Ada Ketenangan Dalam Shalat

Ibadah shalat merefleksikan ketundukan dan perasaan rendah di hadapan Allah. Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusyu adalah suplai energi bagi kekuatan iman dalam hati. Bisa dipastikan, kebahagian dan kenikmatan hati orang yang beriman, terdapat dalam shalat. Suatu waktu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat…” (HR Ahmad)

Shalat bisa menyegarkan iman dan menumbuhkan semangat melaksanakan beragam amal shaleh yang Allah perintahkan, serta mencegah keburukan prilaku dan perbuatan. Allah berfirman, “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Ankabut : 45)

Singkatnya, shalat adalah penolong utama bagi seorang hamba guna meraih berbagai kemaslahatan dunia dan agama. Allah berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'” (Al-Baqarah : 45)

Jika seorang hamba melaksanakan shalat secara kontinyu dan menjaganya dengan baik, gairahnya untuk melaksanakan amal-amal kebaikan akan menguat dan ketaatan akan semakin terasa ringan. Semuanya akan ia lakukan dengan perasaan bahagia, karena yang ia harapkan adalah limpahan pahala disisi Allah.

Allah akan membantu setiap hamba yang berkeinginan melaksanakan ketaatan secara terus-menerus. Sehingga, kewajiban shalat yang pada asalnya adalah beban (taklif), bagi seorang hamba yang telah mampu mencapai kontinuitas pelaksanaannya, kewajiban itu menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan.

Kemampuan menghadirkan keutamaan shalat yang begitu banyak dalam pikiran, sesungguhnya memberikan cita rasa tersendiri bagi orang-orang yang telah sangat terbiasa melakukan ritual shalat. Tidak ada rasa malas, seperti ciri orang-orang munafik yang Allah gambarkan dalam Alquran saat mendirikan shalat.

Kondisi ini selanjutnya akan membawa manusia pada ketenangan hidup di dunia. Shalat mengganjar para pelaksananya dengan aneka manfaat yang akan dirasakannya bahkan saat masih di dunia. Ketenangan yang lahir dari perasaan tergantung kepada Allah membuat seseorang bagaikan karang yang tetap tegar saat dihantam ombak. Beragam kesulitan hidup dan musibah yang tidak jarang mengisi kehidupan di dunia akan dengan tenang dihadapi. Karena ia yakin bahwa semua itu adalah ujian yang bisa mengangkat derajat keshalehannya.

Dengan demikian, ada ketenangan dalam shalat. Syaratnya shalat itu dilakukan dengan kualitas terbaik; khusu’ dan sesuai kaifiyat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau bersabda, “Shalatlah kalian sabagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaq ‘alaih)***Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: