Keceriaan

Abu Dzar sahabat Nabi mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan! Hingga walaupun hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim)

Memberi kebahagian kepada orang lain tentu tidak harus selalu diwujudkan dengan materi. Ekspresi positif yang mampu kita hadirkan saat bergaul bisa menjadi kebaikan yang tidak ternilai. Keceriaan adalah salah satu wujudnya. Menampilkan keceriaan secara proporsional adalah bentuk solidaritas yang sangat bermanfaat.

Rasulullah adalah sosok yang biasa mengekspresikan kebahagian dengan keceriaan yang terpancar lewat wajahnya. Diriwayatkan, bahwa jika beliau merasakan bahagia, wajahnya terlihat berseri-seri. Seakan-akan wajah beliau adalah sepotong bulan. (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan keceriaan, kenyamanan akan mudah tercipta, keharmonisan akan utuh terpelihara dan suasana kebersamaan yang kondusif akan terbentuk. Selanjutnya, kerja-kerja kolektif yang menguntungkan dan kerjasama yang solid akan tergalang. Keceriaan juga bisa menumbuhkan rasa optimisme sekaligus simbol kekuatan mental yang terpancang dalam jiwa.

Keceriaan yang ditampilkan saat bertemu dan bercengkrama adalah salah satu ciri yang melekat pada diri seorang muslim di dunia karena kebaikan iman dan akhlaknya. Raut wajah berseri, senyum yang selalu tersungging dan sorot mata yang bersinar saat berjumpa dan bersua lahir dari perasaan hatinya yang bahagia dan sikapnya yang tulus berbagi kebahagiaan.

Tidak hanya di dunia, keceriaan juga kelak akan tampak menghiasi wajah orang-orang mukmin yang telah berhasil meraih kesuksesan akhirat. Sebagaimana yang tertera dalam Alquran, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.” (QS Alqiyamah [75]: 22) “Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria.” (QS Abasa [80]: 38-39) “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS Almuthaffifin [24]: 83)

Sebaliknya, wajah murung penuh nestapa dan penyesalan bukan sifat yang selalu tampak pada diri seorang muslim. Walaupun sesekali terjadi, akan tetapi selalu masih dalam batas yang wajar. Kesedihan yang terkadang merundungnya tidak pernah berujung pada kondisi yang mematahkan semangat dan pesimisme. Bahkan, ia kerap mampu bangkit, menanamkan sikap optimis dan berharap rahmat Allah yang mahaluas.***Wallahu a’lam.

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: