Lutut Dulu atau Tangan Dulu?

Tidak ada hadis yang shahih secara marfu’ (sampai ke Nabi) dalam masalah ini. Adapun hadis yang diterima dari Waa’il bin Hujr, ia ma’luul (terdapat kecacatan) karena penyendirian Syariik An-Nakha’i dalam meriwayatkannya dari ‘Aashim bin Kulaib, dari Bapaknya, dari Waa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau sujud mendahulukan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, jika beliau bangkit, mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/222), Nasa`i (2/206), Tirmidzi (2/206) dan Ibnu Majah (1/286)

Daruquthni berkata, “Yazid telah menyendiri dengannya dari Syariik, dan tidak ada yang meriwayatkannya dari Aashim bin Kulaib kecuali Syariik, dan Syariik laisa bil qawiy (tidak kuat) dalam riwayat-riwayat yang ia menyendiri di dalamnya.” (As-Sunan, 1/345)

Bukhari dan yang lainnya juga men-ta’liil (menyatakan kecacatan) hadis ini dengan hal tersebut.

Terdapat riwayat dari Umar dari perbuatannya dengan sanad yang shahih sebagaimana dikeluarkan oleh Ath Thahawi dalam “Syarh al Ma’aany” (1/256) dari jalur Umar bin Hafsh bin Ghiyats, menceritakan kepada kami bapakku, ia berkata, menceritakan kepada kami Al A’masy, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim dan murid-murid Abdullah: ‘Alqamah dan Al Aswad berkata: Kami menghapal dari Umar dalam shalatnya bahwa ia sujud setelah rukuknya dengan kedua lutunya seperti unta dan meletakkan kedua lututnya sebelum tangannya.”

Dan hadis Abu Hurairah, menyendiri pula dengannya Muhammad bin Abdullah bin Al Hasan, dari Abu Al Zinaad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah dengan marfuu’: “Jika salah seorang diantara kalian sujud, maka janganlah ia menderum seperti menderumnya unta, hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

Para Imam hadis menyatakan kecacatan hadis ini; seperti Imam Bukhari, Tirmidzi, Daruquthni dan selain mereka. Mereka mencacatkannya karena tafarrud (penyendirian dalam periwayatan). Akan tetapi telah valid dari Abdullah bin Umar bin Al Khaththab yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan ta’liiq (1/202), dan Daruquthni dari Ubaid bin Umar bin Naafi’, dari Umar, bahwa ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.

Perbincangan para ulama seputar masalah ini sangat panjang. Dan memilih (antara keduanya) lebih utama sesuai dengan yang lebih cocok dan mudah. Sebagian orang memiliki badan yang berat dan sebagian lagi ringan. Hal itu karena tidak ada hadis marfuu’ yang shahih.

[Shifatu Shalaati An-Nabiy, hal. 129-130, Syaikh Abdul Aziz bin Marzuuq Ath-tharify]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: