Urgensi Akidah Islam

العقيدة الاسلاميةAkidah adalah pokok ajaran Islam. Diatasnya agama Islam dibangun. Kedudukannya sangat strategis, fungsinya sangat penting dan keutamaannya sangat tinggi. Oleh karena itu, akidah adalah masalah krusial untuk kehidupan beragama seorang muslim. Mempelajarinya, mengamalkannya, mendakwahkannya serta sabar di atas jalannya adalah prioritas utama. Berikut adalah beberapa alasan mengapa akidah demikian penting bagi kehidupan beragama kita.

Syarat Pokok Sahnya Amal Kebaikan

Amal ibadah, ketaatan, kebaikan dan kemaslahatan harus dibangun diatas akidah yang benar. Jika amal-amal kebaikan itu tidak didasarkan pada akidah, maka kebaikan-kebaikan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagi pelakunya. Amal yang besar, banyak dan dilakukan dengan susah payah itu kelak tidak akan mendatangkan hasil apa-apa selama orang yang melakukannya tidak memiliki akidah yang lurus.

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.” (QS At Taubah [9]: 54)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23)

Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia, amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman.

Dakwah Seluruh Para Nabi

Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah kepada ummat manusia membawa misi akidah, yaitu tauhidullah. Mereka mengajak umat manusia untuk menyembah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan apa pun. Ini lah inti dari ajaran para nabi. Tidak seorang pun diantara mereka yang tidak mengajak kaumnya untuk membangun akidah dan memurnikan tauhid. Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib menyeru kepada kaumnya,

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raf [7]: 59, 65, 73, 85 dan QS. Hud [11]: 50, 61, 84)

Fokus Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rentang perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 23 tahun. Tigabelas tahun pertamanya beliau fokuskan kepada seruan untuk meluruskan akidah di kota Mekah. Hanya syariat shalat saja yang diwajibkan kepada Rasulullah dan kaum muslimin ketika itu, tepatnya tiga tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah dalam peristiwa isra mi`raj. Syariat-syariat yang lain berikutnya turun di Madinah.

Tentu sejarah perjuangan dakwah Rasulullah ini membawa pelajaran berharga. Diantaranya adalah soal urgensi akidah bagi kehidupan beragama seorang muslim dan pentingnya menjadikan akidah sebagai prioritas utama dalam berdakwah kepada Islam.

Akidah adalah Fitrah

Seluruh manusia diciptakan oleh Allah dengan akidah yang lurus. Fitrah suci itu ada dalam hati setiap anak Adam dari sejak ia Allah ciptakan. Ada yang bertahan, namun ada yang berubah seiiring dengan perjalanan kehidupannya yang dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, baik lingkungan atau setan yang berusaha membuatnya menyimpang dari fitrah tersebut.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan),” (QS. Al A’raaf [7]: 172)

Allah berfirman dalam hadis Qudsi:

وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus, namun kemudian mereka didatangi setan-setan, sehingga setan-setan itu menggelincirkan mereka dari agama mereka.” (HR Muslim)

« مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ » . ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه ( فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ )

Tidak lah bayi yang terlahir melainkan ia terlahir diatas fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti hewan yang melahirkan anaknya dengan sempurna, apakah kalian melihat padanya kecacatan berupa telinganya yang terputus?” kemudian Abu Hurairah (perawi hadis ini) menyitir firman Allah (yang artinya):

“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus.” (QS. Ar Ruum [30]: 30) (HR Bukhari Muslim)

Pertanggungjawaban di Akhirat

Pertanggungjawaban yang kelak akan diminta oleh Allah dari setiap manusia juga berkaitan dengan akidah yang ada dalam hatinya. Sesaat setelah seseorang mati dan dikubur pun, pertanyaan pertama yang kelak akan ditanyakan oleh malaikat yang mendatanginya juga berkaitan dengan akidah; siapa Tuhanmu? Siapa nabimu dan apa agama?

Di akhirat, orang-orang yang memiliki akidah yang benarlah yang akan selamat.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’aaraa [26]: 88-89)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah harta seseorang tidak akan melindunginya dari azab Allah, walaupun ia menebusnya dengan kekayaan sepenuh bumi. Walau pun ia menebusnya juga dengan semua orang yang ada di bumi. Yang berguna untuknya pada hari itu adalah iman kepada Allah, pemurnian agama untuk-Nya dan berlepas diri dari syirik. Oleh karena itu Allah berfirman (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” maksudnya adalah bersih dari kotoran dan syirik.” (Tafsir al Qur`an al ‘Adziim: 6/149)

Allah juga berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari dinampakkan segala rahasia,” (QS. Ath Thariq [89]: 9)

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ

“Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,” (QS. Al ‘Aadhiyaat [100]: 10)

Dua ayat ini juga menunjukkan bahwa kelak di akhirat pertanggungjawab yang akan diminta oleh Allah dari hamba-hamba-Nya terkait dengan apa yang ada dalam dada, yang bersifat rahasia. Dan yang dimaksud adalah akidah.

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.

Rancabogo, Subang, 18 April 2013/7 Jumadist Tsani 1434 H

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: