Nilai-Nilai Ketakwaan Dalam Ibadah Puasa

6741709405_8aba94c3f2_zHikmah teragung dari ibadah puasa adalah untuk mewujudkan ketakwaan. Hal ini yang Allah nyatakan dalam al Qur`an (yang artinya),

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqarah: 183)

Bertakwa kepada Allah dilakukan dengan beriman kepada-Nya, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan teguh dalam semua itu. Keutamaan takwa dan pujian bagi orang yang bertakwa sangat tinggi dan harum. Takwa menjadi ukuran kemuliaan seorang hamba, Allah bersama orang yang bertakwa, surga disediakan untuk mereka dan neraka akan dijauhkan dari tubuh-tubuh mereka kelak pada hari kiamat. Allah juga menjanjikan kemudahan dan rizki yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa di dunia.

Takwa, tidak dibangun diatas satu nilai kebaikan. Takwa adalah akumulasi dari nilai-nilai dan unsur-unsur kebaikan yang beragam. Nilai-nilai inilah yang penulis sebut sebagai nilai-nilai ketakwaan. Dalam ibadah puasa, terdapat sejumlah nilai-nilai yang dapat membangun ketakwaan seorang hamba kepada Allah. Berikut ini diantaranya beserta penjelasannya secara ringkas:

Ibadah Puasa Meningkatkan Iman

Dengan ibadah puasa, iman seorang hamba akan melesat naik. Puasa adalah salah satu ketaatan kepada Allah, dan setiap ketaatan memberi dampak pada meningkatnya keimanan seorang hamba kepada Allah. Selanjutnya, keimanan akan menumbuhkan ketakwaan pada dirinya. Oleh karena itu, sejumlah ayat yang memerintahkan untuk bertakwa, Allah awali dengan seruan kepada orang-orang yang beriman. Karena takwa hanya mampu diwujudkan oleh orang-orang yang beriman.

Ibadah Puasa Melatih Kesabaran

Dalam ibadah puasa, kesabaran sangat diperlukan. Lebih diperlukan dari ibadah-ibadah yang lainnya. Orang yang berpuasa secara otomatis akan bersabar. Oleh karena itu pada ulama mengatakan bahwa dalam ibadah puasa, terkumpul seluruh jenis kesabaran;

  1. Sabar dalam taat; karena ibadah puasa adalah perintah Allah.
  2. Sabar dalam menjauhi maksiat; karena selama berpuasa seorang hamba meninggalkan yang dilarang berupa perkara-perkara yang dapat membatalkan puasanya.
  3. Sabar dalam menerima ketentuan Allah yang tidak disukai; karena pada saat seorang hamba berpuasa, rasa lapar, dahaga, lelah dan kondisi-kondisi lain yang tidak disukainya akan terjadi padanya.

Ibadah Puasa Menekan Syahwat dan Mengendalikan Hawa Nafsu

Nilai ketakwaan selanjutnya yang terdapat dalam ibadah puasa adalah, ibadah puasa dapat menekan syahwat seorang hamba, mengurangi keinginan-keinginan buruk yang ada pada dirinya dan mengendalikan hawa nafsunya. Jelas, hawa nafsu yang terkendali dan syahwat yang terkontrol akan memberi dampak pada ketakwaan seorang hamba. Karena syahwat dan hawa nafsu adalah faktor yang sangat besar yang membuat manusia meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan.

Ibadah Puasa Menumbuhkan Keikhlasan

Satu-satunya ibadah yang tidak dapat dilaksanakan dengan riya, tujuan agar dilihat orang manusia dan mendapat pujian mereka adalah ibadah puasa. Para ulama mengatakan, ibadah puasa adalah ibadah rahasia antara seorang hamba dengan rabbnya, hanya dirinya dan Allah saja yang mengetahui bahwa ia sedang berpuasa. Oleh karena itu dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, “Puasa itu untukku dan aku yang akan membalasnya” (HR Bukhari Muslim)

Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Puasa tidak terjadi padanya riya, sebagaimana yang terjadi pada ibadah selainnya.” (al Fath)

Keikhlasan tentu sangat penting dalam ketakwaan. Perintah-perintah Allah harus dilaksanakan seorang hamba dengan ikhlas, dalam rangka mencari keridhaan Allah. Pun demikian dengan larangan-larangan Allah, jika seorang hamba ingin mendapat pahala dari meninggalkannya, ia pun harus meninggalkannya karena Allah.

Ibadah Puasa Menguatkan Rasa Muraqabatullah

Merasa selalu diawasi oleh Allah adalah perasaan yang harus dihadirkan oleh seorang hamba jika ia ingin menjadi manusia yang benar-benar bertakwa kepada-Nya. Muraqabatullah akan membuat ia senantiasa berusaha menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah kapan pun dan dimana pun ia berada. Orang yang tidak memiliki rasa muraqabatullah dalam hatinya, pasti akan kesulitan mempertahankan ketakwaannya, khususnya dalam kondisi sendirian, jauh dari pandangan manusia.

Ibadah puasa mengandung nilai muraqabatullah. Saat seorang hamba berpuasa, ia akan benar-benar sadar bahwa ia selalu dalam pengawasan Allah. Tidak ada tempat dan waktu yang tidak diketahui  oleh-Nya. Oleh karena itu ia akan senantiasa menjaga puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkannya, walaupun saat sendirian dan jauh dari pandangan manusia.

Ibadah Puasa Meningkatkan Rasa Syukur

Dasar dari ketakwaan adalah rasa syukur. Rasa syukur akan tumbuh dari kesadaran yang baik atas karunia dan nikmat Allah bagi seorang hamba. Semua nikmat datang dari Allah. Sekecil apapun. Manusia tidak dapat hidup tanpa karunia Allah.

Biasanya, kenikmatan serta karunia Allah tersebut manusia sadari saat ia terhalang darinya dan merasa membutuhkannya. Makan dan minum adalah karunia Allah yang dirasakan oleh manusia setiap hari, namun sering kali baru disadari bahwa semua itu merupakan nikmat Allah yang sangat besar pada saat manusia terhalang darinya.

Dalam beribadah puasa, seorang hamba akan menyadari bahwa nikmat makan, minum dan juga nikmat-nikmat lainnya merupakan karunia Allah yang sangat besar atas dirinya, untuk itulah ia pun akan merasa harus bersyukur kepada-Nya.

Ibadah Puasa Menghadirkan Rasa Belas Kasihan

Saat beribadah puasa, rasa lapar dan dahaga akan dirasakan. Saat ia merasakan lapar dan dahaga itulah, ia pun akan mengingat sebagian saudara-saudaranya yang merasakan hal yang sama. Namun bedanya, ia hanya merasakan lapar dan dahaga sementara waktu saja, sementara sebagian saudara-saudaranya yang miskin merasakan hal itu hampir dalam setiap waktu.

Ibadah Puasa Membersihkan Hati Dari Noda

Dalam sebuah hadis yang diterima dari sahabat Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa di bulan kesabaran dan tiga hari setiap bulan, akan meninghilangkan waharsh shadri” (HR al Bazzar) Wahash shadri adalah tipuan, kedengkian, amarah, kemunafikan yang ada dalam hati.

Jika hati bersih, maka tentu lisan dan anggota badan akan baik dan selalu bertakwa kepada Allah.

Itulah beberapa nilai ketakwaan dari ibadah puasa. Mudah-mudahan ibadah puasa yang kita laksanakan tahun ini benar-benar dapat mewujudkan ketakwaan pada diri kita. Amin.

Wallahu a’lam,

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, malam 13 Ramadhan 1435 H

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: