Ilmu dan Khasyah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Faathir [35]: 28)

Ayat ini menunjukkan atas:

1) Penetapan khasyah untuk orang yang berilmu.

2) Penafian khasyah untuk orang yang tidak berilmu, dan

3) Penafian ilmu untuk orang yang tidak memiliki khasyah.

Yahya bin Ja’dah berkata, “Wahai para pembawa ilmu, amalkanlah ilmu itu. Karena sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya, yang ilmunya menyepakati amalnya. Kelak akan ada sekelompok orang yang membawa ilmu, tapi ilmunya tidak melampaui tenggorokannya. Ilmunya menyelesihi amalnya. Kondisi rahasianya berbeda dengan kondisi lahirnya. Mereka duduk dalam lingkaran-lingkaran majelis dan saling membanggakan satu sama lain. Hingga seseoang akan marah kepada teman duduknya karena ia duduk dengan orang lain dan meninggalkannya. Mereka adalah orang-orang yang amal-amal mereka dalam majelis-majelis itu tidak sampai kepada Allah azza wa jalla.

Dari Masruq, “Cukuplah bagi seseorang ilmu, ia takut kepada Allah azza wa jalla. Dan cukuplah bagi seseorang kebodohan, ia merasa takjub dengan ilmu yang dimiliki.

Ibnu Umar berkata, “Tidak dikatakan orang berilmu hingga ia tidak dengki kepada orang yang diatasnya, tidak merendahkan orang yang dibawahnya dan tidak menginginkan nilai materi dengan ilmunya.

Al-Hasan berkata, “Orang yang fakih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan berambisi terhadap akhirat, bashir (jeli melihat kebenaran) dengan agamanya dan kontinyu dalam beribadah kepada Rabbnya.”

Ubaidullah bin Umar, Umar bin Khattab bertanya kepada Abdullah bin Salam, “Siapakah para pengusung ilmu itu?” ia menjawab, “Orang-orang yang mengamalkan ilmunya.”

Abul Aliyah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Nabi Muhammad tentang ayat, “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” Maka mereka berkata, “Siapa pun yang memaksiati Allah maka ia jahil, dan siapa saja yang bertaubat sebelum mati, maka ia bertaubat dengan segera.”

Diantara yang menjelaskan bahwa ilmu mewariskan khasyah dan tidak adanya ilmu menyebabkan tidak adanya khasyah adalah:

Pertama, ilmu tentang Allah ta’alaa dan tentang nama-nama serta sifat-sifat yang dimiliki-Nya seperti al-Kibriya, al-Adzomah, al-Jabarut dan al-Izzah mewariskan khasyah dan tidak memiliki ilmu tentangnya menyebabkan tidak adanya khasyah.

Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَوَاللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ، وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَة

“Dan demi Allah, Sesungguhnya aku adalah yang paling mengetahui tentang Allah, dan aku adalah yang paling takut kepada-Nya.” (HR Bukhari Muslim)

Juga sabdanya,

لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

“Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari Muslim)

Bisyr bin Harits berkata, “Jika manusia memikirkan tentang keagungan Allah, niscaya ia tidak akan bermaksiat”

Kedua, ilmu tentang rincian perintah Allah dan larangan-Nya, pembenaran yang kuat terhadapnya dan akibat yang ditimbulkan dari janji dan larangan-Nya, pahala dan siksa-Nya, disertai keyakinan tentang pengawasan Allah, semuanya mewariskan khasyah, kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Dan yang menghalangi khasyah serta menyebabkan seseorang terjatuh pada perbuatan yang dilarang adalah karena lalai dari mengingat semua perkara ini.

Sikap lalai (ghaflah) dan syahwat adalah pokok kerusakan. Allah berfirman,

مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا  وَلا تُطِعْ

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

Hawa nafsu tidak secara menyendiri menjatuhkan seseorang kepada keburukan, melainkan disertai dengan kebodohan. Karena sesungguhnya seorang yang memiliki hawa nafsu, jika ia mengingat semua perkara di atas (ilmu) dan selalu hadir dalam pikirannya, maka hal itu mampu mewariskan khasyah yang dapat menghalanginya dari hawa nafsu.

Ketiga, gambaran tentang hakikat sesuatu yang ditakuti akan membuat seseorang lari darinya dan gambaran tentang sesuatu yang dicintai akan membuat seseorang berusaha mencarinya. Jika ia tidak berusaha lari dari yang ditakuti dan tidak berusaha mencari yang dicintai, berarti gambaran tentang keduanya tidak sempurna. Bisa jadi karena ia lebih sibuk dengan perkara-perkara lain. Maka hal ini tidak menggerakkan hatinya untuk lari dari yang ditakuti dan mencari yang dicintai.

Terdapat atsar dari al-Hasan, diriwayatkan juga dari Nabi secara mursal, “Ilmu itu dua; ilmu yang ada dalam hari, maka ia ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang hanya di lisan, maka ia kelak akan menjadi hujjah Allah atas anak adam.”

Keempat, banyak dosa disebabkan karena orang yang mengerjakannya jahil dengan hakikat buruknya dosa tersebut, kemurkaan Allah atasnya dan ancaman Allah atas perbuatan tersebut secara rinci. Karena jika ia mengetahui hakikat buruknya perbuatan dosa tersebut, maka hal itu akan membuat ia takut.

Kelima, setiap orang yang mengetahui dengan yakin bahwa perbuatan dosa dapat mencelakakannya, pasti ia tidak akan melakukannya. Dan ini termasuk kekhususan akal. Sesungguhnya jiwa dengan tabiatnya akan selalu menjauh dari segala yang dapat membahayakan. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jiwa dengan karakter suka terhadap yang bermanfaat dan benci terhadap sesuatu yang berbahaya.

Keenam, kenikmatan dalam dosa tidak sebanding dengan penderitaan dan kerusakan yang diakibatkannya. Kelezatannya cepat hilang, sementara balasannya sangat  menyakitkan. Oleh karena itu dikatakan, “Sabar untuk tidak melakukan dosa lebih ringan daripada sabar menanggung siksa.” Dari sini, sesungguhnya dosa tidak akan menggiurkan kecuali bagi orang yang jahil dengan hakikat balasan dan siksa yang akan datang kepadanya.

Ketujuh, orang yang melakukan dosa menginginkan kelezatan. Ia akan merasakan kelezatan itu namun disertai dengan hati yang gundah. Penderitaan yang dialami oleh hati itu jelas tidak sebanding dengan kelezatan dosa yang telah diperbuatnya. Ia tidak mendapatkan kelezatan hati yang hanya ada pada ketaatan dan iman. Karena Allah hanya menjamin kehidupan yang baik itu bagi ahli taat, dan kehidupan yang sempit bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.

Allah berfirman tentang ahli maksiat,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha [20]: 124)

Dan Allah berfirman tentang ahli ta’at,

طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 97)

[Disarikan dari Risalah “Al-Kalam ‘ala Qaulillaahi ta’aala, Innamaa yakhsyallaha min ‘ibadihi Al-Ulama”, Ibnu Rajab al-Hanbali –rahimahullah ta’ala]

Abu Khaleed –

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: