Mari Saling Membela dan Tidak Saling Menjatuhkan

Stack of HandsAllah memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dan tidak berpecah belah, saling mencintai dan tidak saling membenci, serta saling membela dan tidak saling menjatuhkan. Ikatan ukhuwah yang terbangun diatas iman, Allah lebihkan dari ikatan-ikatan lain termasuk ikatan nasab.  Dari persatuan dan ikatan ukhuwah yang kuat, akan tergalang proyek-proyek kerjasama yang baik dalam mendatangkan maslahat bagi kaum muslimin dan mencegah kerusakan atas mereka. Segala jalan yang dapat mengantarkan kepada terjaganya persatuan sangat ditekankan oleh syariat, dan sebaliknya, segala jalan yang dapat menimbulkan rusaknya hubungan sesama kaum muslimin sangat dilarang.

Tradisi saling membela dan menjaga persatuan dahulu juga yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun atas kaum muslimin generasi pertama. Beliau senantiasa membela para sahabatnya dan para sahabat pun saling membela kehormatan sesama mereka. Berikut adalah beberapa riwayat yang menggambarkan kepada kita bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya saling membela diantara mereka.

Kisah Pertama

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya berangkat ke Tabuk, Ka’ab bin Malik tidak ikut serta bersama pasukan kaum muslimin. Mengetahui hal itu, Nabi pun bertanya tentangnya. Seseorang pun berkata bahwa Ka’ab tengah terlena dengan kesenangan dunianya. Ia terus menjelek-jelekkan Ka’ab bin Malik hingga Mu’adz bin Jabal bangkit seraya berkata, “Sungguh buruk apa yang engkau katakan, demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak mengenalnya kecuali kebaikan.” (HR Bukhari Muslim)

Mu’adz membela kehormatan saudaranya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujui hal itu. Begitulah seharusnya sikap seorang muslim, ia membela kehormatan saudaranya ketika orang lain justru menjatuhkannya, bukan malah ikut menimpali dan turut menjatuhkannya. Jika kaum muslimin membiasakan hal ini, maka para tukang adu domba tidak akan memiliki kesempatan untuk menanam benih permusuhan dalam tubuh kaum muslimin.

Kisah Kedua

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama beberapa sahabat seniornya untuk berkunjung kepada sebagian sahabatnya yang lain. Ketika mereka duduk di rumah orang yang dikunjunginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Dimana kah si fulan?” salah seorang yang hadir disana seketika itu berkata, “Sesungguhnya ia seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah, seraya mengharapkan dengannya wajah Allah.” (HR Bukhari Muslim)

Dalam kisah ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membela kehormatan salah satu sahabatnya, karena ia bersaksi dengan laa ilaaha illaallah seraya mengharapkan wajah Allah dengannya, tidak mengucapkan kalimat itu dengan kemunafikan, tapi dengan kejujuran dan ikhlas. Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang tersebut. Maka tidak boleh bagi siapa pun menggunjing orang yang seperti itu dari kaum muslimin.

Kisah Ketiga

Seseorang tertangkap meminum khamar dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan untuk mencambuk dan menghukumnya. Namun orang itu mengulang-ulang perbuatannya. Hingga salah seorang berkata, “Ya Allah, laknatlah ia, sering sekali ia berbuat seperti itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingkari perkataan orang tersebut, “Janganlah kamu mencelanya, demi Allah aku tidak mengetahui tentangnya kecuali bahwa ia ada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari)

Maksudnya adalah ia seorang mukmin. Walaupun ia melakukan perbuatan dosa besar, akan tetapi ia masih memiliki iman. Orang beriman memiliki kedudukan yang tidak boleh dijatuhkan oleh siapa pun, walaupun ia bermaksiat.

Semua kisah ini mengandung pelajaran bahwa seorang muslim seharusnya senantiasa menghormati saudaranya sesama muslim. Karena setiap muslim memiliki hak untuk kita hormati dan kita bela. Jika seorang yang bermaksiat saja berhak untuk kita bela karena keimanannya, apalagi seorang muslim yang baik namun tertuduh dengan tuduhan-tuduhan buruk. Apalagi, jika yang dijatuhkan kehormatannya itu adalah orang-orang yang dikenal memiliki peran dalam kemajuan dakwah Islam. Termasuk dalam hal ini adalah membela sebuah media dakwah yang dicela dan dijatuhkan kehormatannya.

Pembelaan kepada sesama muslim tidak berarti menunjukkan fanatisme dan anti kritik, namun sekali lagi, ia adalah sunnah yang telah digariskan oleh teladan kita yang mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar persatuan kaum muslimin dapat utuh terjaga.

Wallahu a’lam

Abu Khalid Resa Gunarsa – Rancabogo, Subang, 16 September 2013

*Kisah-kisah diatas disarikan dari muhadharah Syaikhunaa Dr. Shaleh bin Fauzan al Fauzan hafidzahullah dalam “Muhadharaat fil ‘Aqiidati wad Da’wah” vo. 2, hal. 180-182

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: