Menyadari Bahaya Dengki

Dengki merupakan sifat tercela. Ia adalah perasaan tidak senang dengan kebahagian orang lain, disertai keinginan agar kebahagian itu hilang darinya.

Sifat dengki didorong oleh cinta dunia. Karena, orang-orang yang mencintai akhirat justru saling mencintai dan tidak saling mendengki. Allah ta’ala berfirman, “Dan mereka tiada menaruh keinginan (dengki) dalam hati mereka (kaum Anshar) terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin).” (QS. Al-Hasyr [59] : 9)

Seorang mukmin yang baik akan selalu mengembangkan rasa cinta serta mendoakan kebaikan bagi saudaranya. Ia juga akan senantiasa memohon kepada Allah agar diselamatkan dari sifat dengki. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr [56] : 10)

Dihikayatkan, sahabat Abu Darda setiap malam mendoakan saudara-saudaranya. Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepada putra Imam Syafi’i, “Bapakmu adalah diantara enam orang yang selalu aku doakan setiap malam pada waktu sahur.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu dalam jual beli, saling membenci dan saling membelakangi, dan janganlah pula sebagian kalian menjual atas barang jualan sebagian yang lain serta jadilah kalian hamba Allah yang senantiasa bersaudara.” (HR. Muslim)

Sifat dengki begitu juga ditimbulkan oleh lemahnya keyakinan seseorang terhadap kemahakuasaan Allah atas rizki dan kehidupan hamba-hambanya. Orang yang yakin bahwa segala urusan manusia ada dalam kehendak dan kekuasaan Allah, ia tidak perlu mendengki kepada orang lain. Ia yakin bahwa semua yang manusia dapatkan dan nikmati di dunia ini telah diatur oleh Allah dengan sangat sempurna

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Azzkhruf [43]: 32)

Allah mensifati orang-orang Yahudi dengan sifat dengki, sebagaimana yang tertera dalam Alquran, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [02]: 109).

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya.” (QS. An-Nisa [04]: 54).

Sifat dengki tidak bisa dianggap remeh. Jika virus ini terus mengendap dalam hati seseorang, ia akan menjelma menjadi usaha-usaha negatif yang merugikan. Seperti tutur kata yang kasar dan menyakiti hati, atau perbuatan dan tindakan yang kerap bermotif menjatuhkan, menghina dan menyudutkan. Bahkan, tidak jarang kedengkian yang terpelihara dalam hati seseorang kemudian berbuntut tragedi pembunuhan. Seperti yang pernah terjadi pada kedua putra Nabi Adam Qabil dan Habil.

Sifat dengki juga dosa yang diwariskan Iblis. Iblis merasa dengki kepada nabi Adam yang lebih tinggi derajatnya. Karena itu, Iblis pun terus menipu daya, agar Adam dan keturunannya tersesat dari jalan kebenaran.

Manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk mendengki. Tetapi, orang yang beriman akan selalu berusaha (al-mujahadah) menghilangkan sifat jelek ini. Mereka tidak tertawan oleh perasaan buruk yang jelas sangat tidak produktif dan menyengsarakan ini.

(Abu Khaleed)

Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. KAYU DIMAKAN API…………….HABIS.BIS.BIS….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: