Sudah Taubat, Tapi Masih Ingin Maksiat (?)

25112013-5f194Taubat dari maksiat setelah sekian lama perbuatan dosa itu dilakukan bukan perkara mudah. Pasalnya, hati sudah kadung suka dengannya. Kecenderungan hati manusia sangat ditentukan oleh kebiasaannya. Sesering apa ia berbuat maksiat, sebesar itulah kecenderungan hatinya pada perbuatan itu. Jangankan yang sudah lama tenggelam dalam suatu perbuatan maksiat, satu kali saja memperbuatnya, hati akan cenderung suka kepadanya. Butuh perjuangan yang tidak ringan untuk dapat melepaskan diri darinya secara total. Butuh usaha yang tidak sebentar untuk dapat memupus kecenderungan hati kepadanya secara tuntas.

Dari sinilah sering kali terjadi, walau pun kita sudah taubat dari suatu perbuatan maksiat, namun hati masih menyimpan keinginan untuk melakukannya. Apakah keinginan yang masih tersimpan itu membuat kita berdosa? Apakah hal itu tanda bahwa taubat kita tidak diterima?

Kita diperintahkan untuk membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Kebencian kepada hal-hal itu menjadi konsekwensi keimanan. Orang yang benar-benar membenci kekufuran, ia akan merasakan manisnya iman. Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman.” Diantara tiga hal itu adalah, “Membenci kekafiran, sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.” (HR Bukhari Muslim)

Namun perlu digarisbawahi, bahwa bentuk kebencian itu bukanlah selalu harus berwujud hilangnya kecenderungan atau keinginan untuk bermaksiat dalam hati. Karena semua itu bersifat manusiawi, dan Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitannya dengan permasalahan ini, al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan:

“Ketahuilah, ukuran wajib (yang harus ada pada diri seseorang) dalam membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan adalah meninggalkannya, menjauhinya dan tidak bertekad untuk melakukannya, karena ia mengetahui kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya atas orang-orang yang melakukannya. Adapun tabiat yang cenderung kepadanya, khususnya bagi orang yang telah terbiasa melakukannya, setelah ia bertaubat, maka hal itu tidak akan mendatangkan dosa, jika ia tidak mampu untuk menghilangkannya.

Oleh karena itu, Allah memuji orang-orang yang menahan hawa nafsunya. Hal ini menunjukkan bahwa hawa nafsu cenderung kepada perkara yang terlarang dan barangsiapa yang tidak mengikuti hawa nafsunya, ia terpuji di sisi Allah.

Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang orang-orang yang menginginkan untuk berbuat maksiat, namun mereka tidak mengerjakannya. Ia berkata, menyitir firman Allah (yang artinya), Mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Hujarat: 3)

Seiring dengan waktu, biasanya jiwa menjadi jinak, semakin dekat kepada takwa, hingga tabiat itu berubah dan ia justru membenci sesuatu yang sebelumnya ia cenderung kepadanya, lalu takwa pun menjadi karakter yang kuat.”  [Fathul Baary” (1/53-54)]

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat, Subang 21 Syawwal 1435 H

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. barakallahufik

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: