Ilmu dan Amal

Ilmu dan amal ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisah satu sama lain. Orang berilmu tapi tidak beramal akan mendapat siksa karena ilmunya yang ia sia-siakan, sementara orang yang beramal tanpa ilmu akan tersesat karena amalnya yang sia-sia.

Di akhir surat Al-Fatihah, Allah menegaskan bahwa jalan lurus adalah jalan para nabi dan rasul mulia yang telah Allah beri nikmat. Yaitu, mereka yang senantiasa berilmu dan beramal. Karena kemudian, Allah menegaskan bahwa jalan lurus itu bukanlah jalan orang yang Allah murkai,  yaitu adalah orang-orang Yahudi, yang salah satu sifatnya adalah enggan beramal padahal mereka mengetahui kebenaran. Jalan lurus itu juga bukan jalan orang-orang yang tersesat. Yaitu jalan orang-orang Nashrani yang salah satu sifatnya adalah beramal tanpa ilmu.

Oleh karena itu, membangun tradisi beramal seyogianya berdasar pada ilmu dan pemahaman yang benar. Agar kita tidak terjatuh kepada kerja dan amal yang sia-sia (baca: bid’ah), berupaya mencari ilmu untuk amal yang akan kita lakukan adalah niscaya. Kebenaran amal tidak ditentukan oleh jumlahnya yang banyak, keikhlasan dan semangat pengamalnya saja. Tidak kalah pentingnya, amal juga harus mengacu kepada sumber yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Al-Imam Bukhari berkata, “Bab ilmu sebelum berkata dan berbuat.”

Allah berfirman, “Maka ketahuilah (berilmulah) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan memohon ampunlah dari dosamu.” (Muhammad: 19)

Sebagian salaf berdalil dengan ayat ini atas keutamaan ilmu. Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” menyebutkan dari Sufyan ats-Tsauri, bahwa ia ditanya tentang keutamaan ilmu. Kemudian ia menjawab, tidakkah kamu mendengar firman Allah saat Dia memulai dengannya? “Maka ketahuilah (berilmulah) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah” kemudian Allah memerintahkan beramal setelah itu, “Dan mohon ampunlah atas dosamu.”

Maka, ayat ini menunjukkan dua hal; pertama, tentang keutamaan ilmu. Kedua, bahwa ilmu didahulukan dari amal.

Alquran dan sunnah adalah sumber fundamen sekaligus referensi absulut yang dipedomani oleh kaum muslimin dalam kurun waktu yang sangat panjang sebagai manhaj hidup. Keyakinan dan amal yang tidak mengacu kepada kedua sumber tersebut, dikategorikan sebagai bid’ah yang bertentangan dengan sunnah.

Maka, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu yang bersumber dari Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. al-Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ilmu itu adalah apa yang difirmankan Allah, yang disabdakan Rasul-Nya dan yang dikatakan para sahabat.”

Begitu pula, membangun tradisi ilmu seharusnya disertai dengan pengamalannya yang baik dan sungguh-sungguh. Karena, ilmu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, “Tapak kedua kaki seorang hamba kelak di hari kiamat tidak akan bergeser hingga ia ditanya tentang  umurnya, untuk apa ia habiskan. ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan. Dan jasadnya, untuk apa ia hancurkan.” (HR Tirmidzi, ia berkatan hasan shahih, dishahihkan Syaikh Albani)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seorang alim tetap dalam keadaan bodoh hingga ia beramal dengan ilmunya. Jika ia telah beramal, barulah ia menjadi seorang alim (yang sesungguhnya)”

Syaikh Abdullah al-Fauzan berkata, “Perkataan (fudhail) ini sangat teliti. Jika seseorang memiliki ilmu, lalu ia tidak mengamalkannya, maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara dia dan orang bodoh (tidak berilmu).”

Lebih dari itu, amal adalah sebesar-besar sebab kuat dan langgengnya ilmu yang ada pada seseorang. Orang yang ilmunya tidak diamalkan, ilmunya akan cepat hilang. Oleh kerena itu sebagian salaf berkata, “Kami membantu hapalan hadis kami dengan cara mengamalkannya.”

Dengan amal, ilmu juga akan bertambah. Sebagian ahli ilmu juga berkata, “Barang siapa yang beramal dengan ilmunya, Allah akan berikan ia ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan apa yang diilmuinya, sangat mungkin Allah akan menghilangkan ilmunya.

Makna “Allah akan memberikan ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui” adalah, bahwa Allah akan menambahkan baginya iman, memberikan sinar pada mata hatinya dan membukakan baginya berbagai jenis dan cabang ilmu. Oleh karena itu, kita dapat menyaksikan orang berilmu dan beramal itu terus bertambah ilmunya. Allah memberkahi waktu dan perkerjaannya.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (Muhammad: 17)

Terakhir, mari kita lebih giat lagi mencari ilmu dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengamalkannya. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diberi petunjuk jalan.  Yaitu jalan orang-orang yang mencintai syariat Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta memegangnya dengan teguh, tanpa rasa takut dan remeh dihadapan orang-orang yang selalu mencela dan menghina.

Abu Khaleed Resa Gunarsa –dengan rujukan utama “Husulul Ma`muul bi Syarh Tsalatsatil Ushul” Syaikh Dr. Abdullah al-Fauzan –Hafidzohullah)

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: