dhamaan” (hasil dari sesuatu adalah hak orang yang bertanggungjawab atas sesuatu itu). Begitu juga hal ini lebih dekat kepada nilai keadilan. Karena jika ia tidak mengalami kecelakaan, maka terambil darinya harta yang banyak. Maka bagaimana kita akan katakan kepadanya, “Bayar saja kewajiban Anda, walaupun Anda mengeluarkan harta yang banyak. Adapun jika engkau mendapatkan hakmu, jangan engkau ambil kecuali yang telah dikeluarkan.”? Ini tentu saja tidak adil. Bagaimana kita memperhatikan perusahaan asuransi yang telah banyak mendapatkan keuntungan dari orang-orang itu, sementara kita tidak memperhatikan urusan orang miskin ini?

Kemudian jika kita mengatakan hanya diperbolehkan mengambil jumlah uang yang telah disetorkan, maka sisa dari uang ganti rugi itu pun tidak akan dikembalikan kepada para nasabah asuransi, namun akan disetorkan kepada perusahaan-perusahaan internasional yang mayoritasnya milik orang-orang Yahudi. Dengan demikian, pendapat yang kedua, yaitu pendapat yang membolehkan untuk mengambil seluruh uang ganti rugi walaupun lebih besar dari jumlah premi yang telah disetorkan adalah pendapat yang lebih benar dalam masalah ini. Namun jika seorang muslim ingin berhati-hati, maka hendaknya ia mengambil seluruh uang ganti rugi itu, kemudian ia sedekahkan kelebihannya kepada pos-pos kebaikan yang bermanfaat untuk kaum muslimin dan tidak membiarkannya diambil oleh perusahaan-perusahaan itu.

[Al Mu’aamalaat al Maaliyyah al Mu’aashirah, hal. 175 – 176]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: