Kesalahan-Kesalahan Sikap Manusia Terhadap Para Ulama

3902633_max Setelah para nabi, para ulama adalah pewaris dan penerus mereka dalam menyampaikan risalah Allah. Syariat memuliakan mereka, mengangkat kedudukan mereka dan memposisikan mereka sebagai teladan bagi umat yang juga diperintahkan untuk ditaati. Namun demikian, mereka tidak seperti para nabi dari sisi kemaksuman (keterjagaan dari kesalahan).

Dalam memandang dan bersikap kepada para ulama, banyak manusia dewasa ini terjatuh pada kesalahan-kesalahan. Diantaranya:

Pertama: orang-orang yang memandang para ulama sama saja seperti manusia pada umumnya. Mereka tidak dianggap memiliki kedudukan apa pun dalam syariat dan tidak juga dihormati. Orang-orang seperti ini memiliki kesamaan dengan sekte khawarij yang merendahkan para ulama dari kalangan para sahabat Nabi. Akibatnya mereka sesat dan menyesatkan, berpecah belah dan setiap kelompok bangga dengan kelompoknya.

Kedua: orang-orang yang mengkultuskan para ulama, mengangkat mereka melebihi kedudukan mereka semestinya dan taklid kepada mereka dalam agama secara mutlak. Aktifitas mereka dalam beragama tidak dibimbing oleh dalil, namun hanya sekedar mengikuti pendapat-pendapat syaikh. Orang-orang seperti ini memiliki kesamaan dengan sekte rafidhah yang meyakini para imam mereka maksum, menetapkan bagi mereka kedudukan yang tidak juga dimiliki oleh seorang nabi atau malaikat sekali pun.

Ketiga: orang-orang yang memandang para ulama memiliki kedudukan, namun mereka tidak menyikapi para ulama layaknya manusia biasa yang bisa saja terjatuh kepada kesalahan dan hawa nafsu. Mereka menyikapi para ulama bukan dengan timbangan manusia. Maka, jika mereka melihat suatu kesalahan pada diri seorang ulama, mereka segera membesar-besarkannya dan menyebarluaskannya di kalangan umat. Mereka bersikap kontradiktif antara:

– Mengagungkan ulama dengan memposisikan mereka sebagai manusia yang tidak boleh melakukan kesalahan.

– Merendahkan kedudukan ulama dengan mencela mereka saat mereka melakukan kesalahan dan menyebarluaskannya.

Sikap-sikap diatas sangat nampak dalam kehidupan umat dewasa ini.

[Diadaptasi dari “Qawâ’id fî al Ta’âmuli Ma’a al ‘Ulamâ`”, hal. 8 -9, Syaikh Abdurrahman bin Mu’alâ al Luwaihiq]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: