Urgensi Ijtihad Kolektif (Ijtihad Jama’iy)

15small_1224592110Oleh: Syaikh Dr. Sa’ad bin Turky Al Khatslan

(Anggota Hai`ah Kibar Al Ulama, KSA)

Para ulama telah berkonstribusi besar dalam menjelaskan hukum-hukum syar’i kepada umat baik dalam bentuk ceramah, kajian, fatwa, penelitian, karya tulis dan lain-lain. Konstribusi para ulama dalam hal ini terklasifikasi kepada dua bentuk: Individu dan kelompok. Dari dua bentuk ini, yang terbaik adalah yang kedua. Yaitu melakukan kajian (ijtihad) untuk sampai pada pengetahuan tentang hukum syar’i dalam terma-terma ilmiah dan masalah-masalah kontemporer secara kolektif (Ijtihad Jama’i). Cara ini lebih dekat kepada taufiq dan lebih akurat dalam mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya dalam suatu masalah kontemporer.

Hal itu karena manusia, betapa pun tinggi ilmu dan fikihnya, terkadang mengalami kesalahan dan lupa, bahkan dalam isu yang sederhana sekali pun. Saya akan memberikan contoh: Tatkala Rasulullah wafat, para sahabat sudah biasa membaca firman Allah (yang artinya),

“Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar: 30)

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

Akan tetapi, tatkala beliau wafat, sebagian mereka sepertinya lupa dengan kandungan ayat ini. Seperti yang dituturkan oleh Umar bin Khatab tentang dirinya. Saat kejadian itu, Abu Bakar sedang dalam suatu urusan, dan manusia tengah bergemuruh di Masjid. Umar berkata, “Rasulullah tidak mati, beliau hanya pergi kepada Tuhannya seperti Nabi Musa dan akan kembali untuk menghabisi orang-orang munafik.” Hingga datanglah Abu Bakar lalu menghampiri jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencium dahi beliau, lalu berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusannya, wahai Rasulullah, engkau harum dalam keadaan hidup atau mati.”

Abu Bakar lalu mendatangi orang-orang yang tengah bergemuruh di Masjid. Ia berkata kepada Umar, “Diamlah.” Ia kemudian berkhuthbah dan membaca dua ayat diatas. Ia berkata, “Barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah senantiasa hidup dan tidak akan mati. Namun barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati.” Lalu ia membaca firman Allah

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, sungguh seakan-akan ayat ini baru turun pada saat ini.” (HR Bukhari)

Begitulah Umar, sahabat yang paling berilmu setelah Abu Bakar. Namun demikian beliau lupa dengan makna ayat ini. Maka, lupa terkadang terjadi pada orang yang berilmu, betapa pun tinggi keilmuannya.

Oleh karena itu, diantara faedah ijtihad kolektif adalah, para ulama dapat saling mengingatkan satu sama lain dan saling meluruskan satu sama lain untuk sampai pada hukum Allah dan Rasul-Nya secara akurat. Ini pun merupakan manhaj salaf rahimahumullah. Umar kerap mengumpulkan para fukaha sahabat tatkala terjadi suatu masalah yang membutuhkan hukum syar’i. Diriwayatkan dari Umar dalam sejumlah tindakan. Diantaranya:

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan kisah perjalanan Umar bersama para sahabat ke negeri Syam. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Umar bin Khatab berangkat menuju Syam, tatkala mereka sampai di daerah Syarg, para panglima pasukan menemuinya, yaitu Abu Ubaidah Amir bin al Jarrah bersama para sahabatnya. Mereka menginformasikan bahwa wabah penyakit telah menyerang negeri Syam. Ibnu Abbas menuturnya, Umar berkata, “Undanglah orang-orang Muhajirin yang senior.” Umar mengundang mereka, meminta pendapat mereka dan menyampaikan informasi bawah wabah penyakit telah menyerang negeri Syam. Mereka berselisih pendapat. Sebagian mereka berkata, “Kita telah berangkat dengan suatu urusan dan kami berpendapat tidak kembali.” Yang lain lagi berkata, “Bersamamu ada sahabat yang lain dan kami memandang untuk tidak memdatangi wabah tersebut.” Umar berkata, “Silahkan Anda semua pergi.” Kemudian ia berkata, “Undanglah orang-orang Anshar.” Ibnu Abbas berkata, “Maka aku mengundang mereka. Umar meminta pendapat mereka. Namun mereka juga berselisih pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Umar berkata, “Silahkan Anda semua pergi.” Umar lalu berkata, “Undanglah para tokoh Quraisy dan orang-orang yang berhijrah pada hari penaklukan (fathu Makkah).” Ibnu Abbas menuturkan, “Aku kemudian mengundang mereka dan mereka tidak berbeda pendapat. Mereka berkata, “Kami memandang agar engkau kembali bersama rombongan dan tidak mendatangi wabah penyakit itu.”

Umar segera berbicara di hadapan para rombongan dan mengumumkan bahwa ia akan kembali. Abu Ubaidah bin al Jarrah berkata, “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah?” Umar berkata, “Wahai Abu Ubaidah, andai bukan engkau yang berkata demikian. Iya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah. Bagaimana menurutmu, jika engkau memiliki seekor unta yang akan engkau gembalakan di suatu lembah yang memiliki dua bukit, yang satu subur dan yang satu kering. Bukankah jika engkau menggembalakannya di bukit yang subur, engkau melakukannya dengan takdir Allah, dan begitu pun jika engkau menggembalakannya di bukit yang kering, engkau melakukannya juga dengan takdir Allah?

Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf datang setelah sebelumnya ia pergi untuk suatu keperluan, lalu berkata, “Aku memiliki suatu ilmu berkaitan dengannya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mendengar tentangnya (wabah penyakit) ada di suatu negeri, maka janganlah engkau mendatanginya, namun jika ia terjadi di suatu negeri dan kalian ada di sana, janganlah engkau lagi darinya.” Umar lalu memuji Allah dan pergi. (HR Bukhari)

Ini adalah salah satu contoh ijtihad kolektif. Umar mengumpulkan orang-orang dan mengajak mereka bermusyawarah, tidak berpendapat secara individu. Lihatlah dalam kisah ini Umar sampai mengumpulkan orang-orang sebanyak tiga kali sampai pada hukum Allah dan Rasul-Nya. Abdurrahman bin Auf datang dan menginformasikan bahwa hukum yang dipegang oleh pendapat Umar, ia lah yang sesuai dengan ilmu yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ad Darimi meriwayatkan dari al Musayyib bin Rafi’, ia berkata, “Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika terjadi pada mereka suatu kasus yang mereka tidak dapatkan hadis dari Rasulullah, mereka berkumpul, maka kebenaran ada pada pendapat mereka.” (Sunan Ad Darimi)

Begitulah metode para sahabat radhiyallahu ‘anhum, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum, mereka berkumpul dan mengkaji secara bersama-sama isu-isu baru yang terjadi. Ghalibnya, mereka dapat sampai pada hukum syar’i yang akurat (sebagaimana dalam kisah ini). Itu karena musyawarah adalah perkara yang agung dalam agama Islam.

Allah memerintahkan hal itu,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan it]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Hasan berkata, “Tidaklah suatu kaum bermusyawarah melainkan Allah akan memberi petunjuk kepada mereka kepada urusan yang paling utama.” Dalam lafadz lain, “Melainkan Allah akan memberi untuk mereka petunjuk atau yang bermanfaat.”

Berkumpul dan bermusyawarah akan membuka pintu dialog dan diskusi, masing-masing peserta akan mendapatkan ilmu, fikih, pengetahuan, metode istinbath pada orang lain yang tidak ada pada dirinya. Dengannya, beragam pemahaman akan semakin dekat dan celah untuk berselisih semakin kecil.

Jika ijtihad kolektif sangat penting pada masa-masa yang telah lalu untuk memahami gambaran suatu masalah dengan baik dan menghukuminya, maka di zaman sekarang itu lebih urgent lain. Karena isu-isu kontemporer semakin beragam dan bermacam-macam. Saat ini kita berada pada era takhash-shush (spesialisasi ilmu). Seorang fakih yang hebat sekalipun pasti membutuhkan para spesialis ilmu yang terkait dengan isu-isu kontemporer yang akan dibahasnya.

Umat Islam tetap berada diatas kebaikan. Pada hari ini telah terbentuk beberapa ‘Majami’ Fiqhiyyah’ (Komisi pengkajian fikih), ‘Haiat wa Lijan Ilmiyyah’ (Institusi dan Komite Ilmiah) yang merepresentasikan ijtihad kolektif. Diantara komisi pengkajian fikih yang terbentuk di dunia Islam adalah:

1. Majma’ Al Fiqhi Al Islami (divisi Rabithah Al Alam Al Islamy). Dahulu diketuai oleh Syaikh  Abdullah bin Humaid rahimahullah, kemudian Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah, kemudian sekarang Syaikh Abdulaziz Aali Syaikh (mufti kerajaan Saudi Arabia yang sekarang). Komisi ini telah mengelurkan sejumlah keputusan untuk beragam isu-isu kontemporer. Komisi ini juga menerbitkan jurnal rutin yang berisi keputusan-keputusan dan sebagian hasil penelitian komisi.

2. Majma’ Al Fiqhi Al Islami (divisi fikih OKI), belakangan juga disebut (Majma’ Al Fiqhi Al Islami Ad Dauly). Dahulu diketuai oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, dan sekarang Syaikh Shaleh bin Humaid waffaqahullah. Komisi ini juga telah menelurkan sejumlah keputusan dan seluruh hasil penelitiannya diterbitkan dalam bentuk majalah dalam 40 volume besar.

Ada juga komisi-komisi yang lain seperti Majma’ Al Buhuts Al islamiyyah di Mesir, Majma’ Fuqaha` Al Syar’iyyah di Amerika, Majma’ Al Fiqhi Al Islami di India dan terakhir telah dibentuk Majma’ Al Fiqhi Al Saudi.

Adapun institusi-institusi ilmiah diantaranya:

1. Hai`ah Kibar Al Ulama di Kerajaan Saudi Arabia, beranggotakan para ulama KSA dan mengadakan pertemuan dua kali dalam setahun, membahas sejumlah isu dan kasus yang diantaranya berkaitan dengan transaksi-transaksi kontemporer dan yang lainnya.

2. Al Lajnah Al Da`imah Li Al Buhuts wa Al Ifta`, ia adalah divisi Hai`ah Kibar Al Ulama, komite ini mengkaji banyak substansi, isu dan kasus serta menerbitkan fatwa-fatwa tertulis.

3. Hai`ah Al Muraja’ah wa Al Muhasabah Li Al Mu`assasat Al Maliyyah Al Islamiyyah, bertempat di Bahrain, memiliki konstribusi besar dalam meletakkan rambu-rambu syar’iyyah untuk beragam  transaksi ekonomi kontemporer. Institusi ini memiliki keistimewaan, setiap kasus didiskusikan lebih dari satu komite dan pertemuan. Ketika ada suatu kasus yang hendak dibahas, salah satu peneliti diminta untuk menulis tentangnya, kemudian didiskusikan dihadapan komite syar’iyyah. Peneliti tersebut lalu melakukan revisi sesuai dengan pendangan komite jika ada. Setelah itu, hasil penelitiannya akan dipresentasikan pada majlis syar’i. Setelah proses panjang diskusi, tukar pikiran dan pengkajian, barulah diterbitkan sebuah keputusan dalam bentuk aturan yang ringkas.

4. Al Hai`at Al Syar’iyyah Fi Al Masharif Al Islamiyyah. Sebagian dari institusi ini juga memiliki konstribusi yang istimewa dalam kajian dan penelitian terhadap isu dan kasus yang terkait dengan transaksi-transaksi perbankan.

Dinukil dari Kitab ‘Fiqhu Al Mu’amalatu Al Maliyyah Al Mu’ashirah’, hal. 16 – 22

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: