Adil Kepada Anak-Anak Dalam Bergaul, Pemberian dan Nafkah

adil terhadap anakOleh: Syaikh Abdulaziz Ath Tharify hafidzahullah

• Adil dalam pemberian dan hadiah antara anak-anak hukumnya wajib, baik kepada anak laki-laki atau perempuan. Namun adil tidak mesti serupa. Boleh, jika anak wanita diberikan hadiah gelang emas, dan anak laki-laki diberikan hadiah pena atau jam tangan senilai gelang tersebut.

• Dalam syariat terdapat perintah untuk berlaku adil terhadap anak-anak dalam soal pemberian (hibah), “Adilllah terhadap anak-anak kalian dalam hal pemberian.” Adapun nafkah, yang wajib adalah memenuhi kebutuhan, walau pun berbeda dari sisi nilainya.

• Memberi hadiah kepada anak-anak wajib disetarakan baik laki-laki atau wanita menurut pendapat yang shahih sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis, “Apakah setiap anakmu engkau hadiahi dengan seperti ini?”

• Memberi nafkah kepada anak-anak tidak diharuskan sama dalam nilai antara nafkah anak laki-laki dan perempuan. Karena pakaian anak perempuan lebih mahal dari pakaian anak laki-laki, nafkah kepada anak yang besar lebih banyak dari anak yang kecil. Maka membedakannya pun boleh.

• Adil kepada anak-anak wajib hingga dalam hal yang kecil seperti mencium dan bersenda gurau dengan mereka. Ibrahim an Nakha’i mengatakan, “Mereka dahulu menyukai untuk adil terhadap anak-anak mereka hingga dalam urusan mencium.”

• Valid dari Hasan bahwa ia berkata, “Ada seorang laki-laki disisi Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, laki-laki itu kemudian meletakkan anaknya di paha sebelah kanannya. Lalu datang lagi anaknya yang lain dan ia meletakkannya di bawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa tidak engkau samakan saja mereka berdua engkau letakkan di pahamu.” Umar bin Abdulaziz berkata kepada anak yang dicintainya sambil mendekapnya, “Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, namun aku tidak bisa melebihkanmu atas saudaramu walaupun hanya dengan satu suap.”

Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. hamzah

     /  September 10, 2013

    bismillaah,,,assalamu alaykum,,,afwan apakah perkataan ini benar “kehidupan ini harus dijalani tidak berlebih-lebihan alias seimbang,utamanya pendidikan dunia maupun pendidikan akhirat harus balance”

    sedangkan kita akan keakhirat yg kekal dan abadi,,tolong penjelasan ustadz,syukron,,barokallahu fiik

    Balas
    • Wa’alaikumussalam warahmatullah,, setiap muslim wajib mempelajari ilmu agama yang berkaitan dengan kewajibannya kepada Allah, selebihnya dari itu, hukum mempelajarinya fardhu kifayah. dan bagi setiap muslim, pendidikan dunia dan aktifitas dunia yang bermanfaat lainnya harus diniatkan untuk akhirat, bukan sekedar mencari kesenangan dunia. wallahu a’lam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: