Bersungguh-Sungguh

Tugas ibadah yang Allah bebankan kepada hamba-hamba-Nya tidak mungkin dapat terlaksana tanpa kesungguhan dan tekad kuat. Karena rintangan dan gangguan akan selalu mengiringi setiap muslim ketika ia menunaikan titah Allah dan berusaha mencapai keridhaan-Nya. Musuh-musuh yang menghalangi jalannya tidak akan pernah lelah menggelincirkannya dari jalan Allah, memalingkannya dari tugas ibadah yang sedang diembannya.

Oleh karena itu, perintah-perintah kebaikan yang Allah sampaikan dalam Al Quran seringkali diungkapkan dengan penekanan, yang menunjukkan bahwa perintah itu hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Seperti ketika Allah memerintahkan untuk berjihad,

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

“Dan berjihadlah kalian di (jalan) Allah dengan sebenar-benar jihad.” (QS. Al Hajj [22]: 78)

Baik jihad melawan hawa nafsu, setan, orang-orang kafir atau orang-orang munafik. Semuanya harus dilakukan dengan kesungguhan dan segenap kemampuan; dengan harta, lisan dan jiwa sekalipun. Jika tidak, manusia tidak akan pernah muncul sebagai pemenang.

Begitu pun ketika Allah memerintahkan untuk bertakwa,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan islam.” (QS. Ali Imran [3]: 102)

Bertakwa kepada Allah tidak mungkin dapat diwujudkan dengan sikap santai, mudah menyerah, tidak hati-hati dan ceroboh. Abu Hurairah, ketika ditanya tentang makna takwa beliau menjawab, “Pernahkah kamu berjalan di suatu jalan yang penuh dengan duri? Begitulah takwa.”

Perintah bersungguh-sungguh juga terdapat dalam perintah Allah untuk berpegang teguh dengan wahyu Allah, Alquran,

 فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguh lah dengan sesuatu yang diwahyukan kepadamu, sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az Zukhruf [43]: 43) Dalam bahasa Arab, kata “istamsik” menunjukkan makna penekanan, berbeda dengan “imsik” atau “tamassak” (berpeganglah). Dalam hadis perintah berpegang teguh kepada sunnah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Peganglah sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham!” Al-Imam Ibnu Rajab mengatakan bahwa maknanya, akan banyak pengganggu-pengganggu yang mengganggu seorang muslim agar ia melepaskan sunnah yang dipegangnya.

Perintah bersungguh-sungguh juga terdapat dalam perintah Allah untuk bersabar di dalam beribadah kepada-Nya,

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Allah adalah Rabb langit dan bumi, serta apa yang ada diantara keduanya, maka ibadahilah Dia, serta bersabarlah dengan sungguh-sungguh di dalam beribadah kepadanya, apakah kamu melihat yang serupa dengan-Nya.” (QS. Maryam [19]: 65)

Begitupun dalam bahasa Arab, kata, “ishthabir” menunjukkan makna penekanan, berbeda dengan “ishbir” (bersabarlah)***Wallahu A’lam bish-shawab

Abu Khaleed – Subang

 

 

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. smoga menjadi ilmu bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: