Nikmat Islam dan Bahaya Makar Musuh

Oleh: Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Al Fauzan –semoga Allah menjaganya-

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah: 3)

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al Hajj: 78)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan nikmat agama yang agung untuk umat ini. Dengannya Allah mengangkat derajat umat ini. Karenanya, wajib atas mereka bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat ini untuk bersyukur dengan cara menunaikan segala yang menjadi hak-Nya; mengerjakan kewajiban-kewajiban-Nya dan meninggalkan yang diharamkan-Nya.

Diantara kewajiban yang sangat penting adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Karena shalat adalah tiang Islam. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan dosa. Siapapun yang mendirikannya berarti ia mendirikan agamanya. Siapapun yang menelantarkannya, berarti ia menelantarkan agamanya. Dan zakat, padanya terdapat nilai berbuat baik kepada sesama serta memerdekakan diri dari sifat kikir dan pelit. Orang yang mampu menunaikannya, maka ia akan mampu menunaikan sedekah yang lainnya.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berpegang teguh atau tawakal dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam memohon segala kebutuhan, dalam keinginan mendatangkan segala manfaat dan mencegah dari segala yang tidak diinginkan dan berbahaya, serta dalam meraih kemenangan melawan para musuh dan orang-orang yang dengki.

Inilah tauhid yang murni, agama yang lurus dan akidah yang selamat. Agama Islam mencakup akidah yang selamat, perintah-perintah yang lurus dan perangai yang terpuji. Islam juga melarang segala bentuk keyakinan yang rusak, ibadah yang batil, perbuatan dosa dan akhlak yang buruk. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan bahwa agama ini adalah agama yang sempurna, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al Maidah: 3)

Saudaraku se-Islam, jika Anda ingin mengenal nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala atasmu dengan Islam, maka lihatlah kondisi orang-orang kafir saat ini. Bagaimana mereka hidup dalam kegoncangan akidah, kerusakan moral, hilangnya kehormatan, kekacauan dalam aturan dan hukum, ketidakamanan serta ketidakjelasan dalam sistim politik mereka antara sosialisme yang memerintah dengan keras, Yahudi yang dengki terhadap kemanusiaan yang berencana menghancurkan semua manusia, Nasrani yang tersesat dan ambigu, Paganisme yang menyembah pohon, batu, kuburan, hewan dan lain-lain selain Allah. Begitulah, siapapun yang hidup tanpa cahaya, maka ia akan goncang dalam kegelapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 257)

Orang-orang kafir merasa dengki kepada kita atas nikmat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al Baqarah: 109)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (An Nisa: 89)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (Al Mumtahanah: 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berulang-ulang menyebutkan hal itu dalam kitab-Nya. Agar kita berhati-hati dengan tipu muslihat dan racun mereka. Mereka selalu membuat tipu daya kepada agama ini dan pemeluknya dari sejak Allah menurunkan agama ini kepada Rasul-Nya hingga hari kiamat. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al Baqarah: 217)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (At Taubah: 32)

Akan tetapi bahaya itu tidak akan mengenai Islam itu sendiri. Karena Islam dijaga oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al Hijr: 9)

Bukti itu sangat nyata ketika Islam diserang dengan berbagai serangan dari orang-orang kafir. Semua serangan itu tidak berpengaruh dan merubah agama Islam sedikitpun. Ia tetap murni seperti pertama kali diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah senantiasa menjadikan untuk agama ini orang-orang yang membelanya, melawan tipu daya musuh-musuhnya dan menjelaskannya kepada umat manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan tetap ada sekelompok orang dari umatku yang tetap nampak berada dalam kebenaran. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang merendahkan mereka dan menyelisihi mereka. Hingga datang perkara Allah dan mereka dalam kondisi itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan sebagaimana yang beliau kabarkan, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengutus untuk umat ini pada setiap seratus tahun orang yang memperbaharui agama mereka.” (HR Abu Dawud)

Maka Islam, dengan akidahnya, syariatnya, dan hukum-hukumnya, tidak akan terkena bahaya tipu daya musuh-musuhnya. Akan tetapi, bahaya itu akan mengenai kita kaum muslimin. Dengan cara kita dihalangi dari Islam dan disesatkan darinya. Musuh-musuh Islam saat ini terus-menerus secara gencar menghalang-halangi kaum muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memalingkan mereka dari agama mereka dengan berbagai cara dan tipu daya. Bahkan mereka memanfaatkan orang-orang yang karakter mereka terdapat dalam hadis, “Sekelompok orang berkulit seperti kita, dan berbicara dengan lisan-lisan kita.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sisi akidah, mereka berupaya merusak akidah kaum muslimin dengan sengaja memunculkan kelompok-kelompok menyimpang dari kalangan pengagung kubur, pengikut tasawuf dan pengagum bid’ah. Mereka mendukung kelompok-kelompok ini dengan segala cara. Mereka tampilkan kepada khalayak sehingga akidah yang benar menjadi mati dan mereka menciptakan kesan seolah kelompok-kelompok mengimpang inilah kaum muslimin sebenarnya.

Dalam sisi ibadah, mereka berupaya melariskan bid’ah dan khurafat. Mereka mendukung para pelakunya baik dengan materi atau pikiran.

Dalam sisi hukum, mereka mengimpor aturan-aturan buatan untuk dijadikan sebagai acuan hukum bagi umat manusia sebagai ganti dari syariat Islam. Hingga mereka memasukkan pelajaran hukum ini ke dalam mata pelajaran yang dipelajari di negeri-negeri kaum muslimin –kecuali yang dirahmati Allah. Mereka menjadikannya sebagai pengganti hingga dalam institusi-institusi pendidikan. Hingga mereka menamai sebagian fakultasnya dengan “fakultas syariat dan hukum positif”

Dalam sisi moral, mereka menyusupkan kepada kaum muslimin prilaku telanjang, melepas hijab, campur baur antara laki-laki dan wanita, film-film yang merusak, theater-theater rendahan, musik, kegilaan, pornografi dan lain-lain. Mereka menyebutnya sebagai seni, atau kebudayaan masyarakat, kemajuan zaman dan peradaban.

Mereka juga menyibukkan kaum muslimin dari pekerjaan yang bermanfaat dan bernilai sebagai bentuk mempersiapkan kekuatan untuk berjihad, menyebarkan agama, dan menjaga bangsa. Mereka menyibukkan kaum muslimin di banyak negeri kaum muslimin dengan tempat-tempat olah raga dan berbagai macam permainan fisik atau akal. Semua itu menyita waktu dan menguras potensi mereka. Hingga dalam satu negeri saja, ada berbagai macam kelompok dan klub. Setiap klub memiliki pendukung yang sering kali terjadi permusuhan dan pertengkaran antara mereka. Hasilnya, mereka tidak mendapatkan manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri atau untuk masyarakat mereka.

Dalam sisi ekonomi, mereka memasukkan sistim transaksi ribawi dan produk-produk haram seperti khamr, perjudian dan lain-lain.

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya musuh kalian tidak menginginkan kebaikan bagi kalian. Mereka hanya menginginkan keburukan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.” (Al Baqarah: 105)

“Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Ali Imran: 118)

Mengapa kita berbaik sangka kepada mereka sementara kita lengah dari tipu daya dan makar mereka yang telah ada dari sejak dulu. Dahulu, ketika mereka tidak mampu menghentikan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah, mereka berusaha untuk membunuh beliau, mereka berkumpul di depan rumah beliau menunggu keluarnya baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya. Akan tetapi Allah mengeluarkan beliau sementara mereka tidak menyadarinya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Al Anfal: 30)

Ketika mereka mengetahui beliau telah keluar dan rencana mereka gagal, mereka mengejar beliau. Akan tetapi Allah menggagalkan tipu daya mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Kemudian mereka menggalang kekuatan baru untuk membunuh beliau dan menghentikan dakwahnya. Mereka mengumpulkan pasukan perang untuk memeranginya. Akan tetapi Allah juga menolong Rasul-Nya atas mereka. Ketika mereka melihat bahwa jalan peperangan tidak berhasil, sebagian mereka melakukan siasat busuk. Yaitu siasat kemunafikan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

Mereka masuk kepada Islam dan menyembunyikan tipu daya dalam hati mereka, menghasut para pemeluknya agar terjadi permusuhan antara mereka. Hingga terbentuklah kelompok orang-orang munafik dari kalangan orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik. Akan tetapi Allah mengingkap rahasia mereka dan membongkar hijab mereka. Diketahuilah sifat-sifat mereka dan racun-racun mereka. Kaum muslimin menjadi berhati-hati terhadap mereka. Begitulah terus orang-orang kafir membuat makar dan tipu daya untuk kaum muslimin, dan akan tetap seperti itu.

Dewasa ini, mereka membuat cara-cara baru untuk menipu daya dan memerangi kita melalui jalan peradaban. Mereka tidak meninggalkan satu pintu pun dari pintu-pintu peradaban kecuali memasukinya. Mereka masuk melalui jalan media massa, mereka masuk melalui bidang pendidikan, bidang kedokteran, politik, hukum dan ekonomi. Begitulah mereka masuk ke semua bidang untuk menghembuskan racun-racun mereka dan merealisasikan rencana mereka untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Akan tetapi alhamdulillah, masih tersisa dari kaum muslimin yang menyadari tipu daya mereka dan berhati-hati darinya. Jika kita kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan menemukan pada keduanya penjelasan yang cukup untuk menangkal serangan musuh-musuh kita, kita akan menemukan obat yang mujarrab, senjata yang cukup kuat untuk mematahkan serangan mereka.

A’uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 149 – 152)

[Diterjemahkan dari “Al Khuthab Al Minbariyyah”, vol. 2, hal. 223-226, dengan sedikit adaptasi]

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: