Ringkasan Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dalam Nama dan Sifat Allah serta Kaidah-Kiadah dalam Menetapkannya

Oleh: Khalid bin Muhammad As Salim

Ahli sunnah beriman dengan segala yang tertera dalam nash-nash Alquran dan sunnah yang shahih, baik dalam hal menetapkan atau menafikan sesuatu. Maka, mereka menamai Allah dengan nama-nama yang Allah namai diri-Nya sendiri dengannya dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak menambah, begitu pula tidak mengurangi, tidak melakukan perubahan (tahriif) dan tidak pula melakukan pengingkaran (ta’thiil), tanpa menentukan kaifiyat (takyiif) dan tanpa menyerupakan dengan makhluk (tamtsiil).

Ahli sunnah juga menafikan dari Allah segala yang Allah nafikan dari diri-Nya sendiri dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, disertai keyakinan bahwa Allah disifati dengan sifat-sifat sempurna dari kebalikan perkara yang dinafikan tersebut.

Dengan demikian ahli sunnah adalah orang-orang yang mengikuti manhaj Alquran dan sunnah shahihah.

Imam Ahmad –rahimahullah- berkata, “Allah tidak disifati melainkan dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri, atau dengan yang Rasul-Nya sifatkan, dan kita tidak melampaui Alquran dan Sunnah.”

Allah ta’ala berfirman, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya siapapun.” Ini bantahan terhadap orang-orang yang menyerupakan sifat Allah. “Dan Dia Mahamendengar dan Mahamelihat.” (Asy-Syura: 11) ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari sifat Allah.

Tauhid asma dan sifat memiliki dua sisi kontradiksi: ia adalah ta’thiil dan tamtsiil. Orang yang menafikan (ta’thiil) sifat-sifat rabb ‘azza wa jalla berarti ia mengingkarinya. Dan pengingkarannya itu telah mendustakan tauhidnya. Dan orang yang menyerupakan (tamtsiil) sifat Allah dengan makhluknya, maka penyerupaannya itu telah mendustakan tauhidnya pula.

Kelompok-Kelompok Paling Populer yang Menyelisihi Ahli Sunnah Dalam Nama dan Sifat Allah.

1. Jahmiyyah

Ia adalah kelompok yang dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan (w 128 H). Kelompok ini menafikan seluruh nama dan sifat Allah.

Al Allamah Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata, “Yang benar, bahwa keyakinan Jahmiyah, yaitu menafikan seluruh nama dan sifat, sebagaimana yang dihikayatkan dari Jahm, orang-orang ahli ilhad dan yang seperti mereka berupa pengingkaran terhadap nama-nama Allah yang baik, adalah kekufuran yang sangat jelas, penyelisihan terhadap sesuatu yang diketahui secara pasti dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[1]

2. Muktazilah

Ia adalah kelompok yang dicetuskan oleh Washil bin ‘Atha (w 131 H). Mereka menetapkan nama-nama akan tetapi tidak mengandung sifat.

Mereka berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki sifat ilmu, kuasa, hidup, pendengaran dan penglihatan.

Hakikat keyakinan mereka adalah, bahwa mereka ingin menafikan bahwa Allah maha mengetahui, maka kuasa, maha hidup, maha mendengar dan maha melihat. Mereka tidak menampakkan penafiaannya itu karena takut diperangi. Namun mereka mengatakan sesuatu yang menunjukkan makna demikian. Karena ketika mereka mengatakan: “Tidak ada ilmu bagi Allah, tidak ada kuasa bagi Allah”, maknanya adalah mereka berarti mengatakan bahwa Allah tidak maha mengetahui dan maha berkuasa.

Keyakinan ini mereka serap dari ahli zindiq dan ingkar. Karena ahli zindiq kebanyakan mereka mengatakan, bahwa Allah tidak maha mengetahui, tidak kuasa, tidak hidup, tidak mendengar dan tidak melihat.

3. ‘Asyaa’irah

Ia adalah kelompok yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan al Asy’ariy (w 324 H) yang telah kembali kepada manhaj ahli sunnah pada akhir hidupnya.

Mereka menetapkan nama-nama Allah yang baik (al asmaa` al husnaa) secara umum[2]. Adapun dalam sifat-sifat Allah, mereka terbagi menjadi dua kelompok:

Pertama: Orang-orang terdahulu dari kelompok asya’irah menafikan seluruh sifat-sifat ikhtiyaariyyah.[3]

Kedua: Orang-orang belakangan dari kelompok asya’irah mereka hanya menetapkan tujuh sifat, yaitu: ilmu (al ilmu), kuasa (al qudrah), hidup (al hayaat), mendengar (as sam’u), melihat (al bashar), kehendak (al iraadah) dan berbicara (al kalaam).

Adapun sifat-sifat yang lainnya mereka rubah (tahriif) seperti mereka merubah makna sifat “rahmah” dengan “kehendak untuk memberikan pahala, atau kehendak untuk memberikan nikmat”. Atau sifat “al wudd” dalam nama “Al Waduud” dengan “kehendak untuk memberikan kebaikan”.

Kaidah-Kaidah Ahli Sunnah Dalam Menetapkan Nama-Nama Allah yang Baik.[4]

  1. Nama-nama Allah bersifat tauqiifiyyah (ditetapkan dengan nash semata)

Nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah dan tidak ada celah bagi akal untuk menetapkannya. Oleh karena itu Allah tidak dinamai kecuali dengan nama-nama yang terdapat dalam Alquran dan sunnah. Tidak ditambah dan tidak pula dikurangi. Karena akal sangat terbatas untuk mengetahui sesuatu yang berhak bagi Allah dari nama-nama-Nya. Maka wajib bersandar hanya kepada nash dan dalil. Allah berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isra: 36).

Maka wajib menjaga etika dan cukup membatasi diri atas apa yang disebutkan oleh nash. Tidak terbuka pintu ijtihad dalam masalah ini. Oleh karena itu Allah tidak dinamai dengan “al ‘Aarif”, atau “al ‘Aaqil”. Begitu tidak boleh mengambil nama Allah dari fi’il (kata kerja), atau sifat. Seperti nama “al Muntaqim” karena dalam nash tidak terdapat nama ini kecuali dalam bentuk terikat pada firman Allah,

إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُون [السجدة :22].

“Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As Sajdah: 22)

Intinya, tauqiif dalam nama Allah adalah muktabar (yang berlaku), izin dalam bolehnya (menetapkan nama Allah) adalah muntadzar (menunggu dalil), maka Allah tidak dinamai kecuali dengan yang datang padanya khabar (nash atau dalil).

  1. Bab sifat lebih luas daripada bab nama

Setiap nama Allah boleh diambil darinya sifat bagi Allah azza wa jalla. Nama “al ‘Aliim” diambil darinya sifat ilmu. “Al Hakiim” diambil darinya sifat hikmah. Akan tetapi tidak sebaliknya. Tidak semua sifat diambil darinya nama bagi Allah. Seperti al Kalam (berbicara) adalah sifat Allah. Akan tetapi bukan termasuk nama Allah “Al Mutakallim” (Yang Mahaberbicara). Oleh karena itu, bab sifat lebih luas dari pada bab nama. Allah disifati dengan sifat-sifat seperti kalam (bicara), iradah (berkehendak), istiwaa` (tinggi di atas arsy), nuzul (turun), dhahk (tertawa), akan tetapi tidak diambil dari sifat-sifat itu nama bagi Allah. Allah tidak dinamai dengan  al mutakkalim, al muriid, al mustawii, an naazil, adh dhaahik. Karena sifat-sifat itu ketika disebutkan tidak menunjukkan pujian untuk Allah.

Dan ada sifat-sifat Allah yang datang dengan penggunaan nama seperti al uluw, rahmah, qudrah. Karena sifat-sifat itu dengan sendirinya adalah pujian. Dan nama-nama yang menunjukkan sifat-sifat itu pun adalah nama-nama pujian. Oleh karena itu diantara nama Allah kita katakan, “Al ‘Aliyy, “Al ‘Aliim”, “Ar Rahiim”, “Al Qadiir”

  1. Bab pengkabaran lebih luas dari bab nama dan sifat

Segala yang termasuk pengkabaran tentang Allah lebih luas dari yang hanya termasuk nama dan sifat bagi Allah. Seperti “As-Syai” (sesuatu), “Al Wujuud” (ada). Yang seperti itu dikabarkan dari Allah akan tetapi tidak dimasukkan ke dalam nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat Allah yang tinggi. Maka dalam nash-nash syar’i itu terdapat tiga bab: bab asmaa` (nama), bab sifat dan bab ikhbar (pengkabaran)

  1. Nama-nama Allah semuanya baik

Nama-nama Allah semuanya baik. Allah telah menyebutkan bahwa nama-namanya adalah baik dalam empat tempat di dalam Alquran. Yaitu:

 وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف:180].

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raf: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيّاً مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى [الإسراء :110].

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).” (Al Isra: 110)

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى * اللَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى [طه:7 8].

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)” (Thahaa: 7-8)

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [الحشر:24] .

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr: 24)

Husna adalah bentuk muannats dari ahsan. Yang artinya sangat baik. Nama Allah adalah yang paling baik dan paling agung karena mengandung makna yang paling baik dan mulia.

Maka nama Allah “Al Hayyu” (Yang Maha Hidup) menunjukkan sifat hidup yang sempurna, yang tidak didahului oleh tiada dan tidak diakhiri oleh ketiadaan.

Nama Allah “Ar Rahmaan” menunjukkan sifat rahmat yang sempurna. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah, “Sungguh Allah lebih rahmat (menyayangi) hamba-hambanya melebihi wanita ini kepada anaknya.”[5] Yaitu seorang ibu yang menemukannya dalam tawanan kemudian ia mengambilnya, merangkulnya dan menyusuinya. Rahmat yang dinyatakan oleh Allah sendiri dalam Alquran, “dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al A’raaf: 156). Juga dikatakan oleh para malaikat yang dekat, “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

  1. Al Asmaa`ul Husnaa tidak terbatas jumlahnya.

Al Asmaa`ul Husnaa tidak terbatas jumlahnya. Allah memiliki nama dan sifat yang Allah simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Nya. Tidak diketahui oleh malaikat yang dekat, atau nabi yang diutus sekalipun. Sebagaimana dalam sabda Nabi, “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama bagi-Mu, yang Engkau namai diri-Mu sendiri dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.”[6]

  1. Iman terhadap nama-nama Allah mencakup beberapa perkara:

Pertama, iman bahwa nama itu adalah nama bagi Allah ‘azza wa jalla.

Kedua, iman dengan “sifat” yang ditunjukkan oleh nama tersebut.

Ketiga, iman dengan apa-apa yang terkait dengannya berupa atsar (pengaruh), hukum, dan konsekwensi dari nama itu.

Jika kita mengambil nama Allah “As Samii’”. Maka pertama, kita menetapkan nama itu bagi Allah. Kedua, kemudian menetapkan sifat “As Sam’u” (mendengar). Ketiga, kita menetapkan hukum bahwa Allah mendengar yang tersembunyi dan rahasia. Dan juga menetapkan atsar pengaruh atau konsekwensi dari nama itu, yaitu wajibnya takut kepada Allah, senantiasa merasa diawasi dan malu kepada-Nya azza wa jalla.

Sumber Naskah Asli: www.al-aqidah.com, didowload dari www.ktibat.com.


[1] An Nubuwwaat, hal. 198

[2] Akan tetapi mereka berbeda dengan ahli sunnah dalam cara penetapannya.

[3] Sifat ikhtiyariyyah adalah yang dikerjakan Allah kapanpun Allah berkehendak seperti sifat ghadab (marah) atau majii` (datang)

[4] Lihat pembahasan ini dalam “Badaa’iu Al Fawaaid”, (1/175-187), “Al Qawaaidu Al Mutslaa”, Karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, “Mu’taqad Ahli Sunnah fii Asmaa`I Allah”, Karya Dr. Muhammad At-Tamiimiy, “Al Qawaaid Al Kulliyyah”, Karya Dr. Ibrahim Al Buraikan.

[5] HR Bukhari : 5999, Muslim: 2754

[6] HR Ahmad (1/391), dinilai shahih oleh Ibnul Qayyim dalam “Badaa’iu Al Fawaaid” (1/183), Al Albani dalam “Ash Shahiihah” hal, 199.

Tinggalkan komentar

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: