Meraih Haji Mabrur

hajjOleh: Syaikh Dr. Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin hafidzahullah

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan setiap muslim. Baik laki-laki atau wanita, hendaknya bersegera melaksanakan ibadah haji dan umrah setelah syarat-syaratnya terpenuhi. Tidak boleh baginya menunda pelaksanaan haji atau umrah walaupun hanya satu tahun saja tanpa ada uzur. Haji dan umrah adalah kewajiban yang harus segera dilaksanakan, karena perintah dalam syariat wajib dilaksanakan dengan segera.

Akan tetapi jika seorang muslim terhalangi untuk melaksanakannya karena suatu halangan seperti utang, terikat kerja, baik sebagai pegawai negara atau bukan, atau karena regulasi keberangkatan haji yang diatur oleh negara dan alasan yang lainnya, tidak apa-apa ia menundanya dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam hal ini.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan keutamaan ibadah haji. Diantaranya,

(( العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَينَهُمَا ، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الجَنَّةَ )) متفقٌ عَلَيْهِ

“Umrah ke umrah adalah penggugur dosa antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (Muttafaq ‘alaihi)

(( مَنْ حَجَّ ، فَلَمْ يَرْفُثْ ، وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أمُّهُ )) متفقٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang berhaji dan ia tidak berkata-kata jorok serta berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti hari pertama kali ia dilahirkan oleh ibunya.”

“Tidak ada suatu hari yang hamba-hamba Allah dibebaskan dari api neraka yang lebih banyak dari hari arafah, Dia akan mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berkata, “Apa yang mereka inginkan.?” (HR Muslim)

Oleh karena itu, wajib atas seorang muslim berusaha menjadikan hajinya mabrur, agar ia mendapatkan keutamaan dan pahala yang besar yang dijanjikan oleh Tuhannya. Haji mabrur adalah haji yang menghimpun beberapa karakteristik berikut:

Pertama: Ikhlas

Orang yang berhaji harus Ikhlas dalam menjalani seluruh prosesi hajinya, tidak menginginkan pujian manusia, gelar “haji”, sesuatu dari keuntungan dunia seperti harta dan yang lainnya. Allah berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya  neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereak itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan kebaikan.” (QS. Al Isra: 18-19)

“Barangsiapa yang beramal, lalu ia menyekutukan-Ku dalam amal tersebut dengan selain-Ku, maka akan Aku tinggalkan ia dan sekutu tersebut.” (HR Muslim)

Kedua: Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang berhaji juga harus berusaha menunaikan ritual hajinya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Ambillah dariku manasik haji kalian.” (HR Muslim)

Maka dari itu, wajib bagi orang yang akan berhaji untuk mempelajari hukum-hukum ibadah haji, sehingga ia dapat melaksanakan ibadah hajinya sesuai ilmu dan tidak terjatuh pada kesalahan dan kekurangan yang dapat mengurangi pahala hajinya atau bahkan merusaknya.

Ketiga: Melaksanakan haji dengan biaya yang halal

Biaya yang dipakai untuk melaksanakan ibadah haji harus berasal dari harta yang baik dan halal. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah baik dan hanya menerima yang baik.” (HR Muslim)

Keempat: Menjauhi kemaksiatan

Maksud kemaksiatan disini mencakup larangan-larangan ihram dan maksiat secara umum, seperti tidak shalat pada waktunya secara berjamaah, ghibah, berdusta, mencukur janggut, memandang wanita ajnabiyyah (bukan istri atau mahram) atau gambarnya, atau seorang wanita tidak menutup auratnya secara sempurna, mendengarkan musik, termasuk juga menjauhi rokok karena merokok adalah perbuatan maksiat kepada Allah dan menyakiti orang di sekitarnya yang tidak merokok. Semua ini adalah kemaksiatan yang harus dijauhi ketika berhaji.

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

 “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan ibadah haji.” (QS. Al Baqarah: 197)

Semua kemaksiatan itu dapat mengurangi nilai haji seorang muslim dan dapat membuat hajinya menjadi tidak mabrur.

Termasuk perbuatan fasik yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berhaji adalah menyakiti orang lain karena berdesak-desakan, kasar kepada orang yang ada di sisinya ketika thawaf, sa’i, melempar jumrah dan yang lainnya.

Termasuk kepada perbuatan fasik yang akan menjadikan haji seseorang tidak mabrur adalah terus-menerus dalam kemaksiatan. Banyak orang yang berhaji ketika melaksanakan ibadah haji menjauhi segala kemaksiatan, akan tetapi dalam hatinya terdapat niat bahwa ia akan kembali melakukan kemaksiaan setelah ia melaksanakan hajinya. Seharusnya seorang muslim benar-benar memanfaatkan hajinya untuk bertobat kepada Allah dengan tobat yang nashuh; yaitu dengan meninggalkan segala dosa, menyesal dan bertekad untuk tidak kembali kepadanya, agar kemudian dengan izin Allah hajinya menjadi haji yang mabrur dan ia kembali dalam keadaan seperti pada hari pertama ia dilahirkan oleh ibunya.

Wallahu a’lam

(Disarikan dari “Syarh Umdah al Ahkaam” Kitab al Hajj wal Umrah, vol. 2 hal. 613-616)

Rnacabogo, Subang, Sabtu 14 September 2013

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: