Beribadah Dengan Akhlak Baik

201212221356194544Salah satu dimensi ibadah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin adalah berakhlak baik. Ibadah sangat erat kaitannya dengan akhlak. Bahkan, ibadah-ibadah ritual yang kita kenal dan rutin kita jalani, mengandung nilai-nilai akhlak yang mulia di dalamnya. Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi mengatakan, “Siapa saja yang mengamati al Qur`an dalam petunjuk-petunjuk yang dikandungnya, ia akan menemukan bahwa prinsip akhlak terdapat dalam seluruh syariat yang ada padanya, termasuk dalam ibadat. Di dalam shalat terdapat nilai khusyuk, kutundukan, ketenangan dan kewibawaan. “Datangilah shalat dengan tenang dan berwibawa.” Dalam zakat terdapat nilai kepatutan dan kederawanan, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu membatalkan sedekah-sedekahmu dengan sebutan-sebutan dan perbuatan menyakiti.”

Allah juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kami memberikan kamu makanan semata-mata mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan darimu balasan dan kesyukuran.”

Dalam puasa, (Rasulullah bersabda), “Barangsiapa yang meninggalkan perkataan buruk dan perbuatan buruk, maka Allah tidak lagi membutuhkan dalam amalnya meninggalkan makanan dan minuman.” Beliau juga bersabda, “Puasa itu adalah perisai.”

Dalam ibadah haji Allah berfirman (yang artinya), “Maka tidak ada rafats, kefasikan dan perdebatan dalam haji.”[1]

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan tujuan utama pengutusannya, “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Ahmad)

Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan ajaran tauhid, ibadat dan mualamat. Hal ini menunjukkan, bahwa persoalan akhlak tidak dapat dilepaskan dari term ibadah. Oleh karena itu, ibadah yang agung ini jangan sampai terlewat dari kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang rajin shalat, berpuasa, membaca al Qur`an, haji dan umrah, tapi kita kurang berakhlak kepada sesama. Prilaku seperti itu kelak akan membuat kita bangkrut di akhirat. Perhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

“Apakah kalian mengetahui orang yang bangkrut itu?” mereka berkata, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan juga harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang (dengan dosa) telah mencela ini, menuduh itu, memakan harta ini, menumpahkan darah itu dan memukul ini. Maka kebaikan-kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang ini dan itu. Sampai kebaikan-kebaikannya habis dan dosa-dosanya belum terbayar, diambillah kesalahan-kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Dengan demikian, berakhlak baik terhadap sesama makhluk adalah ibadah yang sangat agung yang tidak boleh kita lupakan. Alih-alih keberuntungan, ibadah-ibadah ritual yang kita kerjakan di dunia ini dapat habis tidak tersisa dan berujung neraka manakala akhlak kita tidak tegak menopang kehidupan dan pergaulan kita dengan sesama. Jika ibadah adalah tujuan dari kehidupan kita, maka akhlak adalah pilar penopang tegaknya ibadah-ibadah kita.

Beribadah kepada Allah, jika ditilik dari prinsip dasarnya, juga erat kaitannya dengan masalah akhlak. Dr. Ahmad al Raisuny berkata, “Sesungguhnya pokok ibadah itu sendiri tegak diatas pondasi akhlak, yaitu kesadaran tentang nikmat, karunia dan kesyukuran terhadap Sang Pemberi nikmat-nikmat tersebut. Ia tegak diatas prinsip, “Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Al Rahman [55]: 60-61)

Berdasarkan hal ini, maka seluruh ibadat dan ketaatan, merupakan refleksi dari akhlak syukur dan konsekwensi syukur. Artinya, ibadat, pondasi dan intinya adalah akhlak. Begitu pun perbuatan dan pergaulan dengan sesama manusia, ia pun dibangun diatas prinsip kesadaran dan rasa syukur atas kebaikan-kebaikan yang mereka miliki.”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga? Beliau bersabda, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani)

Ath-Thiby berkata, “Takwa kepada Allah” adalah isyarat tentang sikap yang baik terhadap Pencipta (khaliq) dengan mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sementara “Akhlak yang baik” adalah isyarat tentang sikap yang baik kepada sesama (makhluk).”[3]

Berakhlak baik kepada sesama dilakukan dengan beberapa tingkatan: Pertama: Tidak menyakiti dan menzalimi sesama, baik dalam urusan darah, tubuh, harta dan kehormatan mereka. Kedua: Membalas kebaikan dengan kebaikan. Ketiga: Membalas keburukan dengan kebaikan. Dan ini akhlak yang tertinggi.

Abu Zaid al Qairawani, Imam yang terkenal dengan julukan Malik kecil rahimahullah berkata, “Hadis-hadis tentang akhlak terangkum dalam empat hadis[4], yaitu:

Pertama:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu pilar akhlak yang harus dijaga. Orang yang suka berbicara seenaknya, tanpa berfikir panjang dan akibatnya, adalah orang yang buruk akhlaknya dan tidak memiliki sopan santun. Hadis ini mengajak kita untuk berfikir sebelum berbicara. Jika apa yang akan kita ucapkan adalah kebaikan, maka berbicaralah. Jika apa yang akan kita ucapkan jelas merupakan keburukan, maka tahanlah. Dan jika ragu apa yang akan kita bicarakan itu baik atau buruk, maka diam lebih baik.

Kedua:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.”

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia atau tidak bermanfaat merupakan pilar akhlak yang baik. Orang yang suka menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat adalah orang yang tidak berakhlak.

Ketiga:

لَا تَغْضَبُ

“Jangan marah.”

Hadis ini adalah larangan untuk marah, karena marah adalah sumber keburukan. Orang yang pemarah bukanlah orang yang berakhlak baik. Seorang yang berakhlak baik adalah orang yang mampu menahan amarahnya.

Keempat:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman seorang diantara kalian, sehingga ia mencintai sesuatu untuk saudaranya, seperti ia mencitai untuk dirinya sendiri.”

Hadis ini juga merupakan salah satu pilar akhlak. Orang yang memiliki memiliki rasa cinta kepada saudaranya, maka ia akan menjadi orang yang berakhlak baik, karena segala tindakan yang akan ia perbuat untuk saudaranya, akan selalu ia ukur dengan dirinya. Dan setiap orang pasti mencintai dirinya sendiri.

———————————————————

[1] Lihat Adhwaa` al Bayan, 8/424, tarsir surat al Qalam ayat, “Sesungguhnya engkau berada diatas akhlak yang agung.”

[2] Lihat Artikel berjudul, “Al Akhlaq wa Al Tasyrii’.”

[3] Tuhfatu al Ahwadzi Bi Syarh Jami al Tirmidzi

[4] Lihat artikel al Akhlaq al Fadhilah oleh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al Badr

Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. Beribadah Dengan Akhlak Yang Baik | Sekedar Cerita Sahabat
  2. BERIBADAH DENGAN AKHLAK BAIK | m3n4n's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: