Bolehkah penuntut ilmu memberi fatwa?

Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Pertanyaan:

Bolehkah para penuntut ilmu agama memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada mereka? Lalu, apa taklid yang dibolehkan dan yang tercela? Bolehkah keluar dari Mahdzab Hanbali ke mahdzab Maliki dalam sejumlah masalah? Bagaimana caranya?

Jawaban:

Jika dinegara tersebut terdapat ulama tempat orang-orang merujuk kepadanya, maka bukan hak penuntut ilmu untuk memberi fatwa, meskipun dia telah menyelesaikan satu marhalah (tahapan) dalam menuntut ilmu, karena dia belum cukup ilmu untuk itu.

Adapun dalam kondisi darurat yang disebabkan tidak ada ulama untuk dimintai fatwa di negeri tersebut, sedangkan masalahnya harus segera diselesaikan, maka boleh dia (seorang penuntut ilmu) memberi fatwa sesuai dengan yang diketahuinya dari pendapat-pendapat ulama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S. at-Taghabun: 16)

Adapun tentang taklid yang dibolehkan, maka (hal) itu untuk orang-orang yang sangat awam, yang jika dia tidak taklid, maka dia akan tersesat. Allah al-Maula Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِْكْرِإِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Q.S. an-Nahl: 43)

Adapun taklid yang tercela ialah taklid yang dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan untuk mengetahui hukum. Wajib atasnya mencari al-haq dengan dalilnya, karena dia mampu untuk itu. Dalam ayat 43 surah an-Nahl diatas, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Jika kamu tidak mengetahui”; artinya seseorang yang memiliki ilmu tidak boleh taklid, bahkan dia berkewajiban mencari hukum sesuai dengan usaha dan kemampuannya. Tidak boleh dia bertaklid kepada seorang pun dalam hal itu.

Mahdzab Hanbali dan selainnya tidak pernah mengharuskan seseorang untuk mengambil segala yang ada dalam mahdzab tersebut, baik yang benar maupun yang salah. Bahkan seseorang berkewajiban mengambil segala yang didukung oleh dalil, baik itu yang ada dalam mahdzab Imam Ahmad atau Malik (atau selainnya). Orang yang mengetahui dalil dan tarjih, maka tidak boleh baginya mencukupkan dengan membatasi diri mengambil pendapat-pendapat dari imam tertentu saja, bahkan ia wajib untuk memilih pendapat yang didukung oleh dalil, dan tidak lepas tanggungannya kecuali dengan cara seperti itu.

Adapun orang yang tidak mampu –dan seperti ini kondisi yang darurat- maka dia boleh beramal sesuai dengan ilmu dan pengetahuannya. Dan jika dia mendapatkan orang yang berilmu dan wara’ yang dapat dimintai fatwanya, maka hendaknya dia menanyakannya, sehingga dia tidak terus menerus dalam kondisi kurang ilmu.

(Kitab al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, jilid II dan V, diterjemahkan oleh Abu Nida’ Chomsaha Sofwan)

Sumber : Majalah as-Sunnah Rubrik Fatawa. Edisi 03/Th.IX/1426 H/2005 M. Hal. 51.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: