Memahami Manhaj Salafussaleh

Bismillah, walhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala nabiyyinaa muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du:

Salafussaleh adalah generasi umat Islam paling awal yang mendapat rekomendasi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia terbaik. Manhaj beragama mereka adalah inspirasi, serta referensi yang kredibel bagi kehidupan beragama umat Islam setelah mereka. Memahami Alquran dan Sunnah tidak boleh dilepaskan dari pemahaman mereka. Kredo atau keyakinan mereka tentang akidah Islam harus pula menjadi keyakinan umat Islam setelah mereka. Mereka adalah tauladan nyata bagaimana mengamalkan Alquran dan Sunnah dengan baik dan benar.

Kesadaran tentang pentingnya menjadi seorang muslim yang membawa visi mereka, sebagai wujud pengamalan Alquran dan Sunnah yang baik tadi, saat ini tengah nampak menjadi fenomena yang menggembirakan. Kajian-kajian ilmu yang mengusung dakwah salaf ramai diselenggarakan di berbagai daerah. Markaz-markaz dakwah banyak bermunculan dan para penuntut ilmu bertebaran di pusat-pusat dakwah, baik di dalam dan luar negeri.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa satu diantara sekian banyak prinsip yang harus senantiasa dijunjung tinggi oleh siapa pun yang ingin mengusung manhaj salaf adalah, bahwa ilmu dan pemahaman yang baik adalah modal utama dalam keyakinan dan amal perbuatan. Seorang salafy tidak dibenarkan meyakini sesuatu, atau mengamalkan suatu amalan di dalam agama ini tanpa didasari oleh ilmu dan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, seorang salafy harus sadar betul, bahwa tradisi ilmiah yang kuat, pada tahap selanjutnya sangat menentukan tradisi amaliah yang kondusif dan dapat dinyatakan benar. Hingga sangat terkenal perkataan Imam Bukhari, “Ilmu sebelum berkata dan berbuat.”

Termasuk dalam bagian yang harus didasari oleh ilmu dan pemahaman yang benar adalah memahami manhaj salaf itu sendiri. Kapan sebuah keyakinan atau amalan dapat dikatakan sebagai manhaj salaf? dan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam ranah publik? Hal ini juga penting untuk dibicarakan dalam kerangka rambu-rambu dan aturan-aturan yang mesti difahami, mengingat seiring dengan maraknya kesadaran untuk mengikuti manhaj salaf, ternyata juga tidak jarang sikap-sikap keliru yang dilakukan atas nama manhaj salaf bermunculan mengotori kebersihan prinsip manhaj salaf itu sendiri.

Berikut adalah beberapa nukilan yang penulis sarikan dari sebuah pembahasan buku berjudul, “Fiqhu al radd ‘ala al mukhaalif” beserta “mukhtashar” nya, karya Syaikh DR. Khalid bin Utsman As Sabt[1] -semoga Allah menjaganya-

Rambu-Rambu Memahami (fikih) Perkataan salaf dan Riwayat-Riwayat yang Dinukil dari Mereka.

  1. Ketahuilah bahwa hujjah (yang dapat dijadikan dalil) adalah Kitabullah, Sunnah Rasulullah dan Ijma (konsesus) umat. Begitu juga perkataan sahabat yang bukan ranah ijtihad, yang tidak diketahui ada perkataan yang bertentangan dengannya.
  2.  Apa yang datang dari mereka yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah maka tidak ada pertentangan lagi untuk diterima, walaupun pada asalnya yang diikuti adalah Alquran dan Sunnah.
  3. Apa yang datang dari mereka dan menyelisihi Alquran dan Sunnah maka harus ditolak. Dan bukan berarti hal itu menjatuhkan kedudukan yang mengatakannya, akan tetapi karena setiap orang dapat diambil perkataannya dan dapat pula ditolak kecuali al maksum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Melakukan istiqra (penelitian secara menyeluruh) terhadap seluruh perkataan dan tindakan mereka dan melakukan perbandingan antara seluruhnya. Diantara metode yang harus dijadikan pedoman dalam memahami manhaj salaf adalah melakukan penelitian secara utuh dan menyeluruh terhadap semua perkataan dan tindakan mereka, kemudian melakukan perbandingan antara semua itu. Barulah setelah itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manhaj salaf adalah demikian dan demikian. Adapun jika kita hanya mengambil satu atau dua, atau sebagian dari perkataan dan tindakan mereka, kemudian kita menyimpulkan darinya bahwa ia adalah manhaj salaf terhadap suatu kasus, maka ini keliru.
  5. Menghukumi Perkataan Tidak selalu Berarti Menghukumi Orang yang Mengatakannya. Terkadang, seseorang dari mereka mengatakan suatu perkataan dengan maksud mubaalaghah (berlebihan) didalam membantah suatu keyakinan atau ketika mendustakan sebuah riwayat tanpa bermaksud menjelekkan perawinya atau orang yang mengatakannya. Sebagaimana yang terjadi kepada Ahmad bin Zahir Abul Azhar An-Naisaburi –rahimahullah. Telah meriwayatkan darinya para ulama besar. Beliau meriwayatkan hadis di Baghdad pada masa Yahya bin Ma’in dan para ulama di Bagdad menulis hadis darinya. Akan tetapi ketika suatu saat sampai kepada Yahya bin Ma’in sebuah hadis tentang fadhail (keutamaan-keutamaan) yang diriwayatkan oleh Abul Azhar, Yahya bin Ma’in berkata, “Siapakah pendusta dari Naisabur yang telah meriwayatkan hadis ini dari Abudurrazaq?” Kemudian Abul Azhar berkata, “Itu saya!”  maka kemudian Yahya bin Ma’in tersenyum seraya berkata, “Adapun engkau, maka engkau bukanlah pendusta.” (Tarikh Baghdad: 4/41 – 42, Al Kamil, Ibnu Adiy: 1/196 dll)
  6. Memahami Perkataan dan Tindakan Mereka Dengan Perbedaan Waktu, Tempat dan Kondisinya. Ketika kita melihat perkataan atau tindakan mereka, maka kita juga harus melihat sisi lain yang berkaitan dengan waktu, tempat dan kondisi saat perkataan itu dikatakan atau tindakan itu dilakukan oleh mereka. Semua itu bermuara pada kaidah, “Mendatangkan maslahat dan mencegah bahaya.” Begitu pun ketika kita ingin mengatakan perkataan mereka atau bersikap dengan tindakan mereka maka harus pula kita memperkatikan sisi-sisi tersebut. Seperti perkataan-perkataan mereka dan tindakan-tindakan mereka dalam menyikapi ahli bid’ah dan hawa nafsu.
  • Perbedaan tempat

Dahulu salaf ketika menghukumi ahli bid’ah membedakan mereka sesuai perbedaan tempat. Oleh karena itu mereka tidak pernah mengatakan untuk meng-hajr (mengisolasi) orang-orang yang terindikasi memiliki akidah syi’ah (tasyayyu’) di negeri Kufah dan orang-orang yang terindikasi memiliki akidah qadariah di negeri Bashrah. Hal itu karena merebaknya pendapat tasyayyu’ di Kufah dan pendapat tentang qadar di Bashrah saat itu.

Imam Ahmad ditanya tentang menampakkan permusuhan bagi orang yang mengatakan, “Alquran makhluk.”? Maka beliau berkata, “Penduduk Khurasan mereka tidak akan sanggup.” Dan dahulu sikap salaf terhadap mihnah (ujian) ini adalah membalas dengan cara yang baik.”

Begitu pula beliau berkata, “Jika kita meninggalkan riwayat dari orang-orang qadariyyah, maka kita akan meninggalkan banyak riwayat dari ahli Bashrah.” (Lihat Majmu al Fatawa: 28/206, 210, 212)

  • Perbedaan orang

Mereka juga membedakan hukum sesuai perbedaan orangnya tergantung kepada kondisi orang tersebut. Oleh karena itu Imam Ahmad berbeda-beda dalam menghukumi orang-orang yang mengatakan perkataan yang sama. Orang awam yang jahil tidak dihukumi sebagaimana orang yang tidak demikian keadaannya. Oleh karena itu misalnya beliau tidak mengkafirkan Mu’tahshim, akan tetapi memaafkannya sebagaimana di ketahui. (Siyar A’lam Nubala (11/261)

Begitu pula Syaikhul Islam memaafkan raja Nashir yang telah memenjarakannya karena hal itu dilakukannya dengan taklid semata. (Al A’lam Al ‘Aliyyah, Al Bazzar, hal. 82)

  • Perbedaan zaman dan kondisi.

Sikap mereka juga dapat berbeda sesuai dengan kondisi dan zaman. Maka termasuk kesalahan menyikapi para penyelisih di zaman ini sebagaimana menyikapi para penyelisih di zaman khulafa rasyidin, atau qurun mufadhdhalah (zaman utama/ tiga generasi salafus saleh).

Dari sini pula tidak benar jika kita menggunakan ungkapan-ungkapan salaf pada generasi pertama, kedua atau ketiga pada seseorang atau pada kasus tertentu, kita gunakan pada setiap orang yang terjatuh kepada kebid’ahan jika memang pun demikian. Dan kita melihat sebagian pemuda melemparkan ungkapan-ungkapan itu kepada orang yang berbeda dengannya dalam masalah ijtihadiyyah yang berkaitan dengan soal dakwah atau yang lainnya.

Diriwayatkan dari Al Hasan –rahimahullah-, “Ahli bid’ah satu level dengan Yahudi dan Nashrani!!” (Dzammul Kalam, Al Harawi, hal. 195)

Jika kita mengambil ungkapan ini tanpa mempelajari kondisi saat ungkapan ini diucapkan, situasi tempat dan zaman, kemudian kita terapkan kepada siapa saja yang berselisih dengan kita, terutama kaidah, “man lam yakun ma’anaa fa huwa ‘alainaa.” (barangsiapa yang tidak bersama kami, maka ia musuh kami), maka kita telah jauh dari kebenaran.

Kemudian lihatlah jawaban Syaikhul Islam ketika ditanya tentang seseorang yang mengutamakan Yahudi dan Nashrani atas Rafidhah, “Setiap orang beriman dengan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia lebih baik dari pada yang kufur terhadapnya, walaupun pada seorang mukmin tersebut terdapat sesuatu dari kebid’ahan, baik khawarij, syi’ah, murjiah dan qadariyyah.”

Itu lah beberapa nukilan yang dapat penulis hadirkan di sini, bagi yang ingin tambahan untuk contoh-contoh yang lainnya silahkan merujuk kepada buku aslinya.

Wallahu ‘alam, wa shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘ala nabiyyinaa muhammad.

Riyadh – 28 Rabi’ al Awwal 1433 H

[1] Syaikh Khalid bin Utsman As-Sabt lahir di Zulfi th 1384 H, kemudian pindah ke kota Dammam dan menyelesaikan pendidikan sampai SMA di sana. Setelah itu beliau pergi di Riyadh dengan kerinduan yang sangat untuk mencari ilmu, terutama dari Samaahatus Syaikh Abdulaziz bin Baz. Beliau pun masuk universitas Imam Su’ud Islamiyyah. Diantara masyayikh terkenal yang mengajarnya adalah Syaikh Abdulkarim Al Khudhair. Akan tetapi keberadaan di Riyadh tidak lama, beliau pindah ke Ahsaa` dan lebih banyak membaca, terutama buku-buku Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim. Sampai kemudian dengan izin Allah beliau pindah ke Madinah Nabawiyyah dan ini adalah fase baru dalam proses mencari ilmu beliau. Beliau masuk ke universitas Islam Madinah dan belajar dari banyak masyayikh di sana berbagai macam ilmu. Pada musim liburan, beliau gunakan untuk pergi kepada Syaikh Ibnu Utsaimin. Maka beliau pun membaca beberapa kitab. Sekarang beliau aktif mengadakan durus di mesjid di kota Damam dan juga muhadhoroh di berbagai tempat. Selengkapnya bisa dibaca pada link berikut: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=115097

Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. Reblogged this on ibnumanshur94.

    Balas
  1. Kaidah Tafsir | TAFSIR ALQURAN STFI SADRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: