Agar Ibadah Kita Diterima

Ibadah adalah persoalan yang menyangkut kebahagian hidup kita, baik di dunia, terutama di akhirat. Ia adalah tujuan kita diciptakan, langit dan bumi diadakan, serta karunia dan nikmat-nikmat-Nya ditebarkan. Sungguh rugi dan tersesat jauh orang yang melalui setiap detik waktunya tanpa nilai ibadah di sisi Penciptanya. Dan beruntunglah orang yang benar-benar menjaga dengan teguh prinsip hidupnya sebagai hamba Allah yang mengisi setiap jengkal perbuatannya dengan ibadah dan ketaatan.

Dalam kaitan ibadah yang sangat agung ini, ada sebuah aksioma yang juga sangat penting untuk kita perhatikan, yaitu; jika ibadah merupakan perintah Allah, maka ibadah yang kita lakukan harus sesuai dengan aturan-aturan-Nya; agar kemudian ibadah itu bernilai pahala, berbuah kebaikan, mendatangkan manfaat dan dicatat sebagai amal shaleh. Berikut ini adalah ringkasan tentang dasar-dasar, pokok-pokok atau aturan-aturan yang harus kita perhatikan dalam aktifitas ibadah kita:

Ibadah Bersifat Tauqifiyyah

Tauqifiyyah maknanya adalah bahwa penetapan ibadah harus bersumber dari pembuat syariat, yaitu Allah subahanahu wa ta’ala. Sebuah perbuatan tidak sah disebut ibadah jika didasarkan kepada selain petunjuk Allah berupa pendapat pribadi, intuisi, mimpi atau pemikiran kiayi. Allah berfirman kepada nabi-Nya:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا

 “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Hud [11]: 112)

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al Jatsiah [45]: 18)

Ibadah Harus Bersih dari Noda Syirik

Allah sangat tidak suka jika manusia yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya mencampuri ibadah itu dengan syirik atau ibadah kepada selain Allah; beribadah kepada Allah, namun beribadah juga kepada selain Allah, shalat untuk Allah, zakat untuk Allah, shaum untuk Allah, haji untuk Allah, sujud dan rukuk untuk Allah, istighfar untuk Allah, namun menyembelih untuk selain Allah misalnya. Atau meminta kesembuhan kepada penghuni kubur keramat dan seterusnya. Ini adalah diantara bentuk mencampuradukkan antara ibadah kepada Allah dengan kesyirikan. Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi [18]: 110)

Jika ibadah dicampuri satu jenis saja kesyirikan, maka akibatnya adalah semua ibadah yang telah dilakukan menjadi hancur tidak tersisa.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am [6]: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar [69]: 65-66)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Teladan dan Penjelas

Adalah diantara bentuk rahmat dan hikmah Allah, ketika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, Allah pun mengutus seorang diantara kita untuk menjadi teladan nyata dan penafsir maksud-maksud yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Utusan Allah itu mutlak harus dipatuhi dan dijadikan contoh dalam beribadah kepada-Nya. Jika tidak, maka ibadah kita akan tertolak!

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al Ahzab [33]: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal dengan sebuah amalan yang bukan bagian dari urusan kami, maka ia tertolak.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain, “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)

Sabdanya, “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaq ‘alaih). Sabdanya, “Ambillah dariku tatacara manasik haji kalian.” (HR Muslim)

Semua dalil diatas menunjukkan wajibnya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak selainnya.

Beribadah dengan Waktu dan Ketentuan yang Telah Ditetapkan

Jika sebuah ibadah memiliki waktu pelaksanaan tertentu, atau tempat tertentu dan ketentuan-ketentuan yang lainnya, maka kita tidak boleh melaksanakan ibadah itu diluar ketentuan yang telah ditetapkan. Seperti shalat misalnya. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa [4]: 103)

Haji:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al Baqarah [2]: 197)

Shaum:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Albaqarah [2]: 185)

Ibadah Dibangun Diatas Dasar Cinta, Merendahkan Diri, Takut dan Berharap kepada Allah

Cinta dan merendahkan diri, takut dan berharap adalah unsur-unsur perasaan yang harus ada ketika kita beribadah kepada Allah. Ketika shalat misalnya, maka shalat itu kita laksanakan atas dasar karena kita mencintai Allah, merendahkan diri dihadapan-Nya, takut terhadap kemurkaan dan azab-Nya dan berharap pahala yang ada ada disisi berupa kenikmatan akhirat. Tidak boleh timpang; beribadah hanya dengan mengandalkan satu unsur perasaan saja. Beribadah karena takut saja, karena berharap saja atau karena cinta saja tidak akan menghasilkan ibadah yang benar. Allah berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra [17]: 57)

Allah berfirman tentang nabi-nabi-Nya:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al Anbiya [21]: 90)

Beribadah Sampai Ajal Menjemput

Tidak ada batas waktu dalam beribadah kepada Allah kecuali waktu kematian yang telah Allah tetapkan. Ibadah hanya berakhir dengan berakhirnya hidup kita di dunia ini. Dari sejak kita mencapai umur baligh, sampai kita menyelesaikan jatah umur kita. Selama hayat masih dikandung badan, kita dibebani kewajiban untuk beribadah. Allah berifirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 102)

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al Hijr [15]: 99)

Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan tugas ibadah yang Allah bebankan kepada kita di dunia dengan baik, sesuai dengan yang dikehendaki-Nya dan dijauhkan dari amalan-amalan ibadah yang tertolak.

Wallahu waliyyut taufiiq, wal qaadiru ‘alaihi, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Abu Khalid Resa Gunarsa

Riyadh, 14 Rajab 1433 H/5 Juni 2012 M

*Materi ilmiah dalam tulisan ini diinspirasi oleh khutbah jum’at oleh Syaikhuna Syaikh Shaleh bin Fauzan al Fauzan hafidzahullah dalam “al Khutab al Minbariyyah” 2/247-248, cet. Muassasah al Risalah)

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: