Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah;

Sebagaimana yang dikenal oleh salah seorang muridnya Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ibrahim Abul ‘Ainain – hafidzahullah.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri-diri kita dan keburukan amal-amal kita. Siapa saja yang Allah berikan hidayah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang Ia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du: Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di neraka.

Wa ba’du: Telah diriwayatkan secara valid dari Nabi kita bahwa ia bersabda, “Tidak akan datang suatu zaman melainkan yang sesudahkan akan lebih buruk darinya.” Ini merupakan dalil atas perubahan yang akan dialami oleh manusia dan keadaan mereka pada akhir zaman.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Mirdas al-Aslami radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang shaleh akan pergi satu demi satu. Dan tersisa hufalah (sesuatu yang buruk, maksudnya manusia-manusia yang tidak ada kebaikan padanya -pent) seperti hufalah gandum dan kurma, Allah tidak mempedulikan mereka.” Imam Bukhari berkata, “disebutkan hufalah dan hustalah, keduanya bermakna sama.

Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadis Abu Musa dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhuma keduanya berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya menjelang hari kiamat akan ada masa yang padanya merebak kebodohan, ilmu diangkat dan merebak al-harj, dan al-harj adalah pembunuhan”

Dalam Shahihain dari hadis Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga Allah tidak menyisakan satupun seorang ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”

Dalam shahihain juga, dari Hudzaifah radhiyalllahu anhu berkata, menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dua hadis yang aku menyaksikan salah satunya, dan menunggu salah satunya lagi, beliau menceritakan kepada kami, “Sesungguhnya amanat turun pada hati orang-orang, kemudian mereka mengetahuinya dari Al-Quran, kemudian mereka mengetahuinya dari Sunnah.” Dan menceritakan kepada kami tentang bagaimana hal (amanat) itu diangkat, beliau bersabda, “Seseorang tidur, lalu dicabut amanah dari hatinya dan tersisalah bekasnya setitik. Kemudian tidur lagi lalu dicabut lagi amanah itu hingga tersisa seperti kulit yang melepuh, seperti bara api yang kamu lemparkan dari kakimu, kemudian kaki itu menjadi melepuh, engkau lihat bengkak namun di dalam nya tidak ada apa-apa (yang baik). Maka jadilah orang-orang berniaga dan hampir tidak ada satupun yang menunaikan amanat. Lalu dikatakan, sesungguhnya pada bani fulan ada seorang yang anamah, hingga orang itu disebut-sebut sebagai orang yang paling berakal, paling sukses dan paling kuat dan sabar, padahal dalam hatinya tidak ada sebesar biji khardal pun keimanan.” (Hudzaifah berkata) Sungguh aku mendapati zaman itu (amanat), ketika aku tidak peduli dengan siapa pun aku berniaga. Jika seorang muslim, ia akan menunaikan (amanat) itu karena agamanya, dan jika seorang nashrani atau yahudi, maka ia akan menunaikan (amanat) itu karena perwaliannya. Adapun hari ini, maka aku tidak berniaga kecuali dengan si fulan dan si fulan.

Dalam hadis-hadis ini terdapat penjelasan bahwa para ulama yang beramal (dengan ilmunya) akan semakin sedikit pada akhir zaman. Bahwa seseorang mungkin akan kamu lihat menakjubkan perkataan dan penampilannya, padahal dalam hatinya tidak ada sebesar biji pun keimanan, kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar, dan mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Diantara para ulama yang sedikit itu, yang kita tidak mentazkiah mereka atas Allah azza wa jalla; adalah guru kami Muqbil bin Hadi –hafidzahullah- beliau termasuk yang kami anggap ulama yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Dan dari sisi keilmuan, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa beliau termasuk orang yang mencintai ilmu hadis, melebihi cintanya kepada keluarga dan hartanya.

Ilmu Hadis

Banyak orang jika melihat seorang muhaqqiq buku telah secara luas mentakhrij sebuah hadis dengan menyebutkan halaman serta nomor hadis, tertipu dengannya dan menyangka bahwa muhaqqiq itu termasuk ulama besar. Padahal banyaknya isi takhrij saja walaupun ia bermanfaat dan menunjukkan atas ilmu tidaklah cukup. Ilmu yang sesungguhnya adalah yang dikandung oleh hati. Sebagian muhaqqiq ilmunya hanya ada pada lembaran-lembaran kertas yang ditulisnya. Mungkin jika mereka bertemu dengan sanad yang padanya ada nama rawi Abu Ishaq as-Sabi’i, atau al-A’masy, atau Zuhair bin Mu’awiyah, mereka segera pergi dan melihat biografinya (dalam kitab). Karena ilmunya adalah kembali kepada buku dalam segala sesuatu.

Adapun guru kami –hafidzahullah- maka ia sangat bersemangat untuk mempelajari kondisi para perawi, fulan lebih tabt (kuat) dalam riwayat pada fulan, fulan dalam riwayatnya dari si fulan dhaif, fulan tidak mendengar dari si fulan, fulan lebih khusus dengan si fulan dari yang lainnya. Dan sungguh kami mengetahui melalui penyertaannya bahwa beliau adalah orang yang sangat berambisi terhadap pengetahuan itu semua, lebih dari keinginannya terhadap makan dan minum. Ini lah ilmu yang hakiki. Jika beliau mendapati  dalam sebuah sanad perselisihan, maka ia akan mentarjih antara para perawi itu dan menghukumi antara mereka, seolah beliau hidup di tengah-tengah mereka. begitulah jika beliau berbicara  dengan suatu pembicaraan mengenai masalah-masalah ini maka perkataannya sangat berbobot.

Adapun orang yang modal ilmunya hanya kembali kepada kitab dan tidak memiliki kemampuan untuk menyeleksi para perawi, maka ia akan kebingungan, atau menempuh cara-cara ahli matematika. Ia akan berkata, “tiga menyelisihi satu, maka yang tiga benar dan yang satu salah. Padahal masalah seperti ini (ilmu hadis) bukanlah masalah perhitungan metematis belaka. Jumlah, walaupun memiliki peran dalam soal tarjih, akan tetapi bukanlah satu-satunya alat untuk mentarjih.

Mari kita lihat sebuah hadis misalnya, “Bahwa Nabi menerima hadiah dan membalas atas hadiah” hadis ini dikeluarkan oleh Bukhari melalu jalur ‘Isa bin Yunus, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah. Berkata Bukhari setelahnya, “Tidak disebutkan Waki’ dan Muhadhir dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah.” Maksudnya, bahwa keduanya meriwayatkan hadis secara mursal dari Urwah. Abu Dawud ditanya tentang hadis tersebut, ia menjawab, “Isa telah menyendiri dengan riwayatkannya secara maushul (bersambung; tidak mursal), padahal hadis ini dalam riwayat yang lain mursal. Imam Ahmad berkata, “Isa bin Yunus mengisnadkan hadis hadiah, padahal yang lain memursalkannya. Ibnu Ma’in juga berkata seperti itu.

Walaupun demikian, Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dengan riwayat yang maushul. Yang dimaksud disini bukanlah menjelaskan yang rajih dari kedua pendapat itu. Akan tetapi penjelasan bahwa Imam Bukhari merajihkan jalur riwayat yang maushul bukan dengan alasan jumlah, namun dengan kemampuannya yang dimilikinya berupa ma’rifah ahwal rijal (pengetahuan tentang kondisi-kondisi para perawi).

Bagi yang memperhatikan bantahan al-Hafidz Ibnu Hajar terhadap Daraquthni dan yang lainnya tentang hadis-hadis yang dikritiknya atas Imam Bukhari akan jelas baginya hal itu. Lihat misalnya jawaban beliau (Ibnu Hajar) tentang hadis pertama yang termasuk hadis yang dikritik itu dalam muqaddimah “Al-Fath”. Dalam sela-sela jawabannya beliau berkata, “dan hal itu dikuatkan dengan bahwa al-Ismaily ketika mengeluarkan hadis ini dalam “mustakhraj” nya atas shahih (Bukhari) dari jalur Yahya bin Said al-Qaththan dari Zuhair, berdalil dengannya bahwa hadis ini diantara hadis yang Abu Ishaq tidak melakukan tadlis padanya. Karena Yahya bin Said tidak ridha mengambil dari Zuhair sebuah hadis yang tidak dengan sama’ (mendengar) bagi Syaikh nya. Seolah beliau mengetahui semua ini dengan istiqra (penelitian) tentang kondisi Yahya, wallahu a’lam.

Tujuan dari semua paparan ini adalah untuk menjelaskan bahwa wawasan tentang kondisi para rilaj hadis secara luas adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh seorang muhaddis, bahkan ia adalah pokok ilmu hadis. Orang yang mengenal syaikh kami atau duduk dengannya akan tahu semangatnya yang sangat besar dalam hal itu. Sedikit orang yang bisa kamu temukan orang yang sepertinya dalam hal ini.

Sebagian muhaqqiq kontemporer engkau saksikan mentahqiq, mencatat dan menetapkan dalam lebaran-lembaran, “hadis ini shahih” dan “hadis ini dhaif”. Adapun yang ada dalam hapalannya hanyalah sedikit. Yang paling bagus keadaannya adalah yang mampu menghapal hadis ini dhaif atau shahih. Adapun syaikh kami, Muqbil –hafidzahullah- jika beliau ditanya tentang suatu hadis dhaif, maka biasanya beliau menyebutkan pula sebab kedhaifannya; seperti padanya ada si fulan dan ia dhaif, atau matruk, atau ia dari jalur si fulan, ia meriwayatkan dari si fulan dan ia tidak mendengar darinya. Dan begitulah beliau hafal sebab kedhaifannya. Tidak diragukan bahwa orang yang mendengar akan lebih mengambil manfaat dari yang demikian, dan hal ini lebih menunjukkan hujjah yang kuat dan dengan ini ilmu lebih dapat tersebar. Kita memohon kepada Allah agar mentazkiyah kita pada bidang ini.

Ilmu Fikih

Sebagian orang berkata bahwa guru kami tidak memiliki perhatian terhadap bidang fikih. Maka aku katakan, bahwa Syaikh dalam hal ini menempuh jalannya Imam Bukhari dan yang lainnya dari kalangan ahli hadis yang sandaran mereka dalam masalah-masalah hukum adalah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Imam Bukhari –rahimahullah- kitabnya adalah kitab fikih dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyebutkan bab untuk suatu masalah dan menyertakan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas masalah tersebut. Oleh karena itu sering beliau mengulang suatu hadis dalam benyak tempat sesuai kebutuhan istidlalnya dengan hadis tersebut.

Dan guru kami menempuh metode ini serta mengilzam dirinya dengan metode tersebut. Maka setiap beliau ditanya tentang suatu masalah beliau jawab dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah padanya ada sesuatu yang bermasalah?! Dengan tentu saja beliau pun merujuk kitab-kitab fikih untuk mengetahui penjelasan para ulama setiap beliau membutuhkannya.

Dakwah

Sebagian pentahqiq di zaman sekarang, besar keinginannya hanyalah mentahqiq. Mereka tidak memiliki peran dalam dakwah, bahkan sebagiannya tidak memiliki peran sama sekali. Adapun guru kami, beliau sangat bersemangat dalam dakwah kepada Allah, mengkhusukan para muridnya dan mendorong mereka untuk berdakwah. Sering beliau menyuruh salah seorang muridnya untuk menjadi khatib jum’at dan beliau duduk untuk menyemangatinya.

Beliau mengkhususkan sebagian murid-muridnya untuk berdakwah ke kota-kota dan kampung-kampung. Pada suatu waktu beliau menyuruh seorang ikhwan yang rajin menuntut ilmu untuk berangkat berdakwah kepada Allah dan ia menolak. Maka Syaikh menginggalkan pelajarannya dan tidak mengajar selama satu atau dua hari hingga salah seorang ikhwan tersebut mau mencabut cara berfikirnya dan berangkat untuk berdakwah.

Beliau juga tidak membawa para muridnya kepada pendapatnya. Beliau tidak pernah marah jika sebagai mereka berbeda dari ijtihadnya walaupun ia menampakkan bahwa ia menguatkan pendapat selain beliau dari kalangan sebagaian ahli ilmu yang termasuk angkatannya. Beliau tidak suka murid-muridnya taklid kepada dirinya, akan tetapi beliau senantiasa mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam ilmu dan amal. Hingga sering secara terang-terangan beliau menyatakan bahwa beliau ingin melihat murid-muridnya lebih baik dari beliau. Hal itu nampak bagi siapa pun yang hidup berdampingan dengannya. Bersama hal itu beliau juga sangat mencintai dan mengormati guru-gurunya dengan tanpa taklid. Jika beliau menyelisihi Syaikh Al-Albani dalam suatu permasalahan, beliau tidak secara terang menyebutkan namanya, sebagaimana hal itu diketahui oleh siapa saja yang sering menelaah kitab-kitab syaikh kami. Beliau menjelaskan apa yang benar dalam pandangannya tanpa menampakkan secara terang bahwa beliau mengkritik gurunya.

Kemurahan dan Zuhud

Jika beliau melihat seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh, beliau akan menolongnya dengan segenap kemampuan. Hingga jika beliau mampu melepas pakaian yang dipakainya, maka beliau akan melakukannya. Beliau tidak menyembunyikan apa pun dari penuntut ilmu. Beliau sunguh benar dan besemangat atas ilmu. Mengajar adalah kesibukannya. Adapun dunia, maka ia tidak meliriknya. Beliau tidak mengambil keuntungan dari kitab-kitab yang ditulisnya. Jika datang seseorang dengan sesuatu yang ingin ia infakkan dalam dakwah, ia tidak masuk ke rumah beliau. Akan tetapi menyimpannya dalam sebuah kotak, agar kemudian salah seorang muridnya mengambil dan menginfakkan darinya kepada para penuntut ilmu dan untuk kegiatan dakwah kepada Allah. Rumah beliau sebagaimana pada awal mulanya dibangun dengan batu bata. Nafkah untuk rumahnya sama dengan infak untuk para pencari ilmu, bahkan terkadang lebih sedikit.

Sikap Adil

Sebagian orang mengkritik beliau bahwa beliau keras terhadap orang-orang yang menyelisihinya. Maka kami katakan, bahwa beliau keras terhadap orang-orang yang memalingkan manusia dari ilmu dan amal serta menyibukkan mereka dengan politik. Akan tetapi beliau juga tidak suka menyakiti seorang pun dan menghancurkan sesuatu yang bermanfaat bagi Islam. Sebagaimana nampak sikap kasarnya terhadap Ikhwanul Muslimin, namun beliau selalu menentang ditutupnya mahad-mahad ilmu yang dikuasai oleh orang-orang Ikhwan, sebab beliau melihat manfaat yang lebih banyak darinya dibandingkan dengan sekolah-sekolah pendidikan umum.

Itulah yang saya sebutkan, bukan bermaksud untuk menyanjung-nyangjung Syaikh. Karena sesungguhnya saya tahu bahwa syaikh tidak akan suka, tapi membencinya. Saya menyebutkan semua itu karena saya melihat padanya ada manfaat yang bisa dipetik oleh para penuntut ilmu, agar mereka bisa berperangai dengan akhlak baik ahli ilmu. Seorang yang bersemangat atas sesuatu yang bermanfaat baginya akan selalu mengambil faidah dari para ahli kebaikan. Maka setiap kebaikan yang ada pada seseorang, ia akan berusaha untuk memilikinya. “Dan pada yang demikian orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba itu saling berlomba”

Dalam Shahihain dari Abdullah bin Masud, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang; kepada seorang yang Allah karuniakan harta, kemudian ia diberikan kemampuan untuk menghabiskannya dalam kebenaran. Dan kepada orang yang diberi hikmah (ilmu), kemudian ia memutuskan (perkara) dengannya dan mengajarkannya.”

Sebagian orang jika mendengar kisah salafusaleh tidak tergerak hatinya untuk mentauladani mereka. Seolah mereka adalah makhluk lain. Adapun jika kisah itu adalah orang yang di zaman kita, hidup di tengah-tengah kita dan mereka mentauladani salafusaleh, maka mereka menjadi pembangkit yang membangkitkan orang lain untuk juga mentauladani salafusaleh.

Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar membimbing tangan dan pikiran kita kepada kebaikan hingga kita menjadi orang yang layak mewarisi surga firdaus dalam tempat yang baik di sisi Raja yang Maha berkuasa. Sesungguhnya Allah wali dan Maha berkuasa atas yang demikian. Sebagaimana kita juga memohon kepada Allah agar memanjangkan umur Syaikh, agar Allah menjadikannya bermanfaat untuk Islam dan kaum muslimin. Kita juga memohon kepada Allah agar mengampuni segala yang telah kita perbuat, yang kita akhirkan dan sembunyikan, yang kita nampakkan dan Allah lebih mengetahui dari kita. Wa akhiru da’wanaa anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Abu Abdillah Ahmad bin Ibrahim bin Abul ‘Ainain

[Diterjemahkan dari pengantar kitab “Ahaditsu Mu’allatu Dzahiruhaa As-Shihhah”, Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-, cet Dar Al-Atsar, hal. 7-13]

Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. Mengenal Lebih Dekat Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah- « Dakwah Salaf Download Ebook Ceramah Islam MP3 Gratis
  2. Mengenal Lebih Dekat Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah- | widagdo abi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: