Nasehat Untuk Pemuda Salafiyyin; Kewajiban dalam menyikapi perselisihan, aturan boikot (hajr) dan membantah orang yang menyelisihi bag (1)

Oleh: Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzahullahu ta’ala

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya dan seluruh para sahabatnya, Amma ba’du.

Ini adalah nasehat bagi para pemuda ahli sunnah wal jamaah, sebagai bentuk konstribusi nasehat bagi kaum muslimin dan upaya ishlah antara ahli sunnah, berdasarkan nusush (dalil) yang memerintahkan hal itu.

Semua ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang tengah dialami oleh para pemuda salafiyyin di banyak negeri islam, bahkan di beberapa negeri kafir yang dihuni oleh minoritas kaum muslim, berupa perpecahan yang sangat dahsyat, disebabkan karena persoalan-persoalan ilmiah dan sikap-sikap yang diterapkan dalam menyikapi orang-orang yang dianggap menyelisihi. Begitu juga apa yang timbul dari hal itu berupa saling memutuskan (silaturahmi), saling menjauhi, bahkan permusuhan dan kebencian antara sesama ahli sunnah. Hingga fitnah menjadi besar dan krusial, berpengaruh buruk terhadap perjalanan dakwah sunnah bahkan menghalangi manusia untuk memeluknya setelah sebelumnya manusia tertarik dengan sunnah tersebut di banyak negeri dan negara.

Saya menyimpulkan nasehat ini dalam beberapa point berikut. Saya memohon kepada Allah agar dikaruniai keikhlasan dalam niat dan kebenaran dalam kata, juga menjadikan nasehat ini bermanfaat bagi siapa saja kaum muslimin yang membacanya.

Pertama, diantara pokok-pokok agama yang telah tetap adalah, bahwa seorang muslim hendaknya memiliki perhatian untuk memperbaiki dirinya sendiri, berusaha menyelamatkannya dan menjauhi sebab-sebab yang dapat mencelakakannya, sebelum ia sibuk mengurusi urusan orang lain. Allah berfirman, “Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang selamat dari kerugian itu adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Allah menyebutkan mereka menerapkan keimanan dan amal shaleh pada diri mereka sendiri sebelum ia mengajak orang lain dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini adalah ketentuan dalam masalah ini.

Allah mencela orang-orang bani Israil karena mereka menyalahi ketentuan ini dengan firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Oleh karena itu, hendaknya para pemuda memperhatikan perbaikan dirinya sebelum ia sibuk memperbaiki orang lain. jika mereka istikamah atas hal itu dan mampu menggabungkan antara melaksanakan agama Allah bagi dirinya dan berdakwah kepada orang lain, maka mereka berada di atas ajaran salaf dengan sebenar-benarnya, serta berarti Allah memberikan manfaat melalui perantaranya. Mereka menjadi penyeru kepada sunnah dengan perkataan dan perbuatannya. Dan ini demi Allah, sungguh derajat paling tinggi, siapa saja yang diberi taufik kepadanya berarti ia termasuk orang-orang pilihan dari hamba-hamba Allah yang mendapat derajat tinggi kelak di hari akhir.

Allah berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Kedua, hendaknya diketahui bahwa ahli sunnah yang benar adalah para pengamal ajaran islam secara sempurna, baik dalam sisi akidah atau akhlaknya. Maka, termasuk pemahaman yang keliru, menyangka bahwa sunni atau salafy adalah orang yang hanya melaksanakan akidah ahli sunnah saja dan tidak memperhatikan sisi akhlak, etika islam dan penunaian hak sesama muslim antara mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pada akhir kitabnya “Akidah Washithiyyah” berkata, setelah beliau menyebutkan pokok-pokok ahli sunnah dalam akidah, “Kemudian mereka (ahli sunnah) bersama dengan pokok-pokok ini, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari  yang munkar sesuai dengan apa yang dituntut oleh syariat. Mereka meyakini wajibnya menunaikan haji, jihad, shalat jumat dan hari raya bersama umara (pemerintah) mereka, baik mereka baik atau jahat. Menjaga jamaah, memberi nasehat bagi ummat dan meyakini makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan,” kemudian Nabi menjalinkan jari-jarinya. Begitu juga sabda Nabi, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang seperti satu jasad. Jika salah satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan terserang demam dan tidak dapat tidur.

Mereka juga memerintahkan untuk bersabar menghadapi bencana, bersyukur saat lapang dan ridha dengan ketentuan Allah. Mereka mengajak kepada akhlak mulia dan amal-amal baik. Mereka meyakini makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukim yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

Mereka mengajarkan agar engkau menyambung orang yang memutuskan (silaturahmi), memberi pada orang yang tidak memberimu dan mema’afkan pada orang yang menzalimimu. Mereka memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua, memerintahkan untuk bersilaturahim dan berbuat baik pada tetangga. Mereka mencegah dari perbuatan sombong dan berbangga diri, melampaui batas dan bertindak lalim atas manusia baik dengan hak atau tanpa hak. Mereka memerintahkan akhlak yang luhur dan melarang dari akhlak yang rendah.

Setiap yang mereka katakan dan perbuat dari semua ini, mereka mengikuti Al-Quran dan sunnah. Jalan yang mereka tempuh adalah Islam yang Allah utus dengannya Muhammad shallalallahu ‘alahi wa sallam. (al-Akidah al-Wasithiyyah, cet Dar salaf. 129, 131)

Ketiga, sesungguhnya tujuan agung yang diperintahkan Islam adalah memberikan petunjuk kepada manusia pada agama ini. Sebagaimana Nabi bersabda kepada Ali ketika beliau mengutusnya ke khaibar, “Sungguh jika Allah memberikan hidayah melalui mu satu orang saja, maka ia lebih baik bagimu dari untuk merah.” (HR Bukhari Muslim)

Maka siapa saja yang telah Allah beri nikmat atas mereka dengan petunjuk sunnah, hendaknya mereka juga memiliki semangat untuk berdakwah kepada orang-orang yang tersesat darinya, atau kurang dalam melaksanakannya. Juga hendaknya mereka mengerahkan segenap cara yang dimampuinya untuk memberikan hidayah itu kepada manusia dan mendekatkan hati mereka untuk menerima kebenaran. Hal itu dilakukan dengan cara menyampaikannya secara santun. Sebagaimana Allah berfirman kepada nabi Musa dan Nabi Harun, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 43-44)

Allah memerintahkan untuk berbicara dengan lemah lembut kepada orang yang Allah kabarkan melampaui batas dan diketahui bahwa ia mati dalam kepadaan kafir. Maka, apalagi dengan orang yang di bawahnya dari dari kalangan kaum muslimin yang menyelisihi syariat.

Begitu juga berbicara kepada orang-orang yang didakwahi dengan gelar-gelar yang sesuai dengan kedudukannya. Nabi pernah menulis kepada Helaklius dengan, “kepada Helaklius, penguasa romawi.” Beliau juga pernah membuat kunyah untuk Abdullah bin Ubai bin Salul dengan Abul Habbab.

Hendaknya juga menjaga kesabaran atas sikap kurang baik orang-orang yang didakwahinya, menghadapinya dengan sikap ihsan dan tidak tergesa-gesa agar mereka menerima dakwah ini. Allah berfirman, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

Keempat, hendaknya para penuntut ilmu –khususnya para da’i- mampu membedakan antara sikap mudaarah (mudah bergaul) dan mudaahanah (menjilat). Mudaarah adalah sesuatu yang baik. Ia berkaitan dengan sikap santun dalam bergaul. Dalam “Lisanul Arab” disebutkan, “mudaarah kepada manusia artinya berlemah lembut kepada mereka, bergaul dengan baik dan menjaga agar mereka tidak lari darimu.” Adapun mudaahanah adalah sifat tercela. Ia terkait dengan agama, Allah berfirman, “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al-Qalam: 9)

Hasan al-Basri berkata tentang tafsir ayat ini, “mereka menginginkan jika kamu membujuk  mereka dalam agamamu, maka merekapun membujukmu dalam agama mereka.” [Tafsir Baghawi 4/377]

Mudaarah adalah santun dalam bergaul tanpa menelantarkan sedikitpun dari agama. Adapun penjilat mendekati orang lain dengan menelantarkan agama. Nabi adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada umatnya. Ini diantara sisi ajaran lembut dan santun Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Akan tetapi beliau juga adalah orang yang paling kuat memegang agama Allah dan tidak menelantarkannya sedikitpun karena seseorang dan dalam kondisi apapun. Ini adalah sisi keteguhan memegang agama yang sama sekali menafikan sikap menjilat.

Maka, hendaknya para penuntut ilmu memperharikan perbedaan antara keduanya. Karena sebagian orang ada yang menyangka bahwa mudah bergaul dengan manusia dan santun kepada mereka itu berarti lemah dalam agama dan bersikap lembek. Bahkan sebagian mereka menganggap bahwa bersikap lembut itu berarti menyetujui kebatilan dan diam dari kesalahan. Keduanya telah keliru dan menyimpang dari kebenaran. Hati-hatilah dengan hal ini. Karena ini adalah kekeliruan berbahaya yang tidak selamat darinya kecuali orang yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah.

Bersambung, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Dilansir tanggal 2/11/2009

Al-Ibanah – Surat kabar nasional Kuwait

Abu Khaleed – sumber :

http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=3463

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. ana ijin copy ya ustadz resa. jazakalahu khaer

    Balas
  1. Nasehat Untuk Pemuda Salafiyyin; Kewajiban dalam menyikapi perselisihan, aturan boikot (hajr) dan membantah orang yang menyelisihi (Bagian 1) « SALAFIYUNPAD™

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: