Sejarah Perubahan; Tauhid menuju Syirik

Setelah Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, Allah mengajarkan Adam ‘alaihissalam berbagai nama. Allah mengistimewakan penciptaan Adam ‘alaihissalam, berbeda dengan penciptaan makhluk-makhluk Allah yang lain. Adam ‘alaihissalam dicipta langsung oleh kedua tangan Allah dari tanah. Hal itu membuat Adam menjadi makhluk paling unggul dibanding makhluk Allah lain yang telah lebih dulu diciptakan.

Karena kelebihan yang dimiliki Adam ‘alaihissalam, setelah penciptaannya, para malaikat dan iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam, sebagai penghormatan. Para malaikat yang memang selalu taat kepada titah Allah pun bersujud, melaksanakan perintah-Nya. Adapun Iblis, saat itu ia membangkang dan menolak sujud kepada Adam ‘alaihissalam, karena ia merasa dirinya lebih mulia dari Adam ‘alaihissalam yang hanya diciptakan dari tanah. Karena itu, Iblis pun diusir dari surga dan keluar darinya dengan sebuah permintaan yang kemudian dikabulkan oleh Allah, yaitu agar diberikan keleluasaan untuk menggoda nabi Adam dan keturunannya hingga akhir zaman.

Saat Nabi Adam ‘alaihissalam bersama istri tercintanya Hawa berada di surga, Iblis pun menggoda Adam supaya melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga. Karena kekhilafannya, Adam dan istrinya justru tergoda oleh bujukan Iblis. Ia malah berani memakan buah larangan itu. Sebagai hukuman, Adam dan Hawa akhirnya diusir dari surga dan diturunkan ke bumi.

Di bumi, Adam ‘alaihissalam bertaubat dan mendapat ampunan dari Allah. Kehidupan Adam ‘alaihissalam di dunia merupakan babak sejarah manusia paling awal. Dari Adam dan Hawa, lahir keturunan yang banyak yang kemudian menjadi cikal bakal pertumbuhan jumlah manusia diseantero bumi. Bapak manusia, adalah sebutan bagi Adam sebagai manusia pertama yang hidup di muka bumi ini.

Jaman terus berganti. keturunan Adam ‘alaihissalam semakin lama semakin bertambah banyak, dari generasi ke generasi. Dalam rentang waktu yang cukup lama, seluruh manusia dari jaman Nabi Adam berada dalam keyakinan yang lurus. Mereka seluruhnya mengesakan Allah dan sama sekali tidak menyekutukan-Nya. Untuk beberapa lama, manusia pada jaman itu berhasil mempertahankan keyakinan mereka, menjaganya dari noktah-noktah kesyirikan.

Kemudian, ketahanan itu akhirnya kian melemah. Penyelewengan dan kezaliman terbesar mulai terjadi pertama kali dalam sejarah manusia.  Itu terjadi sekitar sepuluh generasi setelah Nabi Adam. Ibnu Abbas mengatakan, “Jarak waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh generasi, seluruh manusia dalam Islam (tauhid)”. Dengan demikian, kesyirikan pertama kali terjadi pada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Saat itu, manusia mulai berani mensekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Manusia menjadi berselisih dan tidak bersatu lagi di bawah syiar Islam, tauhid.

Al-Quran mengisahkan peristiwa perubahan hidup manusia diatas sebagai sebuah perselisihan, setelah sebelumnya manusia bersatu dalam tauhid.

Allah berfirman,

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (Al Baqarah : 213).     

Nabi Nuh diutus oleh Allah sebagai rasul yang membawa misi perbaikan kepada kaumnya yang telah melenceng dari jalan Allah. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengingatkan kaumnya agar segera meninggalkan sesembahan mereka yang sama sekali tidak akan memberi apa pun. Tidak manfaat dan tidak juga bahaya. Nuh mengajak kaumnya agar mereka kembali bersatu dalam ibadah yang murni, ibadah hanya kepada Allah saja.

Bangsa Arab

Selain kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, perubahan dari tauhid kepada syirik juga terjadi pada bangsa Arab sebelum datang utusan Allah yang terakhir, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bangsa Arab adalah keturunaan Nabi Ismail, anak dari bapak para nabi, Ibrahim. Sebelum datang kesyirikan, bangsa Arab menganut agama yang diwariskan oleh Ibrahim, yang tidak lain adalah agama tauhid.

Bagaimana kesyirikan dapat kemudian merusak tatanan agama tauhid bangsa Arab? Dihikayatkan bahwa pertama kali yang membawa tradisi penyembahan kepada berhala adalah seorang yang bernama Amr ibn Luhay al-Khuza’i. Saat itu pengurusan Baitullah memang dipegang oleh kabilah khuza’ah, sebelum kemudian dipegang oleh orang Quraisy. Dan Amr ibn Luhai adalah pemimpin Khuza’ah saat itu.

Saat itu Amr ibn Luhai melakukan perjalanan malangnya ke negeri Syam, negeri yang saat itu berada dalam wilayah kekuasan sang adikuasa, imperium kerajaan Romawi. Disana, Amr menyaksikan masyarakat Syam melakukan kegiatan ritual keyakinan yang berbeda dengan bangsanya sendiri bangsa Arab. Masyarakat Syam memiliki beberapa berhala yang diyakini sebagai tempat memohon agar didatangkan bermacam-macam kebaikan dan dicegah dari segala keburukan.

Melihat fenomena yang sama sekali baru, apalagi saat itu bangsa yang menduduki Syam adalah bangsa yang dipandang berperadaban maju, Arm ibn Luhai tertarik untuk mengadopsi tradisi orang-orang Syam ini untuk diterapkan pada bangsa Arab yang saat itu masih terbelakang. Akhirnya, Amr kembali ke Jazirah Arab dengan membawa sebuah pemikiran dan keyakinan yang kelak mengoyak agama leluhur bangsa Arab, Millah Ibrahim.

Karena ulah Amr inilah kemudian bangsa Arab mengenal berhala. Seiring berjalannya waktu, Mekkah dan sekitarnya dipenuhi berhala-berhala yang disembah. Ada berhala Manat bagi orang madinah dan sekitarnya. Berhala al Uzza bagi orang Mekkah. Berhala al-Lata bagi orang Thaif dan sekitarnya serta berhala-berhala lain yang disembah oleh masing-masing kabilah. Kondisi kerusakan akidah masyarakat Arab demikian porakporanda sehingga tidak ada lagi yang selamat dari kesesatan itu kecuali orang-orang yang dirahmati Allah.

Dalam situasi keyakinan yang carut marut itulah Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk mempersatukan umat manusia kembali di bawah syiar tauhid yang murni. Rasulullah bertugas mengembalikan bangsa Arab khususnya dan seluruh manusia umumnya kepada keyakinan Nabi Ibrahim yang dahulu pernah diikuti dan dijadikan sebagai asas keyakinan.

Allah berfirman,

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imran: 95).

Dakwahnya berhasil dengan gemilang. Masyarakat arab paska pengutusannya sebagai nabi dan utusan Allah berbondong-bondong memeluk agama tauhid kembali, yaitu Islam. Di Mekkah, di kota kelahirannya, beliau berdakwah menyeru kaumnya untuk meninggalkan berhala-berhala yang mereka sembah dan agungkan. Rintangan dan berbagai perlakuan keji orang-orang arab yang ingin mempertahankan tradisi paganisme nenek moyang, beliau hadapi dengan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa Allah kelak akan menolongnya.

Periode dakwah Mekkah beliau lalui selama tigabelas tahun. Selama itu, dakwah terkonsentrasi pada penanaman iman, pengajaran tauhid dan pengokohan mental orang-orang yang baru memeluk Islam. Setelah beliau dan para sahabatnya hijrah ke madinah, kaum muslimin membentuk komunitas masyarakat yang berlandaskan tauhid dan iman yang benar. Di tempat ini, ajaran-ajaran agama berupa hukum-hukum kemudian berangsur-angsur turun. Perjuangan Islam pun mewujud menjadi konfrontasi dalam bentuk perang fisik (jihad).

Lika liku perjalanan dakwah Rasulullah dalam rentang waktu yang terbilang singkat selanjutnya menjadi babak baru bagi agama tauhid, menyambung perjuangan nabi dan rasul sebelumnya. Puncak kemenangan agama tauhid pada masa itu ditandai dengan peristiwa futtu makkah, jatuhnya kota Mekkah ke tangan kaum muslimin. Penduduk Mekkah saat itu berbondong-bondong memeluk Islam. Bukti nyata kebenaran Islam benar-benar tampak bagi mereka yang selama ini mereka ragukan dan benci. Allah mengabadikan peristiwa itu dengan satu surat dalam Al-Quran,

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nasr [110]: 1-3)

Dakwah Rasulullah selama itu telah membuka mata yang buta, telinga yang tuli, hati yang tertutup kegelapan. Beliau hadapi kaumnya dengan kesabaran, kelembutan dan kebijaksanaan yang tidak ada tandingannya. Beliau juga hadapi orang-orang yang sombong dan membangkang dengan hujjah bahkan genderang perang. Keberanian sekaligus kesabaran beliau mengantarkannya kepada cita-cita perjuangan yang tinggi.

Akhirnya pertolongan Allah datang. Agama tegak. Umat manusia kembali bersatu dalam millah Ibrahim yang hanif, agama tauhid, setelah kurusakan akidah, kekacauan agama, permusuhan dan kemerosotan moral terjadi di mana-mana. Kemudian hati mereka saling terpaut, terjalin ikatan ukhuwah karena nikmat Allah. Setelah mereka berada di ujung kehancuran.

Rasulullah menghancurkan berhala-berhala dan menghilangkan tradisi penyembahannya dengan segala bentuknya. Patung-patung dimusnahkan dan kubur-kubur diratakan. Semua sesembahan selain Allah berupa kubur, batu, pohon, prasasti disingkirkan. Ajaran tauhid yang dibawanya juga mencerahkan pikiran masyarakat arab saat itu, membebaskan akal dari belenggu kemusyrikan yang dangkal.

Kemenangan itu juga menandai masa-masa akhir tugas Rasulullah. Ajal menjemput baginda Nabi tidak lama setelah itu. Agama Islam telah sempurna. Semua yang Allah wahyukan telah beliau sampaikan kepada umatnya. Rasulullah meninggalkan kaum muslimin dengan kemurnian tauhid dan ajarannya. Semangat keyakinan yang lurus ini tetap menjadi ciri agama Islam sebagaimana yang pernah diajarkan oleh utusan-utusan Allah pada kaum-kaum terdahulu. Yang membedakan hanya manhaj dan syariatnya. Esensi tauhid tidak pernah hilang dari semangat dakwah para nabi dan Rasul manapun dan untuk kaum manapun.

Paska wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Setelah Rasulullah tercinta wafat, risalah suci yang telah Rasulullah sampaikan berupa ajaran tauhid, akidah, ibadah dan akhlak kemudian termanifestasi dengan baik dalam kehidupan para sahabatnya sebagai pewaris pertama. Para sahabat, generasi pertama umat Islam yang mendapat rekomendasi dari Rasulullah sebagai generasi terbaik ini, lalu melanjutkan estapet perjuangan tauhid. Mereka betul-betul menjaga kemurnian agama ini dengan baik.

Tentu, hal ini karena mereka adalah orang-orang istimewa yang terdidik dalam asuhan nubuwwah. Orang-orang hebat seperti mereka lahir dari rahim sejarah kaum muslimin paling awal yang dilaluinya langsung bersama baginda Rasulullah. Mereka adalah saksi sejarah turunnya Alquran. Mereka menyaksikan langsung prilaku Rasulullah, mendengar langsung perkataannya, bertanya langsung jika muncul permasalahan yang belum jelas, dan ikut serta menjadi bagian dari episode-episode penting dalam sejarah umat Islam.

Mereka juga tercatat sangat berjasa bagi perkembangan dakwah Islam selanjutnya.  Perluasan kekuasaan dan penyebaran Islam yang signifikan terjadi saat Islam berada dalam kendali para sahabat yang shaleh ini. Umat Islam begitu disegani. Cahaya Islam menjelajah berbagai negeri. Kegemilangan yang diraih dan kemajuan yang diperoleh menempatkan kaum muslimin sebagai bangsa yang berwibawa dan paling berperadaban di mata bangsa yang lain.

Semua itu tidak lepas dari peran para sahabat. Tauhid yang murni, akidah yang benar, ibadah yang baik dan akhlak yang terpuji telah berhasil mendorong mereka berbuat untuk segala kemajuan Islam. Sifat-sifat baik generasi mereka itu telah menjadi pintu pembuka keberkahan dan  rahmat Allah yang maha luas.

Kaum muslimin bersatu dalam ajaran Islam yang murni, akidah yang benar dalam masa kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Kemudian, pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan, benih keretakan mulai muncul. Terbunuhnya Utsman oleh orang-orang kaum muslimin sendiri adalah tragedi yang cukup menyesakkan hati umat Islam. Semua itu memang tidak lepas dari konspirasi kaum kuffar yang merasa dengki dengan capaian-capaian kemajuan Islam saat itu. Mereka menghasud kaum muslimin dan mempengaruhi pikiran mereka yang kemudian membawanya kepada keyakinan menyimpang.

Selanjutnya, perpecahan yang berujung pada peperangan antar kaum muslimin sendiri terjadi. Perang jamal dan perang shiffin  terjadi. Kelompok khawarij muncul dan mengkafirkan para sahabat. Lalu muncul kelompok syiah yang menurutnya membela kehormatan ahli bait dan juga mengkafirkan sebagian sahabat yang menurutnya menzalimi Ali ibn Abi Thalib.

Pada tataran pokok akidah-tauhid, kemunculan kelompok Qadariah disimpulkan oleh para ulama sebagai awal munculnya kesyirikan pada kalangan umat Islam. Pertama kali yang membawa faham menyimpang ini adalah seorang bernama Ma’bad Al-Juhani. Mereka mengingkari qadar Allah dan mengingkari bahwa kebaikan dan keburukan dari perbuatan manusia bisa dinisbatkan kepada qadar. Mereka terjatuh pada kesyirikan dalam hal sesuatu yang termasuk kedalam rububiyyah dan asma wash shifat. Oleh kerena itu, Ibnu Abbas berkata, “ia (faham qadariyyah) adalah awal kesyirikan dalam umat ini”. Jika ditelusuri, faham  ini bersumber dari faham agama majusi.

Setelah itu muncul pengingkaran nama dan sifat bagi Allah. Orang tersebut menyatakan bahwa Allah tidak memiliki nama dan sifat apapun. Orang yang pertama kali memiliki keyakinan seperti ini adalah seorang yang bernama Al-Ja’d ibn Dirham, lalu pelanjutnya yaitu seorang yang bernama Al-Jahm ibn Shafwan dan ia yang mempopulerkannya. Hingga kemudian faham tersebut dinisbatkan kepadanya dan terkenal dengan kelompok Al-Jahmiyyah. Dikatakan, faham ini bermuara pada seorang yahudi, Labid ibn Al-‘Asham, penyihir yang pernah menyihir Rasulullah.

Selanjutnya beberapa firqah atau sekte dalam Islam bermunculan, semakin mengotori kemurnian Islam yang Rasulullah tinggalkan dengan akidah yang lurus dan benar.

Tipu daya Setan

Perubahan jalan keyakinan manusia di atas tidak terjadi seketika dan tanpa proses. Layaknya perubahan yang selalu berjalan lambat dan berproses, perubahan keyakinan manusia dari ketauhidan kepada kesyirikan pun bergerak mengikuti sebuah proses bertahap. Mekanisme ini memang telah menjadi tabiat perubahan, apapun bentuknya. Mekanisme inilah yang selalu menjadikan manusia kerap tidak menyadari perubahan yang terjadi pada hidupnya.

Kaum Nabi Nuh pun demikian. Patung-patung yang mereka agungkan dan mereka sembah ternyata memiliki sejarah tersendiri. Sejarah itu menandai proses yang terjadi dalam keyakinan kaum Nabi Nuh tersebut. Penyembahan mereka terhadap patung-patung itu adalah tahapan final setelah semua prosesnya dilalui. Proses itu juga tidak terjadi hanya dalam satu generasi, melainkan beberapa generasi. Setiap generasinya menjadi satu mata rantai yang saling menyusul berkaitan membentuk rantai peristiwa utuh perubahan.

Kaum nabi Nuh menyembah beberapa patung sembahan dengan nama-nama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran, Allah berfirman,  “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (Nuh: 23).

Konon, sebagaimana ditafsirkan oleh para sahabat, nama-nama patung itu adalah nama-nama orang shaleh yang pernah hidup pada generasi pendahulu mereka. Lalu, bagaimana nama-nama tersebut menjadi nama-nama patung yang disembah oleh kaum Nabi Nuh? Pada masa hidupnya, orang-orang shaleh itu sangat disegani dan dihormati oleh masyarakatnya. Karena kebaikan dan keshalehannya, orang-orang tersebut menjadi tokoh, tauladan serta rujukan saat masyarakat menemukan kesulitan. Mereka diikuti oleh masyarakatnya sebagai orang-orang yang rajin menyembah Allah dan taat menjalankan ajaran-Nya. Mereka dihormati dan memiliki tempat tersendiri dalam hati masyarakat.

Kondisi ini selanjutnya membawa masyarakat pada perasaan cinta dan takut kehilangan. Maka, ketika orang-orang shaleh tersebut meninggal, mereka sangat terpukul dan sedih. Mereka merasa sangat kehilangan. Orang-orang yang selama ini mereka anggap banyak berjasa atas hidup mereka, tidak lagi ada bersama mereka.

Dalam suasana yang mengharukan itu, setan kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan. Setan mempermainkan perasaan orang-orang yang saat itu sedang dilanda duka dan kesedihan yang dalam. Kondisi hati seperti ini adalah celah bagi setan untuk menyesatkan manusia dari kebenaran. Kondisi dimana manusia sedang dibelenggu oleh perasaannya. Saat akal sehat sementara tertutup oleh kabut kesedihan dan tenggelam dalam lautan duka, saat itulah biasanya nalar manusia tidak berfungsi dengan baik. Pikirannya sementara melemah karena yang dominan menjadi penggerak prilakunya saat itu adalah perasaan atau dorongan hatinya yang tidak selalu mengandung energi positif.

Nah, dalam suasana ini, setan kemudian membisikkan kepada para pengikut orang-orang shaleh tadi agar mereka menancapkan tanda pada masing-masing tempat yang biasa diduduki oleh orang-orang shaleh tersebut untuk mengenang mereka, hanya untuk mengenang! Mereka pun menuruti bisikan setan itu. Selanjutnya, setan membisiki mereka agar mereka membuatkan patung saja bagi setiap orang-orang shaleh itu. Kemudian mereka pun membuatkan patung bagi setiap orang-orang shaleh tersebut dan menamainya dengan nama-namanya.

Pada saat patung-patung tersebut dibuat, mereka memang sama sekali tidak menyembahnya. Mereka masih berada dalam keyakinan yang benar tentang konsep ibadah mereka, tauhidullah. Mereka memaksudkan pembuatan patung-patung itu hanya sebatas untuk mengenang dan mengingatkan mereka pada orang-orang shaleh tersebut agar semangat mereka untuk beribadah dan melakukan amal shaleh bisa terjaga dengan mengingatnya. Namun, setelah generasi pembuat patung berlalu dan muncul generasi selanjutnya yang tidak pernah tahu asal-usul patung-patung itu, setan kembali membisiki generasi baru itu bahwa patung-patung itu diagungkan oleh pendahulu mereka. Mereka pun kemudian sedikit demi sedikit mengagungkanya.

Waktu terus berjalan dan generasi silih berganti sampai akhirnya patung-patung itu disembah, diagungkan dan dimintai pertolongan. Patung-patung itu dipercaya bisa mendatangkan kebahagiaan dan petaka. Mereka memperlakukan patung-patung itu layaknya Tuhan yang Mahakuasa dan berhak diminta. Terjadilah kesyirikan untuk yang pertama kali dalam sejarah manusia. Manusia berselisih, tidak bersatu lagi di atas agama tauhid.

(Abu Khaleed Resa Gunarsa)

Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. Mulyono

     /  Juni 2, 2010

    Terimakasih tulisannya bagus. Mohon kalau ada waktu perlu dibahas sejarah dan perkembangan kesyirikan di Indonesia. Indonesia yang mayoritas muslim dan sekitar 3500 perguruan tinggi umum dan agama yang seharusnya menunjukkan masyarakat terpelajar tetapi kesyirikan terus merajalela. trims semoga segala usaha kita dirahmati Allah.

    Balas
  2. Reblogged this on Ciptous's Blog.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: