Menjadi Orang Bertakwa

dream_a_zMenghindarkan diri dari bahaya yang mengancam adalah asal makna takwa. Takwa kepada Allah, berarti berusaha melindungi diri dari azab dan kemurkaan Allah yang bisa membahayakan diri manusia. Dan, usaha itu dilakukan dengan mengerjakan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertakwalah kamu dimana pun dan kapan pun kamu berada! Lalu ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapuskan keburukan tersebut. Kemudian  pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi)

Ada beberapa pelajaran yang berhubungan dengan takwa dalam hadis ini. Pertama, bertakwa di setiap tempat dan waktu. Berarti, bertakwa tidak hanya saat berada di mesjid saja, tapi juga saat berada di tempat lain seperti kantor, rumah dan jalanan. Bertakwa juga tidak hanya di bulan ramadhan, tapi juga di  waktu-waktu yang lain karena semua waktu adalah milik Allah. Bertakwa kepada Allah juga diamalkan saat sendiri dan saat berada diantara orang lain.

Kedua, bertaubat dari keburukan diri. Orang bertakwa bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Akan tetapi, orang bertakwa adalah orang yang jika berbuat kesalahan, ia segera mengingat Allah dan memohon ampunanNya. Kemudian berusaha memperbanyak amal kebaikan sehingga kesalahan-kesalahannya impas terhapus.

Allah berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri(dengan dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135)

Ketiga, berakhlak baik kepada sesama. Takwa kepada Allah tidak hanya cukup diwujudkan dengan ibadah yang terkait hak Allah saja. Takwa juga harus berwujud kesalehan sosial. Perhatikan hadis berikut. Rasulullah bersabda, “Apakah kalian tahu orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “orang bangkrut pada kami adalah orang yang tidak tersisa baginya dirham dan dinar.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, shaum dan zakat, akan tetapi ia kerap mencela sana, menuduh sini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si itu. Kemudian kebaikan yang ini diambil untuk dosa ini dan kebaikan yang ini juga diambil untuk dosa yang itu hingga jika habis semua kebaikannya sebelum semua dosanya terbayar, kesalahan-kesalahannya diambil dan dilemparkan kepadanya dan ia pun dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: