Nazar dalam Hati

Pertanyaan: Seseorang berniat dalam hatinya berpuasa selama tujuh hari, akan tetapi ia tidak mampu menyempurnakannya. Apakah ada sesuatu yang wajib atasnya?

Jawaban: Nazar hanya berlaku jika dilafadzkan (diucapkan dengan lisan) dan diniatkan. Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh Allah memaafkan dari umatku sesuatu yang ia ucapkan dalam hatinya, selama ia tidak memperbuatnya atau mengucapkannya dengan lisan.” (Muttafaq ‘alaih)

Oleh karena itu, orang yang berniat nazar akan tetapi ia tidak mengucapkannya, maka tidak ada kewajiban apapun atasnya.

Wa billahi at taufik, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyinaa muhammad

[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah li Al Buhuts Al Ilmiyyah wa Al Ifta`, vol. 23, hal. 302]

 

Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. Asalamu’alaikum.. Ustad, bagai mana kalow nadzar di ucapkan dilisan karena keceplosan atau tidak di sengaja, sdangkan sebenarnya tidak ada keinginan atau tidak berniat nazar ?

    Balas
    • Waalaikumussalam warahmatullah,, para ulama mengatakan nazar tidak disyaratkan niat, asalkan sudah diucapkan maka nazar tersebut sah. wallahu a’lam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: