Beribadah dengan Nama dan Sifat Allah

Mengenalkan Allah dengan nama dan sifat-Nya yang agung adalah diantara tugas para rasul utusan Allah agar manusia mengetahui pencipta, pemberi rizki dan sembahannya yang hak. Dengan pengetahuan itu selanjutnya manusia akan menyadari kebesaran penciptanya sehingga ia memposisikan Allah sesuai kedudukan-Nya yang tinggi, mengagungkan-Nya sesuai keagungan yang Allah miliki, mensucikan-Nya dan menyembah-Nya dengan sungguh-sungguh dan benar

Mengimani nama dan sifat Allah akan benar dan sempurna jika disertai dengan tiga sikap:

Pertama, mensucikan Allah tanpa penyerupaan dengan makhluk. Allah berfirman:

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

 Kedua, tidak berambisi mengetahui hakikat kaifiyatnya, karena itu sesuatu yang mustahil. Ini sesuai dengan firman Allah.

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”  (QS. Thaha: 110)

Ketiga, mengimaninya sesuai dengan apa yang tertera dalam Al-Quran dan sunnah shahihah.

Aktifitas beribadah kepada Allah yang disertai penghayatan terhadap makna yang dikandung dalam nama dan sifat Allah merupakan kesempurnaan ibadah yang diharapkan. Mengimani nama dan sifat Allah seperti yang dilakukan oleh salafussaleh adalah meliputi pemahaman, sekaligus amal yang terwujud saat meyakini bahwa setiap nama Allah adalah bagian dari bentuk penyembahan manusia kepada Allah azza wa jalla. Manusia menyembah Allah dengan setiap nama itu.

Ibnul Qayyim –rahimahullah– menjelaskan, “Setiap nama bagi Allah itu adalah ibadah yang sejati, baik dalam hal ilmu, pengetahuan dan kondisinya. Manusia yang paling sempurna dalam beribadah adalah manusia yang mampu beribadah kepada Allah dengan menghadirkan seluruh nama dan sifat Allah yang setiap manusia mampu merasakannya. Satu nama dengan nama yang lain tidak saling menghalangi. Inilah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang berusaha menuju Allah.” Jalan inilah yang terdapat dalam Al-Quran.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Araf: 180)

Doa yang disebutkan dalam ayat ini mencakup doa permintaan, doa pujian dan doa ibadah. Maka, dalam ayat ini, Allah mengajak hamba-hamba-Nya untuk mengenal Allah dengan nama dan sifat-Nya, memuji dengan nama dan sifat-Nya dan beribadah pula dengan nama dan sifat-Nya.

Dengan demikian, nama dan sifat Allah sangat berpengaruh pada aktifitas ibadah seorang hamba. Baik ibadah hati, lisan atau anggota badan. Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba terhadap Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka semakin besar keinginannya untuk beribadah kepada Allah.

Ibnu Katsir –rahimahullah-, ketika menafsirkan ayat Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28), beliau berkata, “Artinya, sesungguhnya orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benar rasa takut adalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena jika terdapat pada seseorang pengetahuan tentang Allah Yang Mahaagung dan Mahamengetahui, Yang disifati dengan sifat-sifat sempurna dan nama-nama yang baik (asmaul husna), dan jika pengetahuan itu semakin sempurna, maka rasa takut itu akan semakin besar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/553)

Misalnya, Jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya yang mendatangkan bahaya dan mematikan, ia akan mampu memunculkan  perasaan tawakal dan bersikap sesuai dengan nilai tawakal. Itulah ibadah tawakal, buah dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah.

Seorang hamba yang memiliki ilmu bahwa Allah maha mendengar, tidak ada apapun yang tersembunyi dari Allah, baik yang ada di langit atau di bumi, Allah mengetahui khianat mata dan apa yang tersembunyi dalam hati manusia, ia akan mampu menjaga lisannya, anggota badannya dan lintasan-lintasan niat dalam hatinya dari segala hal yang tidak Allah ridhai. Sebaliknya, semua itu akan ia usahakan untuk berada dalam koridor yang akan mendatangkan cinta dan keridhoan Allah.

Mengetahui Allah Mahakaya, Mahapemberi, Mahabaik, Mahapengasih dan penyayang akan melahirkan harapan yang luas dalam hati dan berbagai macam perasaan yang bernilai ibadah sehingga mendorongnya untuk beramal. Dan ini sesuai dengan pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya.

Begitu juga mengetahui keperkasaan Allah, keagungan dan kemulian-Nya, akan memunculkan ketundukan dan cinta. Kondisi hati yang dipenuhi semua perasaan itu merefleksikan ibadah dalam bentuk amal-amal anggota badan. Semua bentuk peribadahan itu kembali kepada tuntutan nama dan sifat Allah. Ibadah sangat terkait erat dengan nama dan sifat Allah. Sebagaimana juga penciptaan sangat erat dengan nama dan sifat Allah. Semua penciptaan dan perintah Allah adalah konsekwensi dan wujud yang berasal dari makna nama dan sifat Allah.

Jelaslah bahwa mengimani tauhid nama dan sifat Allah tidak hanya sebatas mengetahuinya dalam akal. Akan tetapi juga memahaminya sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia, baik dari segi lafadz atau maknanya. Kemudian beribadah dengannya dan beramal sesuai dengan penghayatan terhadap makna-maknanya. Oleh karena itu, kita harus mengenalnya dan mempelajari makna-maknanya agar kita bisa beribadah dengan cara yang benar.

Sebaliknya, jangan sampai termasuk orang-orang yang melakukan ilhad (pengingkaran) atas nama dan sifat Allah.

Syaikh Shaleh Al-Fauzan –hafidzahullah– berkata, “Ilhad secara bahasa adalah mail wal ‘uduul ‘anis syai`, cenderung dan condong dari sesuatu. Ilhad atas nama dan sifat Allah berarti cenderung dan condong dari hakikat-hakikatnya dan makna-maknanya yang benar kepada yang batil. ilhad dalam nama dan sifat Allah ada beberapa macam:

1. Menamai berhala-berhala dengannya. Seperti orang-orang musyrik menamai berhala-berhala mereka dengan al-Lata yang berasal dari Al-Ilaah (Yang berhak disembah), al-Uzza yang berasal dari Al-‘Aziz (Mahaperkasa) dan al-Manat yang berasal dari Al-Mannan (Mahapemberi nikmat).

2. Menamai Allah dengan nama yang tidak layak bagi-Nya. Seperti orang-orang Nashrani yang menamai Allah denga bapak. Atau para filusuf yang menamai Allah dengan muujib atau illah faa’ilah.

3. Mensifati Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat kurang. Seperti perkataan orang-orang Yahudi, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Atau perkataan mereka, “Tangan Allah terbelenggu.” Mereka juga berkata bahwa Allah beristirahat pada hari sabtu –Allah Mahatinggi dari semua yang mereka katakan.

4. Menentang makna dan hakikatnya. Seperti perkataan sekte Jahmiyyah, “Bahwa nama-nama Allah adalah kosong, tidak mengandung sifat dan makna. Maka nama As-Samii’ tidak menunjukkan sifat mendengar, nama Al-Bashiir tidak menunjukkan sifat melihat, nama Al-Hayyu tidak menunjukkan sifat hidup dan seterusnya.

5. Menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Seperti perkataan ahli tamtsil, “Tangan Allah seperti tangan saya.” Dan perkataan-perkataan yang lainnya.

Dalam ayat di atas, Allah mengancam orang-orang yang melakukan ilhad terhadap nama dan sifat Allah bahwa mereka akan dibalas karena apa yang mereka lakukan. (Syarh Al-Aqidah Al-Washithiyyah, hal. 16-17)

Beribadah kepada Allah melalui nama dan sifat-Nya juga merupakan sumber kebahagian. Orang yang hatinya dipenuhi dengan ilmu dan pengetahuan tentang Allah adalah orang yang paling bahagia. Sebagian Salaf berkata, “Orang-orang miskin di kalangan ahli dunia, mereka mati dalam keadaan tidak mengecap sesuatu yang paling lezat yang ada padanya.” Kemudian ditanya, “Apakah sesuatu yang paling lezat itu?” Ia berkata, “Mengenal Allah, mencintai-Nya, merasakan keintiman dengan-Nya dan rindu pada pertemuan dengan-Nya.”

Ibnul Qayyim –rahimahulllah– juga berkata, “Menuju Allah melalui jalan nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah perkara yang sangat menakjubkan. Orang yang menjalaninya akan mendapat kebahagiaan walaupun ia sedang berbaring di tempat tidurnya, tanpa rasa capek dan lelah, tanpa meninggalkan tempat tinggal dan rumahnya.” (Thariq Al-Hijratain, Fiqh al-Asma wa as-Shifat, hal. 21)

Wallahu ‘alam bis-Shawab

 Riyadh, Al Batha 18 Jumadist Tsani 1433 H

Abu Khalid Resa Gunarsa

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: