Dakwah Tauhid

Makna tauhid yang terkandung dalam kalimah thayyibah; la ilaha illallah memiliki arti fundamental. Kalimat lailaha illallah merangkum pengertian tauhid dalam dua rukun tauhid yang tidak bisa dipisahkan; yaitu al nafyu (negasi); la ilaha dan al itsbat (afirmasi); illallahu.

Orang yang hanya menafikan semua ilah saja tanpa menetapkannya sama sekali, ia seorang ateis. Sedangkan orang yang hanya menetapkan Allah sebagai ilah saja tanpa menafikan ilah-ilah yang lain, ia seorang musyrik. Kemudian, makna ilah adalah sesuatu yang diibadahi, diagungkan dan disembah. Dengan pengertian ini, makna tauhid berarti adalah menujukan semua bentuk ibadah baik lahir atau batin hanya kepada Allah.

Menyoal Pemahaman Umat
Dewasa ini, pemahaman kaum muslimin terhadap kalimat lailaha illallahu masih sering kali kabur. Makna lailaha illallah yang lebih menekankan visi penghambaan (`ubudiyah) acap kali tidak dipahami demikian. Kalimat lailaha illallah biasa diyakini sebatas makna rububiyahnya saja seperti tidak ada pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta, yang menghidupkan, yang mematikan dst. kecuali Allah. Padahal, keyakinan seperti itu hakikatnya tidak berbeda dengan keyakinan Abu Jahal, Abu Lahab dan seluruh kaum musyrikin Quraisy dahulu (Lihat QS Lukman [31]: 25, Almukminun [23]: 88, Yunus [10]: 31). Walhasil, kalimat la ilaha illallah berulang-ulang dilafalkan namun tak kunjung mengentaskan praktek-praktek kemusyrikan dengan beragam bentuknya.

Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya Al-Syirku bayna Al-Qadim wa Al-Hadits mensinyalir adanya aneka pemahaman keliru atas makna tauhid di kalangan umat Islam sendiri. Ada pemahaman yang jelas-jelas bisa mengeluarkan seseorang dari Islam dan ada pemahaman yang hanya mencakup sebagian makna tauhid, tidak utuh dan lengkap. Kekeliruan ini ditengarai oleh beberapa kelompok orang yang salah dalam mendefenisikan tauhid. Seperti sebagian kelompok filusuf, ahli tasawuf, sekte muktazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Para ulama berkata, “alhukmu ‘ala sya`in far’un ‘an tashawwurihi“. Kesalahan dalam memahami hakikat sesuatu, akan mewariskan keyakinan dan cara berfikir yang keliru. Kegagalan dalam menangkap pesan yang terkandung dalam sebuah kalimat, jelas akan melahirkan kesimpulan yang saling bertolak belakang dengan maksud sebenarnya. Agaknya, dari sinilah problem tauhid umat berawal.

Dari problem mendasar ini, selanjutnya aktivitas beragama kaum muslimin banyak dirundung masalah. Pola dan gaya berpikir yang didasarkan pada pemahaman yang keliru terhadap konsep paling pokok ajaran Islam ini, tak ayal mengimplikasikan sejumlah perbuatan dan tindakan yang keluar dari pakem Islam sesungguhnya. Parahnya, disebabkan kekeliruan itu, perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan itu mereka yakini sebagai bagian integral dari ajaran Islam.

Di negara kita, wujud dangkalnya pemahaman masyarakat terhadap makna tauhid tampak sangat jelas. Praktek perdukunan berkedok kyai, kasus pencabulan dan penipuan dengan modus dukun palsu, film atau tayangan berbau mistis, cerita mitos yang bertebaran dalam kepercayaan masyarakat, tradisi atau adat berupa perayaan-perayaan yang mengandung unsur syirik, kubur para wali yang ramai diagungkan dan dianggap keramat dan lain-lain adalah sederet fenomena sosial yang masih lekat terjadi pada masarakat kita.

Pada batas ini, memberikan pemahaman tentang muatan konsep tauhid secara benar dan tepat; sejalan dengan prinsip yang pernah diperjuangkan oleh para nabi dan rasul Allah adalah tugas mendesak para juru dakwah saat ini. Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-, seorang ahli hadis kontemporer, dalam salah satu kesempatan ceramahnya menyatakan bahwa salah satu manifestasi dakwah tauhid saat ini adalah memberikan pemahaman yang benar kepada umat Islam tentang makna tauhid.

Berbeda dengan zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, masih menurut Syaikh Albani, dakwah tauhid termanifestasi hanya dalam bentuk menyeru kaum musyrikin untuk mengucapkan kalimat tauhid dan dengan itu mereka memeluk Islam (diriwayatkan bahwa nabi datang ke sebuah pasar orang-orang kafir Quraisy dan berkata, “Wahai Manusia, katakanlah la ilaha illallah maka kalian akan beruntung.”) Ini karena kaum musyrikin dulu memahami makna tauhid secara benar sekaligus konsekwensinya; yaitu meninggalkan segala bentuk ibadah yang biasa mereka persembahkan kepada lata, uzza, manna dan yang lainnya selain Allah.

Ilmu dan wawasan keislaman, utamanya terkait dengan masalah tauhid, menempati urutan teratas dalam daftar kebutuhan umat Islam saat ini. Bahkan, ia tidak hanya kebutuhan kalangan awam masyarakat Islam, namun juga kaum yang menyandang gelar “kyai” dari masyarakatnya serta orang-orang yang terlibat aktif dalam kerja-kerja dakwah. Tersebarnya bentuk-bentuk penyimpangan dalam memahami ajaran Islam, tidak jarang jusrtu disebabkan oleh orang-orang yang secara aktif berpartisifasi dalam ranah dakwah namun miskin ilmu dan pengetahuan Islam. Sehingga yang terjadi, dakwah dilakukan hanya dengan modal semangat, ikhlas dan militansi.

Prioritas Dakwah
Masalah lain yang juga terkait dengan dakwah tauhid adalah, seringkali terlihat, orang-orang yang berkecimpung dalam dakwah tidak memberikan porsi prioritas yang cukup bagi masalah tauhid. Dakwaan tentang syumuliyah Islam dan semangat mempersatukan kaum muslimin, terkadang dengan mengorbankan agenda prioritas dakwah yang tidak lain adalah tauhid.

Kegagalan para juru dakwah dalam menetapkan target ideal dakwah Islam jelas telah mengakibatkan terkonstruknya beragam kerancuan dalam pemahaman umat Islam terhadap makna-makna ajaran Islam yang seharusnya dipahami secara tepat, agar selanjutnya umat Islam bisa menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam sesuai syariat yang Allah turunkan.

Sebagaimana dimaklumi, di pundak para juru dakwahlah Allah amanahkan wahyu-Nya agar tersebar ke seluruh penjuru bumi. Tanggung jawab besar ini tidak akan pernah terlaksana tanpa pengamalan dakwah yang sistematis, berdasarkan target-target prioritas yang merujuk pada hirarkinya. Syariah Islam yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia, baru akan terealisasi dengan baik dan seimbang jika tauhid sebagai pondasi dan asas syariah telah tertanam dan menyatu dalam aktifitas ibadah umat. Kampanye penegakan syariat Islam yang giat didengungkan oleh banyak aktifis pergerakan dakwah di berbagai belahan dunia, tidak lebih dari sekedar utopia yang tidak mengacu pada konsep pokok syariah, jika tanpa diawali dengan dakwah tauhid.

Dakwah Rasulullah pada periode Mekah adalah pelajaran berharga yang seharusnya menjadi inspirasi para pegiat dakwah dalam hal ini. Tigabelas tahun Rasulullah berdakwah di Mekah mengajak manusia menegakkan tauhid yang bersih dari noktah-noktah kesyirikan, membagun keimanan masyarakat yang berlandaskan pada pengetahuan yang benar, visi dan tujuan yang tepat. Semua itu semata-mata adalah mekanisme dakwah Rasulullah yang sewajarnya bergulir guna keberlangsungan pengamalan ‘syari’at amaliyah’ yang berikutnya turun di Madinah secara bertahap seperti shaum, jihad, zakat dan lain-lain.

Ajakan berdakwah kepada tauhid dan penjelasan pentingnya menetapkan ajaran tauhid sebagai prioritas dakwah seperti yang penulis uraikan di atas bukan berarti ajakan mendakwahkan nilai-nilai Islam dan konsep-konsep ajarannya secara parsial. Karena ajaran Islam yang begitu sempurna tidak seluruhnya berada pada level yang sama, maka, ajakan mendakwahkan tauhid adalah ajakan kepada ajaran Islam yang paling mendasar, yang berikutnya, diatas landasan ini akan terbangun kesadaran umat dalam mengamalkan seluruh syariat tanpa terkecuali.

Terakhir, sebagai argumentasi lain, perlu ditegaskan bahwa kesadaran umat Islam dalam merefleksikan keimanannya perlu ditopang oleh wawasan dan pengetahuan. Agar segalanya berjalan teratur dan seimbang, menyatukan unsur keimanan di satu sisi dengan unsur wawasan di sisi lain dalam tauhid umat sangat perlu untuk diupayakan dengan serius. Karena, tauhid sebagai sebuah keyakinan yang benar akan selalu berada diatas pondasi tauhid sebagai sebuah teori dan pengetahuan yang benar pula. Tanpa pondasi itu, keimanan umat akan mudah dieksploitasi untuk kerja-kerja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam (baca: bid`ah). Jika dicermati, inilah yang menyebabkan bermunculannya fenomena kemusyrikan dan aliran-aliran sesat pada masyarakat Islam yang hingga saat ini masih menunggu sentuhan dakwah orang-orang yang mau peduli.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: