Etika Menasehati

Nasehat, kritik membangun atau inkar munkar adalah bagian terpenting dalam agama. Hingga Rasulullah menyatakan, “Agama itu adalah nasehat.” Agama tidak akan tegak tanpa nasehat. Sebagian salaf mengatakan, “Tidak akan mendapatkan kebahagian orang yang tidak mencintai nasehat.” Namun, nasehat yang dapat berbuah kebaikan tentu saja adalah nasehat yang lakukan dengan memperhatikan etika di dalamnya. Diantaranya adalah:

  1. Tulus dan ikhlas

Untuk menelisik sejauh mana ketulusan kita dalam menasehati orang lain, maka telitilah dengan cermat motivasi kita sesungguhnya pada saat memberi nasehat. Untuk menguji ketulusan dalam menasehati, kita dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri:

–  Apakah kita mencintai orang yang kita nasehati itu?

–  Apakah kita berharap ada orang lain selain kita yang menyampaikan nasehat itu?

–  Apakah kita bersedih perbuatan buruk itu dilakukan oleh orang yang ingin kita nesehati atau justru kita senang?

–  Apakah kita sangat berharap bahwa nasehat itu dilakukan secara tersembunyi antara kita dan dia, akan tetapi kita tidak memiliki jalan lain selain menasehatinya secara terang-terangan?

–  Jika perbuatan buruk itu dilakukan oleh orang yang paling kita cintai, apakah kita akan melakukan nasehat dengan cara yang sama atau tidak?

  1. Menunjukkan simpati dan kasih sayang dengan kata-kata yang baik. Misalnya dengan menggunakan panggilan-panggilan yang baik seperti, “akhil kariim” atau yang lainnya.
  1. Mengedepankan husnudz dzann. Wajib bagi kita ketika mendapati sesuatu yang kita pandang keliru terjadi para orang lain, mencari uzur terlebih dahulu dan berbaik sangka. Jangan sampai kita tergesa-gesa dalam mengingkari, sehingga mengingkari sesuatu yang tidak harus diingkari.
  1. Mengetahui dengan baik permasalahan yang akan kita inkari. Agar kita dapat mengukur bagaimana seharusnya kita bersikap dalam mengingkari, sehingga tidak berlebihan dan kita terjatuh kepada perbuatan zalim. Karena kesalahan dan dosa bertingkat-tingkat.
  1. Menyesuaikan nasehat sesuai dengan orang yang diberi nasehat dari sisi umur, status sosial dan yang lainnya. Karena setiap orang harus diperlakukan sesuai kedudukannya.

Wallahu ‘alam

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: