Karakter Amanah

“Dan (orang-orang yang beriman itu adalah) orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS Almukminun [28]: o8)

Sifat amanah yang sangat ditekankan dalam Islam begitu menguntungkan. Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga orang lain. Proses interaksi sosial yang kondusif dalam sebuah masyarakat hanya akan terwujud jika setiap individunya memiliki komitmen yang baik terhadap kepercayaan, kejujuran, kesunggguhan, keadilan, sportifitas, istiqamah serta tanggungjawab. Dan, semua itu lahir dari karakter amanah.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan paling sempurna dalam soal amanah. Beliau digelari “Al-amin”, sosok yang terpercaya dan amanah. Sebelum dan sesudah pengutusan, orang-orang Quraisy biasa menitipkan barang-barangnya kepada Rasulullah. Saat beliau hijrah, Ali ibn Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang saat itu disuruh mengembalikan barang-barang titipan tersebut kepada pemiliknya.

Kezaliman, dusta, manipulasi, permusuhan dan berbagai pelanggaran moral yang terjadi di tengah masyarakat adalah ciri rendahnya komitmen amanah dan merunyaknya karakter khianat. Akibatnya, sendi-sendi agama, kehormatan, harta, ilmu, kekuasaan, penegakan hukum dan lain sebagainya menjadi hancur. Rasulullah bersabda, “Jika amanah diabaikan, maka tunggulah hari kiamat” (HR Bukhari)

Ibnu Aljauzi menyatakan, seperti yang beliau nukilkan dari sebagian ahli tafsir, bahwa terma amanah dalam Alquran meliputi tiga aspek perbuatan. Pertama, pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama. Ini terdapat dalam firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Alanfal [8]: 27)

Ibadah berupa ketaatan kepada Allah dan RasulNya adalah titipan amanah paling besar yang dibebankan kepada manusia. Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adzdzariyat [51]: 56). Maka, jika manusia tidak mau beribadah kepada Allah, berarti ia telah berlaku khianat.

Kedua, penyampaian yang baik. Seperti dalam firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. “ (QS Annisa [4]: 58). Dan ketiga, penjagaan kepercayaan yang diberikan orang lain. Seperti dalam firman Allah, “sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Alqashash [28]: 26)***

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: