Khilaf Fikhi

Khilaf fikhi (silang pendapat dalam ranah fikih) diantaranya sangat dipengaruhi oleh aplikasi kaidah-kaidah yang mendasarinya. Ma’aaly Asy Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syitsri –semoga Allah menjaganya- menjelaskan ada tiga faktor perselisihan itu terjadi:

Pertama, perselisihan dalam pokok kaidah itu sendiri. Seperti kaidah, “al ‘ibrah bil maqaashid wal ma’aani.” (yang dijadikan standar adalah maksud dan substansi). Kaidah ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat demikian dan sebagiannya lagi justru berpendapat, “al ‘ibrah bil alfaadzi wal mabaaniy laa bil maqaashidi wal ma’aaniy.” (yang dijadikan standar adalah lafadz dan bentuk, bukan maksud dan substansi.” Begitu juga perselisihan seputar mafhuum al mukhaalafah, apakah ia dapat dijadikan hujjah atau tidak? Ini khilaf dalam pokok kaidah.

Kedua, peselisihan dalam indiraaj al far’i fil qaa`idah (memasukkan permasalahan kepada kaidah). Bentuknya, ada dua kaidah yang telah disepakati, namun datang masalah yang memiliki kemungkinan masuk kepada dua kaidah tersebut. Maka sebagian para ulama berpendapat masalah itu masuk kepada kaidah pertama, dan sebagian lain berpendapat masuk kepada kaidah yang kedua. Contoh tentang jual beli ‘iinah. Mayoritas ulama memasukkannya dalam kaidah, “al umuuru bi maqaashidihaa.” (perkara itu tergantung maksudnya), maka mereka melarang ‘iinah. Adapun ulama Syafi’iyyah memasukkannya kepada kaidah, “hallu al bai’’” (asal jual beli itu halal).

Ketiga, terjadi kesepakatan dalam pokok kaidah dan dalam hal memasukkan suatu masalah kepada kaidah, namun perselisihan terjadi dalam aplikasinya. Contohnya kaidah, “al yaqiin laa yuzaalu bisy syakk”, (yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan). Seperti dalam masalah orang yang suci kemudian ragu berhadas, apakah ia boleh melaksanakan shalat atau tidak? Mayoritas ulama berpendapat boleh karena ia yakin dalam keadaan suci dan yakin tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. Sementara Malikiyyah berpendapat tidak boleh, berdasarkan kaidah ini pula. Karena tetapnya tanggungan kewajiban shalat (dzimmah) orang tersebut adalah perkara yang bersifat yakin, dan perkara yakin ini tidak dapat kita hilangkan dengan shalat yang diragukan kesuciannya.

Contoh lain orang yang ragu dalam mentalak, apakah talak satu atau tiga? Mayoritas ulama mengatakan berarti jatuh talak satu. Karena asalnya adalah tetapnya pernikahan. Sementara Malikiyyah berkata jatuh talak tiga, karena asalnya adalah haramnya berjima dengan wanita bukan istri (ajnabiyyah).

[Syarh Umdah Al Ahkaam dengan sedikit peringkasan, hal. 71-12, cet. Kunuuz Isybiiliyaa]

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: