Menangguhkan Utang

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Albaqarah [2]: 280)

Diantara akhlak mulia yang dianjurkan Islam adalah membantu meringankan beban sesama atau melepaskan kesulitan yang melilitnya. Salah satu bentuknya adalah menangguhkan utang orang yang masih dalam kondisi sempit saat jatuh tempo pembayaran atau bahkan membebaskannya dari lilitan hutang kita, sebagian atau semuanya.

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa menangguhkan pembayaran utang orang yang dalam kesusahan atau membebaskannya dari utang itu, maka di hari kiamat Allah akan menaunginya di bawah Arasy-Nya, ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah.” (HR Ahmad)

Menghadapi orang yang berhutang merupakan ladang pahala. Jika kita bisa bersabar dengan sikap terbaik kita terhadap mereka dengan memudahkan, memberinya kesempatan, tidak semakin mempersempit, menyulitkan dan menambah bebannya, kita akan meraih kemudahan di akhirat kelak.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melepaskan kesulitan saudaranya di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di akhirat. Barangsiapa memudahkan saudaranya yang dalam kesukaran, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya di akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia selalu menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Prilaku menyulitkan orang lain adalah salah satu sifat kaum jahiliyah pada era sebelum Islam. Dihikayatkan, kebiasaan mereka saat menagih hutang adalah memberi pilihan kepada orang yang berhutang antara membayar atau menangguhkannya dengan pembayaran berbunga. Bahkan, pada masa itu, menjual seorang merdeka hingga ia menjadi budak sahaya karena utang-utangnya yang tidak terlunasi lumrah terjadi.

Lalu, jika menyulitkan orang berhutang adalah perbuatan tercela, maka begitu pun sebaliknya. Menyulitkan orang yang dihutangi dengan menunda-nunda pembayaran, padahal kita telah mampu membayarnya juga prilaku tidak terpuji. Rasulullah bersabda, “Menunda membayar kewajiban saat mampu adalah kezaliman.” (HR Bukhari dan Muslim)***Wallahu a’lam

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: