Poin-Poin Nasehat Syaikh Sa’ad bin Nashir al Syitsry hafidzahullah Bagi Penuntut Ilmu

NasehatNasehat ini disampaikan oleh Syaikh di rumah beliau, dalam acara penutupan dauroh selama lima hari dengan materi (1) Penjelasan kitab “Al Muharrar” dalam bidang fikih Karya Majduddin Ibnu Taimiyah (fiqhul ibadat) dan (2) Penjelasan kitab “Adh Dahruri” dalam bidang ushul fikih karya Ibnu Rusyd. Keduanya merupakan referensi penting dalam dua bidang ilmu ini dari dua orang alim yang berpengaruh. Berikut adalah diantara poin nasehat beliau:

  • Bersyukur atas nikmat ini. Karena mempelajari ilmu adalah bagian dari ibadah yang selayaknya disyukuri ketika kita mampu melaksanakannya. Terdapat dalam sebuah hadis, “Dua kebahagiaan bagi orang yang melaksanakan shaum; kebahagian saat berhari raya, dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabbnya.” Mengapa orang yang telah melaksanakan shaum berbahagia ketika mereka selesai melaksanakannya? Apakah mereka tidak menyukai ibadah shaum? Bukan, akan tetapi karena mereka telah menyempurnakan salah satu ibadah kepada Allah.
  • Berusaha menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada dengan memberbanyak istighfar dan tobat. Karena seorang hamba, pasti memiliki banyak kekurangan. Ia memiliki kekurangan, karena ia tidak menggunakan seluruh waktunya di dalam beribadah kepada Allah. Ia memiliki kekurangan, karena ia belum mampu beramal yang dapat mengimbangi seluruh nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Ia juga memiliki kekurangan, karena amal-amal yang ia tunaikan pun masih banyak kekurangan di sana sini.
  • Hendaknya selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap waktu. Oleh karena itu, wasiat untuk antum sekalian, agar antum senantiasa mengisi hidup antum dengan dzikir kepada Allah. Setidaknya ada dua faidah dzikir bagi penuntut ilmu: (1) Allah akan mengingat kita jika kita senantiasa mengingat Allah –fadzkuruunii adzkurkum– maka taufiq kepada ilmu diantara sebab terbesarnya adalah memperbanyak dzikrullah. (2) Dzikir dapat mengusir setan yang selalu menghalangi hati kita untuk memahami ilmu, memahami al Qur`an dan sunnah.
  • Jika kita memperhatikan teks-teks syar’i yang pertama kali turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada permulaan kenabian, kita akan mendapati bahwa diantara wahyu yang pertama turun adalah surat al muzammil, yang melatih manusia untuk dzikrullah dan untuk memperbanyak shalat malam. Dengan itu semua, maka jiwa menjadi bersih dan siap untuk menyerap ilmu.
  • Begitu juga diantara surat yang pertama turun adalah surat al muddatstsir. Surat al muddatstsir memiliki beberapa pelajaran. Yang terpentingnya adalah pelajaran untuk menyampaikan risalah kepada semua orang. Kita mungkin punya sedikit ilmu, namun ilmu itu sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, ketika datang rombongan Malik bin al Huwairits kepada Nabi, mereka hanya tinggal bersama Nabi beberapa waktu saja. Mereka menuturkan, “Kami datang kepada Nabi dan kami adalam para pemuda. Kami tinggal beberapa malam, ketika beliau melihat kami telah rindu kepada keluarga kami, beliau memerintahkan, “kembalilah kepada keluarga kalian, perintahkanlah kepada mereka shalat ini pada waktu ini dan shalat ini pada waktu ini. Ajarkanlah kepada mereka. Hendaknya salah seorang diantara kalian mengumandangkan azan dan yang paling tua diantara kalian menjadi imam.” Nabi mengajarkan kepada mereka beberapa aturan yang harus mereka lakukan. Padahal mereka tidak tinggal bersama nabi melainkan hanya beberapa malam saja. Oleh karena itu, diantara perkara yang penting, seharusnya bagi seseorang bersemangat untuk menyampaikan ilmu yang telah ia dapatkan.
  • Gunakan waktu dengan baik. Siapapun orang yang memperhatikan kondisi ummat saat ini, banyak dari mereka sibuk dengan perkara yang tidak bermanfaat, mereka hanya sibuk dengan urusan dunia mereka, atau sibuk dengan kabar-kabar orang lain yang tidak mengangkat derajat mereka baik di dunia atau di akhirat. Mereka juga menghambur-hamburkan waktu yang sebetulnya mereka butuhkan untuk melakukan perkara yang bermanfaat untuk mereka.
  • Diantara pelajaran dari surat al muddatsir juga adalah, bahwa surat ini mengisyaratkan tentang pentingnya tauhid, pentingnya kebersihan dan kesucian. Suci yang dimaksud dari beberapa hal:
  1. Suci dari syirik, dengan cara menjadikan iradah dan niat hanya untuk Allah saja. Semakin kita mampu menjadikan hidup kita untuk Allah, maka kian sucilah hati kita. Allah akan mudahkan bagimu ilmu dan pengajaran.
  2. Mensucikannya dari harta yang haram. Karena harta yang buruk akan merusak pemahaman manusia dan menjauhkan barokah dari hartanya. Sedikit yang berkah dan bermanfaat lebih baik daripada banyak yang tidak berkah dan bermanfaat.
  3. Mensucikan diri dari sifat dengki dan hasad. Ini bukan sifat penutut ilmu. Orang beriman ketika ia sampai kepada derajat yang tinggi, maka ia pun menginginkan orang lain agar mencapai derajat yang tinggi pula seperti dirinya.
  4. Mensucikan lisan dari kata-kata yang tidak baik dan tidak bermanfaat.
  5. Mensucikan anggota badan dari perbuatan dosa dan tidak bermanfaat, diantaranya menjauhkan pendengaran dan penglihatan dari perkara yang diharamkan yang akan merusak hati dan pemahaman.
  • Wajib bagi kita untuk bekerjasama dan saling menasehati dalam kebaikan, untuk menjauhkan segala perkara yang akan merusak hubungan persaudaraan.

Mudah-Mudahan kita bisa menyerap dan menerapkan nasehat berharga ini.

Wallahu a’lam wa Shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Abu Khalid Resa Gunarsa

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: