Berdoa Dalam Tasyahhud Akhir

tasyahudDiantara doa yang disyariatkan dalam shalat adalah doa setelah tasyahhud akhir dan sebelum salam. Doa pada kondisi ini disyariatkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama[1]. Hukumnya adalah sunnah menurut pendapat yang lebih kuat[2]. Dalam hadis Ibnu Mas’ud tentang bacaan tasyahhud, pada akhir hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثم يتخير من الدعاء أعجبه إليه فيدعو

 “Kemudian hendaknya ia memilih dari doa yang paling ia senangi, lalu ia berdoa.” (muttafaq ‘alaih dan lafadz miliki Bukhari)[3]

Perselisihan Para Ulama dalam Jenis Do’a

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah jenis doa yang diperbolehkan pada kondisi ini.

Pendapat pertama, doa yang diperbolehkan adalah doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur`an saja. Ini pendapat Abu Hanifah, Thawus, Tsauri dan An-Nakha’i.[4]

Pendapat kedua, doa yang diperbolehkan adalah doa-doa yang maktsur baik dari Al-Qur`an atau dari Sunnah. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ungkapan ulama bermadzhab Hanafy dan sebagian dari ulama madzhab Hanbaly.[5] sebagian mereka memasukkan kepada doa maktsur dari kalangan salaf, sahabat dan tabi’iin.[6]

Pendapat ketiga, doa yang diperbolehkan adalah doa-doa yang berkaitan dengan perkara agama atau akhirat dengan lafadz yang maktsur atau pun tidak. Ini pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, dipilih oleh Abu Muhammad Al Juwainy dari ulama madzhab Syafi’i.[7] pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Sirin.[8]

Pendapat keempat, doa yang diperbolehkan adalah bersifat mutlak, baik maktsur atau tidak, baik berkaitan dengan urusan akhirat atau dunia. Ini pendapat Urwah, Malik dan Syafi’i.[9] Sebagian mereka mengatakan berdoa dengan doa yang maktsur hukumnya sunnah dan dengan yang tidak maktsur hukumnya mubah.[10]

Maksud doa yang berkaitan dengan urusan dunia adalah yang tidak terdapat dalam nash. Adapun yang terdapat dalam nash dari perkara dunia, ini bukan permasalahan yang diperselisihkan. Seperti rizki, kesehatan dan kesejahteraan. Yang dilarang oleh kelompok pendapat ketiga adalah rincian dalam kebutuhan-kebutuhan dunia, seperti makanan yang enak, istri yang cantik atau baju yang bagus.[11]

Kelompok pendapat pertama, kedua dan ketiga berdalil dengan hadis,

« إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَحِلُّ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ هَذَا إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ »

“Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada padanya sesuatu dari perkataan manusia, ia hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur`an.” (HR Muslim no. 537)

Menurut kelompok pendapat pertama “perkataan manusia” dalam lafadz diatas menunjukkan bahwa selain Al Qur’an tidak boleh diucapkan dalam shalat.

Kelompok pendapat yang kedua juga berdalil dengan hadis diatas dan mengatakan bahwa hadis Ibnu Mas’ud tentang memilih doa yang dikehendaki dibatasi pada doa-doa yang maktsur saja.[12]

Kelompok pendapat ketiga pun berdalil dengan hadis diatas dan mengatakan bahwa doa permintaan untuk urusan dunia menyerupai “perkataan manusia”.

Sementara kelompok pendapat keempat berdalil dengan keumumun hadis Ibnu Mas’ud diatas. Menurut mereka, doa tidak masuk ke dalam hadis tentang larangan memasukkan “perkataan manusia” dalam shalat. Karena yang dimaksud dengan perkataan manusia dalam hadis tersebut adalah khusus untuk perkataan manusia dalam bentuk takhâtub (saling berbicara) seperti menjawab salam dan menjawab orang bersin (tasymîth).[13]

Selain itu, mereka juga berdalil dengan syari’at memperbanyak doa pada saat sujud

وَأمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا في الدُّعَاءِ ، فَقَمِنٌ أنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, karena akan lebih dikabulkan untuk kalian.” (HR Muslim no. 1102)

Doa ini pun bersifat umum, mencakup segala bentuk doa, baik maktsur atau pun tidak, berkaitan dengan urusan akhirat atau dunia.

Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang paling kuat diantara pendapat yang ada sesuai dengan keumuman hadis Ibnu Mas’ud di atas.

Berdoa Dengan Bahasa Indonesia

Berdoa dengan bahasa Indonesia dalam shalat hukumnya boleh, jika seseorang tidak mampu berdoa dengan bahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata, “Dibolehkan berdoa dengan bahasa Arab atau selain bahasa Arab, Allah mengetahui maksud dari orang yang berdoa dan keinginannya,”[14]

Doa Maktsur

Berikut adalah diantara doa maktsur yang dapat dibaca dalam tasyahhud terakhir:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ , وَعَذَابِ النَّارِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah al masih dajjal.”[15]

اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيرَاً . وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أَنْتَ . فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ . وَارْحَمْنِي , إنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah untukku dengan ampunan yang ada di sisimu serta rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang.”[16]

أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنَ النَّارِ

“Aku meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.”[17]

 Dalam lafadz Muslim, “Jika salah seorang diantara kalian bertasyahhud, maka hendaknya ia berlindung kepada Allah dari empat perkara seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam..”

Untuk mengetahui doa-doa yang lain silahkan membaca buku Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.[18]

Wallahu a’lam.

Diselesaikan di Rancabogo, Subang 11 September 2013


[1] Lihat Fathul Baary, Ibnu Rajab, Vol. 6, hal 82

[2] Pendapat lain hukumnya wajib. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Hurairah, beliau pernah menyuruh anaknya untuk mengulangi shalat karena tidak memohon perlindungan dari empat perkara (azab jahannam, azab kubur, fitnah dajjal serta kehidupan dan kematian). Ini juga pendapat sebagian ahli zahir. [Lihat Al Badru Al Tamaam, vol. 3, hal. 148], sebagain ulama menisbatakan kisah ini kepada Thawus.

[3] Bukhari no: 835, Muslim no: 924, dan dalam riwayat-riwayat yang lain terdapat lafadz-lafadz lain yang semakna, lihat Fathul Baary, Ibnu Hajar (

[4] Fathul Baary, Ibnu Rajab (6/82), Al Mughny (2/234), Al Badru Al Tamaam (3/189)

[5] Al Mughny (2/237), Al Majmuu’ (3/454)

[6] Al Mughny (2/236)

[7] Fathul Baary, Ibnu Rajab (6/82)

[8] Fathul Baary, Ibnu Hajar (2/321)

[9] Fathul Baary, Ibnu Rajab (6/82), Al Majmuu’ (3/451)

[10] Mughnil Muhtaaj (1/272)

[11] Fathul Baary, Ibnu Rajab (6/82), Al Majmuu’ (3/451)

[12] Al Mughny (2/236)

[13] Al Majmuu’ (3/454)

[14] Majmu’ al Fatawa: 22/488

[15]

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : (( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَدْعُو : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ , وَعَذَابِ النَّارِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ )) .

 

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ : (( إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ , يَقُولُ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah al masih dajjal.” (HR Bukhari Muslim)

[16]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنهم أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: (( عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلاتِي . قَالَ : قُلْ : اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيرَاً . وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أَنْتَ . فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ . وَارْحَمْنِي , إنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ )) .

Dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ajarkan lah kepadaku sebuah doa dala shalatku.” Beliau bersabda, “Katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah untukku dengan ampunan yang ada di sisimu serta rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang.” (HR Bukhari Muslim)

[17]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِرَجُلٍ « مَا تَقُولُ فِى الصَّلاَةِ ». قَالَ أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنَ النَّارِ أَمَا وَاللَّهِ مَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ. فَقَالَ « حَوْلَهُمَا نُدَنْدِنُ »

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, “Apa yang engkau baca dalam shalat?”, ia berkata, “Aku bertasyahhud, kemudian aku meminta kepada Allah surga dan berlindung dari apa neraka. Demi Allah, adapun saya tidak mengerti bacaan engkau dan bacaan Mu’adz yang pelan.” Beliau bersabda, “Sekitar keduanya (meminta surga dan berlindung dari neraka) bacaan kami.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dengan sanad yang shahih. Lihat Shifatu shalati An Naby, hal. 161)

[18] Shifatu Shalati An Naby shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 159-163

Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. izin meng copy, terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: