Khalid Azhari; Tukang Menyalakan Lampu (Waqqad) Masjid Yang Menjadi Pakar Nahwu

lampuZainuddin Khalid bin Abdillah al Azhari asy Syafi’i adalah seorang pakar dalam bidang ilmu nahwu. Karya-karya ilmiah yang ditelurkannya telah memperkaya khizanah keilmuan Islam dan sangat bermanfaat, khususnya bagi para penuntut ilmu dan peneliti bahasa Arab. Diantara karya beliau adalah:

  1. Al Muqaddimah Al Azhariyyah beserta syarahnya
  2. At-Tashriih ‘alaa Al Taudhiih, sebuah kitab syarh atas kibab Al Taudhih karya Ibnu Hisyam yang terbaik.
  3. Tamriin al Thullaab fii Shinaa’ati al I’raab, kitab yang memuat I’rab bait-bati Alfiyyah Ibnu Malik.
  4. Syarh al Aajurruumiyyah
  5. Muwashshilu Al Thullaab Ilaa Qawaa’idi al I’raab, sebuah kitab Syarh Qawa’idu al I’raab karya Ibnu Hisyam.
  6. Dan yang lainnya

Beliau lahir sekitar tahun 838 H di kampung Jarja. Saat beliau kecil, ayahnya pindah ke Kota Kairo. Beliau menghapal Al Qur’an, lalu berbakti di Masjid al Azhar sebagai ‘Waqqad’ (Tukang menyalakan lampu). Yang menarik dari kisah hidupnya adalah, sebuah motivasi dalam mencari ilmu yang muncul karena kejadian yang terbilang unik. Suatu hari, sebagaimana biasa beliau menjalankan tugasnya menyalakan lampu-lampu yang berada di dalam masjid. Tidak seperti sekarang, lampu-lampu di zaman itu masih berbentuk lentera yang dipasang diatas, dinyalakan dengan api. Seperti biasa pula, di masjid Al Azhar di masa itu (dan sampai sekarang) terdapat halaqah-halaqah ilmu. Pada hari itu, secara tidak sengaja sebuah sumbu api jatuh dan mengenai buku catatan seorang penuntut ilmu yang tengah belajar. Tidak sabar dengan kejadian itu, seorang penuntut ilmu tersebut pun mencela dan memakinya dengan menyebutnya orang bodoh…

Caci-maki yang dilontarkan kepadanya itu membekas dalam hatinya. Anehnya, yang membekas bukan rasa dendam kepada orang yang telah mencacinya, caci-maki itu justru memunculkan kesadaran dan spirit yang baik. Beliau pun akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang menyalakan lampu dan fokus kepada ilmu, padahal umurnya saat itu sudah lebih dari 30 tahun. Hingga akhirnya beliau menjadi seorang pakar dalam bidang ilmu nahwu dan juga memiliki konstribusi dalam ilmu-ilmu yang lain…

As Sahawi berkata tentang beliau, “Ia adalah seorang manusia yang terpilih.”

Beliau wafat sepulang melaksanakan ibadah haji di Propinsi Qalyubiya pada tahun 905 H, semoga Allah merahmati beliau. Amin.

Bagi kita, tentu kisah diatas memberi pelajaran yang sangat berharga. Penghinaan orang lain terhadap kita seharusnya tidak melemahkan kita, dan membuat kita merasa tersungkur jatuh, semestinya justru memunculkan kekuatan, membangun spirit dan  kesadaran kita. Penghinaan juga seharusnya tidak membuat kita menjadi sibuk memikirkan rasa dendam yang tidak memberi manfaat apa pun kepada kita selain waktu yang habis percuma dan pikiran yang terkuras sia-sia. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, Allahlah pemilik hikmah yang tertinggi. Wallahu ‘alam, semoga bermanfaat.

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, Rancabogo, 23 Syawwal 1435 H (19/08/2014)

[Biografi Khalid Azhari selengkapnya dapat di lihat dalam Kitab ‘Muashshilu al Thullaab’, dengan tahqiq: Abu Bilal al Hadhrami (pengajar ilmu nahwu di Darul Hadis, Dammaj)]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: