Fungsi Ilmu

Orang berilmu adalah orang yang dalam hidupnya mengalir segala kebaikan. Ini sesuai dengan sabda Nabi, “Siapa saja yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, ia akan Allah pahamkan dalam agama.” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga menerangkan, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan ilmu, Allah akan memudahkannya jalan ke surga.” (HR Muslim)

Jika demikian, menambah ilmu dan pemahaman agama sangat penting, bagi siapa saja yang mendambakan ketentraman hidup di dunia dan keselamatan di akhirat nanti. Itulah sebabnya, melalui Al-Qur`an, Allah memerintahkan Rasulullah agar memohon kepada-Nya untuk tambahan ilmu bukan tambahan yang lain, “…Dan katakanlah wahai Muhammad! Ya tuhanku tambahlah kepadaku ilmu.” (QS Thaha [20]: 114)

Ilmu agama, atau ilmu yang bermanfaat (ilmun nafi’un) memiliki dua fungsi kebaikan. Pertama, fungsi menghapus syubuhat (kerancuan-kerancuan pemahaman dan keraguan). Dengan fungsi ini, ilmu memberikan suplai pengetahuan dan wawasan yang benar kepada pikiran seseorang sekaligus meng-cover pemikiran dan pola pikir keliru yang berbahaya. Dengan ilmu, seseorang akan mampu menangkal keyakinannya dari bahaya-bahaya penyimpangan aqidah dan usaha penodaan syariat.

Keyakinan dan amal ibadah yang dibangun diatas ilmu dan pengetahuan yang benar itu, dipastikan akan terjaga dari fitnah syubuhat dan bid`ah yang menyesatkan. Untuk itu, imam Bukhari berkata dalam kitab “Shahih”nya, “Bab ilmu sebelum berkata (berkeyakinan) dan beramal”. Allah berfirman, “Maka ketahuilah (berilmulah)! bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS Muhammad [47]: 19)

Kedua, fungsi menekan syahawat (hawa nafsu). Ilmu dengan fungsi ini memberikan kekuatan kepada jiwa seseorang sehingga ia mampu menjaga stabilitas emosi dan keinginan hatinya agar tidak menyeretnya kepada perbuatan-perbuatan maksiat dan kemungkaran, sekaligus memotivasinya untuk terus menambah amal-amal kebaikan.

Jiwa yang jarang disirami kesejukan ilmu lama kelamaan akan kering dan layu. Kekuatan melihat kebenaran dan kemampuan untuk mengamalkan kebaikan akan melemah dalam jiwa yang tidak ditanami benih-benih ilmu. Akhirnya, hati menjadi keras, mati dan tidak berdaya lagi menghasilkan amal-amal baik dalam hidup. Allah berfirman, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya (ilmu) dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?…” (QS Az-Zumar [39]: 22)***Wallahu a’lam bish

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: