Mari Tebarkan Salam … !

Mengucapkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah amal saleh yang sangat agung, walaupun cukup ringan dilakukan. Menebarkan salam dan mentradisikannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan sebagai perbuatan yang kelak memasukkan pelakunya ke dalam surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: لَا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلَّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga, hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian satu perbuatan yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Terbarkanlah salam antara kalian.”[1]

As-Syuyuthi –rahimahullah– berkata, “Tebarkan salam antara kalian” maksudnya nampakkanlah salam; menebarkan salam dengan tujuan menghidupkan sunnah. Imam Nawawi berkata, “Minimal (salam) dengan mengangkat suara hingga orang yang disalami dapat mendengarnya. Jika tidak, maka ia berarti tidak melakukan sunnah.”[2]

Syaikh Ali Basam –rahimahullah– berkata, “Salam yang penuh berkah dan kebaikan Allah jadikan sebagai ikatan cinta kasih dan persaudaraan antara seorang muslim dengan muslim lainnya dan satu hati dengan hati yang lain.”[3]

Salam Ketika Hendak Bertamu

Disyariatkan salam saat seorang mukmin meminta izin untuk bertamu ke rumah saudaranya. Hal ini sebagaimana firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur: 27)

Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata, “Ini diantara etika-etika syar’i yang Allah buat untuk hamba-hambanya kaum mukminin. Ia adalah isti`dzan (meminta izin), Allah memerintahkan kaum mukminin untuk tidak masuk ke rumah orang lain hingga ia meminta izin terlebih dahulu, kemudian ia mengucapkan salam setelahnya.”[4]

Salam Ketika Masuk Rumah

Seorang muslim juga disyariatkan untuk mengucapkan salam ketika ia masuk ke rumahnya sendiri atau rumah orang tua dan kerabatnya. Allah berfirman,

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (mereka) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An-Nur: 61)

Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata, Ibnu Juraij berkata, menceritakan kepada kami Abu Az-Zubair: aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata, “Jika kamu masuk ke rumah keluargamu maka ucapkanlah salam, sebagai salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.

Dari Thawus, ia berkata, “Jika seorang diantara kalian masuk ke rumahnya, maka hendaknya ia mengucapkan salam.”

Mujahid berkata, “Jika kamu masuk masjid maka katakanlah “As-Salamu ‘alaa Rasulillah”, jika kamu masuk ke rumah keluargamu, maka ucapkanlah salam kepada mereka (penghuni rumah), jika kamu masuk ke rumah dan tidak ada seorang pun di dalamnya, maka ucapkanlah, “As-Salamu ‘alainaa wa ‘alaa ibadillahis Shalihin” (salam atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh)[5]

Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي مَالِك الأَشْعَرِي، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وسَلَّم: إَذَا وَلَجَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَليَقُل: اللَّهُمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ المَوْلِجِ، وَخَيْرَ المَخْرَجِ، بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا ، وَعَلَى اللهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا، ثُمَّ لْيُسَلَّمْ عَلَى أَهْلِهِ

Dari Abu Malik al-Asy’ari –Radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang masuk ke rumahnya, maka ucapkanlah, -“Allahumma inni as`aluka kharal maulij wa kharal makhraj, bismillahi walajnaa wabismillahi kharajnaa wa ‘alallahi rabbanaa tawakkalnaa” – Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu tempat masuk yang baik dan tempat keluar yang baik, dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah Rabb kami, kami bertawakal. Kemudian hendaknya ia mengucapkan salam kepada keluarga/penghuninya.”[6]

Salam Saat Bertemu Sesama Muslim

Ketika seorang muslim bertemu saudaranya di jalan atau di tempat mana pun, ia disyariatkan untuk mengucapkan salam. Bahkan ia merupakan salah satu hak sesama muslim yang selayaknya ditunaikan. Dalam sebuah hadis dinyatakan:

عن أبي هريرة، أنّ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّم قَالَ: حقُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ سِتُّ، قيل: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ ؟، قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّم عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Hak seorang muslim atas muslim lainnya adalah enam.” Dikatakan, “Apa saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jika kamu bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. Jika ia mengundangmu, maka datanglah. Jika ia meminta nasehatmu, maka nasehatilah. Jika ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka balaslah ia (dengan mengucapkan “yarhamukallah”). Jika ia sakit, maka jenguklah. Jika ia meninggal, maka antarkanlah jenazahnya.”[7]

Mengucapkan salam saat bertemu sesama muslim dianjurkan untuk dilakukan kepada orang yang kita kenal atau tidak. Hal ini sebagaimana hadis Nabi:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ الله عَنْهُمَا، أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: أَيُّ الإِسْلَامِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِف

Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam apakah yang paling baik?” beliau bersabda, “Engkau memberi makan (orang lain), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak.”[8]

“Mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak.” Imam Nawawi berkata[9], “Maknanya adalah kamu mengucapkan salam kepada setiap orang yang kamu temui dan tidak mengkhususkannya kepada orang yang kamu kenal saja. Dan dalam hal ini terdapat prinsip ikhlas dalam beramal, bersikap tawadhu dan menebarkan salam sebagai syi’ar umat ini.[10]

Adzim Abadi –rahimahullah– berkata, “Mengkhususkan salam kepada yang dikenal saja adalah salah satu tanda kiamat, sebagaimana tertera dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thahawi dan yang lainnya. Lafadz hadis Thahawi, “Sesungguhnya diantara tanda kiamat adalah salam karena kenal.”[11]

Kaifiyat Salam

Salam paling sedikit dilakukan dengan mengucapkan “Assalamua ‘alaikum”, lalu dijawab paling sedikit dengan “Wa’alaikum salam” jika ingin lebih baik maka ditambah dengan “Wa rahmatullahi”, baik ketika salam atau menjawab salam. Jika ingin lebih baik lagi ditambah dengan “Wa barakatuhu”. Dalam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan lagi dengan “Wa maghfiratuhu”, namun riwayatnya dhaif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.[12] Begitu juga tambahan “Wa ridhwanuhu”, hadisnya bahwa lebih lemah lagi.[13] Maka penambahan salam hanya sampai “Wa barakatuhu”

Hal ini sebagaimana dalam hadis:

عَن عمران بن حصين، قال: جَاءَ رَجُلٌ إلىَ الَّنبِيّ صَلَّى الله عَلَيه وسلَّم فقال: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السّّلّامّ ، ثُمّ َجلَس ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم :عشر،  ثُمَّ جَاءَ آَخَر فقال: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فقال : عشرون، ثُمَّ جَاءَ آخر فقال: السَّلّامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فقال : ثلاثون))

Dari Imran bin Hushain, ia berkata, Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Assalamu ‘alaikum”, maka Nabi menjawab salamnya. Kemudian ia duduk. Lalu Nabi bersabda, “Sepuluh”, kemudian datang lagi yang lain dan berkata, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi”, maka Nabi menjawabnya, kemudian bersabda, “Duapuluh”. Kemudian datang lagi yang lain dan berkata, “Asslamu ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh”, maka Nabi menjawabnya, lalu bersabda, “Tigapuluh.”[14]

Maksud sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sepuluh, duapuluh dan tigapuluh” adalah kebaikan atau pahala yang didapatnya.

Dan menjawab salam dengan yang lebih baik adalah lebih utama. Sebagaimana firman Allah,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)

Siapakah yang memulai salam?

Ketika sebagian muslim bertemu dengan sebagian yang lain, maka siapakah yang disyariatkan untuk memulai salam. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: يُسَلِّم الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيْرِ، وَالمَارُّ عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيْلُ عَلَى الكَثِيْرِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya yang kecil mengucapkan salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak.”[15]

Dalam riwayat lain ada tambahan,

يُسَلِّمُ الرَّاكِب عَلَى المَاشِي

“Mengucapkan salam orang yang berkendaraan kepada yang berjalan”[16]

Dan secara khusus, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa orang yang mengucapkan salam pertama kali adalah yang lebih utama.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِالله مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلَامِ

Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang utama di sisi Allah adalah yang memulai dengan salam.”

Nabi Shallallahu ‘alai wa sallam bahkan karena ketawadhuan dan sifat penyayangnya mengucapkan salam kepada anak-anak:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُوُل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم مرَّ عَلَى غُلْمَان فَسَلَّمَ عَلَيْهِم

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sekumpulan anak-anak lalu mengucapkan salam kepada mereka.”[17]

Bolehkah laki-laki mengucapkan salam kepada wanita?

Ibnu Baththal dari al-Muhlab berkata, “Salamnya kaum laki-laki kepada wanita dan wanita kepada laki-laki adalah boleh, jika aman dari fitnah. Dan ulama Malikiyyah membedakan antara wanita muda dan tua, sebagai bentuk menutup celah keburukan. Adapun Rabiah melarang secara mutlak.” Dalil pembolehan masalah ini adalah hadis:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيد قَالَتْ: مَرَّ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِيْ نِسْوَةٍ، فَسَلَّمَ عَلَيْنَا

Dari Asma binti Yazid berkata, “Rasulullah melewati kami dalam sekelompok wanita, lalu kemudian mengucapkan salam kepada kami.”[18]

Ibnul Qayyim –rahimahullah– berkata, “Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa para sahabat pulang dari shalat jumat dan melewati seorang wanita tua di jalan mereka, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kemudian wanita tua itu membuatkan mereka makanan dari gandum.[19]

Inilah yang benar dalam masalah salam kepada wanita. Salam hanya kepada wanita tua dan wanita-wanita yang termasuk mahram, tidak yang lainnya.[20]

Titip salam

Ibnu Qayyim –rahimahullah- berkata, “Sebagaimana Nabi mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya, beliau pun terkadang menitipkan salam kepada orang yang ingin disalaminya melalui seseorang yang menyampaikannya. Sebagaimana beliau menerima titipan salam dari Allah untuk As-Shiddiqah Khadijah binti Khuwailid -radhiyallahu ‘anha- ketika Jibril berkata kepadanya, “Ini Khadijah yang telah menyediakanmu makanan, sampaikanlah baginya salam dari Rabbnya dan dariku, serta berilah kabar gembira baginya dengan rumah di surga.

Nabi juga berkata kepada As-Shiddiqah yang kedua binti Shiddiq, Aisyah –radhiyallahu ‘anha, “Ini Jibril menyampaikan kepadamu salam” kemudian Aisyah berkata, “Wa ‘alaihis salam warahmatullah wabarakatuh” ia melihat sesuatu yang tidak aku lihat.[21]

Wallahu a’lam wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi ajma’iin.

Abu Khaeed –

 


[1] HR Muslim: no. 54, Abu Dawud, no. 5195

[2] Lihat Mirqat As-Shu’ud ilaa Sunan Abi Dawud, (5/364), Syarh Muslim Nawawi, (2/36)

[3] Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram (7/282)

[4] Tarsir al-Quran al-Adzim (10/204)

[5] Idem (10/277)

[6] HR Abu Dawud (4453)

[7] HR Muslim (4118)

[8] HR Bukhari (12, 28, 5891), Muslim (81)

[9] Syarh Muslim (2/36)

[10] Lihat Mirqaat As-Shu’ud (5/364)

[11] Aunul Ma’bud, (2/2357)

[12] Ibnul Qayyim mengomentari hadis ini, “Pada hadis ini terdapat tiga kecacatan. Pertama, ia adalah riwayat Abi Marhum Abdurrahman bin Maimun, ia seorang yang tidak dapat dijadikan hujjah. Kedua, pada sanadnya juga terdapat Sahl bin Mu’adz, ia pun begitu (tidak dapat dijadikan hujjah). Ketiga, bahwa Said bin Abi Maryam, salah seorang rawinya tidak yakin dengan riwayatkan, akan tetapi berkata, “Saya kira bahwa saya mendengarnya dari Nafi bin Yazid. (Lihat Zaad al-Ma’aad (2/381)

[13] Zaad al-Ma’aad (2/382)

[14] HR Abu Dawud (5195), Tirmidzi (2689), Ahmad (19336)

[15] HR Bukhari (6231, 6232), Muslim (2160), Abu Dawud (5198) Tirmidzi (2703, 2704), Ahmad (8113, 10246, 27379)

[16] HR Abu Dawud

[17] HR Bukhari (6247), Muslim (2168)

[18] HR Abu Dawud (5204), Tirmidzi (2697),

[19] HR Bukhari (11/13)

[20] Zaad al-Ma’aad (2/376)

[21] HR Bukhari (7/105), Lihat Zaad al-Ma’aad (2/380)

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: