Belajarlah Dari Pengalaman Pribadi dan Orang Lain

forest-wayPengalaman adalah guru yang terbaik. Begitu bunyi sebuah pepatah yang kerap kita dengar. Senyatanya, pengalaman mengajarkan kita untuk lebih baik. Pengalaman mengajarkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman juga mendidik kita untuk bersikap hati-hati dan waspada. Allah dan Rasul-Nya pun telah memperingatkan, agar seorang mukmin senantiasa dapat mengambil pelajaran, baik dari pengalaman dan peristiwa yang terjadi pada dirinya sendiri, begitu pun dari yang terjadi kepada orang lain.

Seorang Mukmin Tidak Tersengat Pada Lubang yang Sama Dua Kali

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak tersengat pada lubang yang sama dua kali.” (HR Bukhari & Muslim)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’dy berkata, “Hadis diatas adalah perumpamaan yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan bahwa seorang mukmin adalah orang yang senantiasa bersikap waspada. Dengan imannya, seorang mukmin akan berusaha menjauhi perilaku buruk yang dapat mencelakakannya. Jika pun ia terjerumus padanya, ia akan segera bertobat dan kembali.

Diantara kesempurnaan tobatnya, ia pun kemudian akan sangat berhati-hati dari sebab yang telah menjerumuskannya ke dalam dosa tersebut. Seperti orang yang memasukkan tangannya ke dalam sebuah lubang lalu ia digigit seekor ular yang ada di dalamnya. Tentu setelah itu ia tidak akan berani lagi memasukkan tangannya ke lubang tersebut, karena apa yang telah terjadi kepadanya.

Hadis ini mengajarkan tentang sikap mawas diri dan cerdas, yang termanifestasi dalam bentuk mengenali hal-hal bermanfaat untuk ia kerjakan dan mengenali jalan-jalan keburukan untuk ia jauhi.

Hadis ini juga menjelaskan tentang perlunya menjauhi hal-hal yang samar dan meragukan, yang dikhawatirkan akan membawa pada keburukan.

Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman untuk tidak kembali kepada tipu daya setan yang telah menjerumuskan mereka kepada perbuatan maksiat. Allah berfirman,

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nuur: 17)

Dengan demikian, orang yang telah bertobat dari suatu kesalahan, ia akan sangat membenci kesalahan itu dan lebih berhati-hati, karena melalui pengalamannya, ia mengetahui dampak-dampak buruk dari kesalahan tersebut.” (Diringkas dari Bahjah Al Quluub Al Baraar: 201 – 202)

Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Tidak hanya dari pengalaman pribadi, seorang mukmin hendaknya juga mau belajar dari pengalaman orang lain. Begitu bertebaran kisah yang Allah kisahkan dalam Al Qur`an. Diantara tujuannya, agar kita mendapat pelajaran dari lakon-lakon manusia yang Allah ceritakan kisah hidupnya tersebut. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Dalam Al Qur`an, Allah mengisahkan orang-orang yang ingkar, manusia-manusia yang durhaka dan tokoh-tokoh yang jahat. Semua akhir dari hidup mereka berujung nista. Semua itu agar menjadi pelajaran bagi kita, agar kita tidak melakukan perbuatan yang sama, sehingga mengakibatkan keburukan bagi kita sebagaimana akibat yang datang kepada mereka.

Allah juga menceritakan sebagian kesalahan yang pernah dilakukan oleh para Nabi berikut akibat yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut. Nabi Adam dan Hawa diusir dari surga ke dunia akibat mengikuti bujukan setan sehingga melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga. Dari kesalahan itu, Allah pun mengingatkan manusia agar belajar dari pengalaman kedua orang mereka.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” (QS. Al A’raf: 27)

Dengan demikian, pengalaman orang lain juga pelajaran bagi kita. Hendaknya kita selalu jeli dan cerdas melihat dan mengambil ibroh dari kejadian-kejadian yang menimpa orang lain, baik orang-orang terdahulu atau sekarang.

Wallahu a’lam,

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 2 Jumadil Awwal 1435 H (04 Maret 2014)

Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. Belajarlah dari Pengalaman Pribadi dan Orang Lain | Sekedar Cerita Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: