“Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan!”

30076Oleh: Prof. Dr. Al-Syarīf Hatim al-‘Aunī

Dosen Hadis di Program Pasca Sarjana Universitas Ummul Qurā

Hadis tentang doa yang telah populer: “Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan!”, adalah hadis yang sangat lemah, bukan hanya sekedar lemah. Oleh karena itu tidak boleh diamalkan, sekalipun dalam faḍā`il al-a’māl (keutamaan amalan-amalan) di kalangan ulama yang membolehkan beramal dengan hadis daif dalam kategori tersebut!

Di antara pengalaman jenaka adalah bahwa setiap tahunnya hadis ini selalu dikirimkan kepada saya dari beberapa teman tercinta, dan saat itu saya langsung menjelaskan ihwal lemahnya hadis tersebut setelah ucapan “Āmīn” dan disertai doa untuk mereka, sebagai bentuk simpati kepada mereka. Kecuali pada satu saat, yaitu ketika saya di tengah kesibukan, saya hanya menjawab salah seorang teman dengan menyatakan lemahnya hadis tersebut. Lalu dia membalasnya dengan menulis sebuah surat, di mana dia menyebutkan padanya sebuah kisah yang pernah suatu ketika saya hikayatkan kepadanya. Saya telah menduga, sebelum mengirimkan suratnya, tentu dia akan mencantumkan kisah tersebut. Tertawalah saya ketika dia benar-benar mencantumkannya!

Kisah yang dimaksud adalah tentang seorang laki-laki yang telah terbiasa (seperti kebanyakan orang) berjabat tangan setelah salat dengan jamaah lain yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Pada satu saat, ketika berada di Mesjid Nabi (Mesjid Nabawi) ‘alaihi al-ṣalātu wa al-salām, dia menengok untuk menyalami seorang yang berada di sebelahnya. Kebetulan orang yang salat di sebelahnya adalah seorang dari gulāt al-mutasanninīn (golongan yang ekstrim dalam mempraktekkan Sunnah Rasūlullāh ‘alaihi al-ṣalātu wa al-salām) dari kalangan pelajar pemula (ṣigār al-ṭalabah). Tentu saja anak tersebut langsung menolak tangannya dengan kasar seraya berkata, “bidah, bidah, bidah!” Kemudian dia menjawab dengan nada tinggi menggunakan dialek Mesir yang khas, “Tidak punya perasaan itulah Sunnah?!!!”

Pada kolom komentar Beliau menulis:

Hendaknya orang yang berdoa memohon kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk sampai kepada bulan Ramadan, kapan pun sepanjang tahun, dengan lafal apapun yang menurutnya lebih memberikan baginya kekhusyukan dan lebih cepat dijawab oleh Allah Ta’ālā.

Beliau juga menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ahmad Naqiuddin: “Seandainya berdoa kepada Allah dengan doa tadi tanpa meyakini kesahihannya dari Nabi Muhammad ‘alaihi al-ṣalātu wa al-salām dan tanpa menyebutkan di awalnya, “Rasūlullāh ‘alaihi al-ṣalātu wa al-salām telah bersabda”, apakah kemudian doa tersebut haram dibaca?” dengan jawaban Beliau, “Tidak mungkin ada seorang Muslim yang melazimkan doa tersebut setiap tahun, dan hanya mengkhususkan bulan Rajab, dengan untaian lafal yang termaktub dalam hadis tadi tanpa meyakininya sebagai sunah. Sekiranya hal tersebut memungkinkan (namun hal semacam ini tidak dapat saya bayangkan), maka tidak jadi masalah. Dan jika sebaliknya (inilah yang sangat mungkin), maka hal itu adalah, “bidah, bidah, bidah!”

Alih bahasa: Alee Masaid

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. “Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan!” | Sekedar Cerita Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: