Mengusap Kepala Dalam Wudhu

Mengusap kepala ketika berwudhu termasuk permasalahan yang diperselisihkan para fukaha.

Hanabilah dan Malikiyyah berpendapat wajib mengusap seluruh bagian kepala. Berdasarkan firman Allah,

وامسحوا برؤوسكم

“Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (QS. Al Maidah: 6)

al baa` dalam ayat tersebut berfungsi ilshaaq (menempel) dan ru`uus (kepala) diidhafatkan kepada makrifah (dhamir), maka ia memberi faidah umum.

Abu Hanifah berpendapat boleh mengusap seperempat bagian kepala. Karena seperempat sama dengan ukuran telapak tangan. Maka, ketika kita meletakkan telapak tangan diatas kepala dan kita mengusapnya, maka itu cukup.

Imam Syafi’i berpendapat yang wajib adalah seukuran hal itu dapat disebut mengusap. Maka, cukup dengan tiga helai rambut. Sebagian dari ulama madzhab Syafi’i bahkan cukup hanya dengan satu helai rambut saja. Mereka mengatakan, al baa` bermakna tab’iidhiyyah (menunjukkan sebagian).

Yang rajih adalah wajib mengusap seluruh bagian kepala dengan dua alasan:

Pertama, asal makna al baa` adalah untuk al ilshaaq bukan tab’iidh, maka tidak boleh dipalingkan dari makna ilshaaq kepada makna lain kecuali dengan dalil.

Kedua, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusap seluruh bagian kepala dan tidak diriwayatkan dari beliau mengusap sebagiannya saja.  Adapun hadis, “Beliau mengusap ubun-ubunannya dan imamahnya.” (HR Muslim) ini dalam bab mengusap imamah (penutup kepala yang telah dikenal), dan ia boleh dengan syarat-syaratnya.

[Syarh Umdah Al Ahkam, Syaikh DR. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsry]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: