Sikap Inshaf Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah Terhadap Ahli Bid’ah

syaikhul islamKebesaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kancah ilmiah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Keluasan ilmu dan wawasannya diakui lawan maupun kawan. Ia juga sosok yang terkenal tegas dalam memerangi kebatilan dalam segala bentuknya. Keberaniannya dalam medan dakwah dan jihad merupakan teladan bagi siapapun. Namun demikian, beliau juga memiliki sikap yang luar biasa bijak dan adil dalam merespon kelompok-kelompok menyimpang dari kalangan ahli bid’ah. Berikut adalah beberapa cuplikan komentar beliau tentang ahli bid’ah:

Ahli bid’ah ghair mukaffirah (yang tidak dinyatakan kafir) lebih baik dari Yahudi dan Nashrani

“Setiap orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari orang yang kafir kepadanya, walaupun pada orang yang beriman ini terdapat suatu kebid’ahan, baik itu bid’ah khawarij, syi’ah,  murji`ah, qadariyyah atau yang lainnya. Yahudi dan Nashrani jelas orang-orang kafir di luar agama Islam. Adapun ahli bid’ah, jika ia menyangka mengikuti Rasul dan tidak menyelisihinya, ia tidak dinyatakan kafir. Jika pun ia kafir, maka kekafirannya tidak seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul.” (Majmu’ Al Fatawa, 35/201)

Pengakuan terhadap ahli bid’ah ghair mukaffirah memiliki iman dan takwa

“Diantara ahli bid’ah ada orang yang memiliki iman baik lahir atau batin, namun juga memiliki kebodohan dan kezaliman sehingga ia keliru dalam sunnah. Yang seperti ini bukan orang kafir juga bukan orang munafik. Terkadang ia memiliki sikap permusuhan dan kezaliman yang dengannya ia menjadi orang yang fasik dan pelaku maksiat, terkadang juga ia seorang yang melakukan kekeliruan yang ditolelir, namun terkadang ia memiliki keimanan dan takwa yang dengannya ia menjadi wali Allah sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya.” (Majmu’ Al Fatawa: 3/253-254)

Pengakuan terhadap jasa mereka dalam menyebarkan Islam

“Banyak dari kalangan ahli bid’ah kaum muslimin dari kelompok Rafidhah dan Jahmiyah juga selain mereka yang pergi ke negeri-negeri kafir dan melalui tangan mereka banyak manusia yang masuk Islam dan mendapat manfaat. Jadilah mereka orang-orang muslim ahli bid’ah, dan itu lebih baik daripada mereka menjadi orang-orang kafir.”

Sampai beliau berkata, “Banyak dari kalangan mutakallimin membantah kebatilan dengan kebatilan, bid’ah dengan bid’ah, begitu pula terkadang mereka membantah kebatilan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik dengan kebatilan kaum muslimin, sehingga orang kafir berubah menjadi seorang muslim ahli bid’ah. Lebih baik lagi dari mereka, adalah orang-orang yang membantah bid’ah-bid’ah yang nampak jelas seperti bid’ah Rafidhah dengan bid’ah yang lebih ringan dari itu.”

Sikap Syaikhul Islam terhadap orang-orang yang menentang dan mengkafirkannya dari kalangan ahli bid’ah

“Beginilah, dan aku berlapang dada kepada siapa saja yang menyelisihiku, walaupun ia menerjang batas-batas Allah kepadaku dengan memvonis kafir, fasik, melontarkan kedustaan atau fanatik jahiliyyah, aku tidak akan pernah menerjang batas-batas Allah kepadanya. Aku akan tetap menjaga perkataan dan perbuatanku, serta akan senantiasa menimbangnya dengan timbangan keadilan, menjadikannya tetap bermakmum kepada Kitab yang Allah turunkan yang dijadikannya sebagai petunjuk bagi manusia dan hakim dalam urusan yang mereka perselisihkan.” (Majmu’ Al Fatawa: 31/145 – 246)

Menyebut sebagian keutamaan-keutamaan ahli bid’ah 

“Rafidhah memiliki orang-orang yang ahli ibadah, wara dan zuhud, namun mereka tidak seperti pengikut hawa nafsu yang lain dalam hal itu. Muktazilah lebih berakal, berilmu dan lebih beragama dari mereka, kedustaan dan kefajiran di kalangan mereka lebih sedikit dibandingkan orang-orang Rafidhah. Zaidiyyah dari kalangan Syi’ah lebih baik dari mereka dan lebih dekat kepada kejujuran, keadilan dan ilmu. Tidak ada dari kalangan ahli ahwa yang lebih jujur dan lebih rajin beribadah dari orang-orang Khawarij… walau demikian, Ahli Sunnah memperlakukan mereka dengan adil dan ishaf, tidak menzalimi mereka. Karena kezaliman itu haram secara mutlak sebagaimana yang telah lalu.” (Minhaj As Sunnah: 5/157)

Menyebut kebaikan-kebaikan para ulama yang memiliki kebid’ahan di satu sisi

Tatkala beliau menukil perkataan Abu Umamah Al Maliky tentang Abu Dzar Al Harawi, “Laknat Allah atas Abu Dzar Al Harawi, dia lah yang pertama kali membawa ilmu kalam ke tanah suci dan yang pertama kali menyebarkannya di kalangan orang-orang Maghrib.” Syaikhul Islam mengomentari perkataan ini, “Abu Dzar seorang pemilik ilmu, agama, pengetahuan tentang hadis dan sunnah. Keunggulannya dalam riwayat al Bukhari dari ketika gurunya dan yang lainnya diantara keistimewaan dan keutamaan yang terkenal dimilikinya.” (Dar`u Ta’arudh al ‘Aql wa al Naql: 21/101)

[Disarikan dari Jurnal al Buhuts al Islamiyyah no. 93, dari kajian berjudul “Adab al Ikhtilaf fii Al ‘Aqaa`id ‘Inda Ahli al Sunnah wa al Jamaah.” Oleh Dr. Ihsan binti Abdul Ghaffar]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: