Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (5) – Selesai


وَالْمُنْكَرُ الفَرْدُ بِهِ رَاوٍ غَدَا           تَعْدِيْلـُهُ لاَ يَحْمِلُ التَّفَرُّدَا

Munkar adalah hadis yang menyendiri seorang rawi dengannya, dalam kondisi

Keadilannya tidak mencapai derajat rawi yang pantas menyendiri

 

Munkar, menurut kebanyakan para ahli ilmu adalah hadis yang seorang rawi menyendiri sementara rawi tersebut bukanlah orang yang pantas menyendiri dalam riwayat seperti ini. Menyendiri maksudnya adalah hadis yang ia riwayatkan itu tidak dikenal dari para perawi yang lain, baik dari jalur periwayatan ia sendiri atau dari jalur periwayatan yang lain.

Dari definisi ini, munkar memiliki kaitan yang erat dengan gharib dan fard. Bedanya hanyalah istilah munkar khusus untuk yang salah satu perawinya adalah orang yang tidak mencapai derajat rawi yang pantas/boleh menyendiri dalam periwayatan tersebut. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (4)


وَالْفَرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثـِقَةِ         أَوْ جَمْعٍ اوْ قَصْرٍ عَلىَ رِوَايَةِ

Dan hadis fard (menyendiri) adalah yang engkau ikat dengan rawi tsiqah

Atau dengan jamaah, atau dengan pembatasan pada sebuah riwayat

 

Selanjutnya hadis fard, yang secara bahasa artinya menyendiri. Hadis fard terbagi dua. Pertama, fard mutlak; yaitu hadis yang diriwayatkan dengan satu jalur periwayatan. seorang rawi menyendiri dalam periwayatan hadis tersebut dan tidak ada yang menyepakatinya.

Kedua, fard nisbi; yaitu hadis yang kesendiriannya terkait dengan sisi tertentu. Sisi-sisi inilah yang diantaranya disebutkan al-Baiquny dalam bait diatas:

  • Rawi tsiqah: seperti jika dikatakan, “Hadis ini, tidak ada rawi tsiqah yang meriwayatkannya kecuali si fulan.” Hadis yang seperti ini disebut fard dari sisi perawi tsiqah, walaupun  hadis itu diriwayatkan oleh perawi-perawi lain, namun dhaif.
  • Jamaah: seperti dikatakan, “Hadis ini hanya diriwayatkan oleh penduduk Madinah.”
  • Terbatas pada periwayatan tertentu: seperti dikatakan, “Hadis ini, tidak ada perawi yang meriwayatkan dari si fulan kecuali si fulan.” Walaupun hadisnya sendiri masyhur dari jalur periwayatan perawi yang lain. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (3)


وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ           وَضِدُّهُ ذَاكَ الَّذِيْ قَدْ نَزَلاَ

Dan setiap hadis yang sedikit rijalnya, maka ia tinggi (aaly)

Dan yang sebaliknya, maka ia turun (nazil)

 

Selanjutnya penulis menyebutkan istilah aaly dan nazil. Kedua istilah ini adalah diantara bahasan hadis yang hanya terkait dengan sanad, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan matn. Sanad Aaly adalah sanad yang jumlah perawinya sedikit. Sehingga antara seorang muhaddis dengan Rasulullah hanya terdapat beberapa jumlah perawi saja. Sedangkan nazil adalah kebalikan dari aaly, ia adalah sanad yang jumlah perawinya banyak.

Tentu saja masalah aaly dan nazil ini bersifat relatif. Karena sebuah sanad terkadang disebut aaly saat dibandingkan dengan suatu sanad, namun disebut nazil jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Begitu juga dengan sanad nazil. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (2)


وَمَا أُضِيْفَ لِلنَّبِي الْمَرْفُـوْعُ          وَمَا لَتَابِـعٍ هُوَ الْمَقْطُوْعُ

Dan yang disandarkan kepada Nabi adalah marfu’

Dan yang disandarkan kepada tabi’in adalah maqthu’

Pada bait ini penulis menjelaskan dua istilah hadis yang hanya terkait dengan matn; ia adalah marfu’ dan maqthu’. Khabar, dari sisi kepada siapa ia disandarkan memiliki beberapa kondisi:

  1. Disandarkan kepada Nabi. Inilah yang disebut marfu’
  2. Disandarkan kepada Shahabat. Inilah yang disebut mauquf (sebagaimana akan datang dalam nadzm ini)
  3. Disandarkan kepada tabi’in dan yang setelahnya. Inilah yang disebut maqthu’

Istilah-istilah ini hanya berkaitan dengan soal penisbatan matnnya, terlepas dari kondisi sanadnya yang muttashil (bersambung) atau tidak. Maka hardis marfu’ bisa saja ia mursal, munqathi, mu’allaq dll, atau ia shahih, hasan atau dhaif.

Hadis marfu’ terbagi dua: (1) marfu’ sharih; marfu’ yang jelas, seperti “Nabi bersabda”, atau “Nabi melakukan ini” (2) marfu’ hukmi; marfu’ yang tidak secara terang menunjukkan dari Nabi, karena lafadznya dinisbatkan kepada sahabat. Seperti jika salah seorang sahabat mengabarkan sesuatu yang berkaitan dengan perkara ghaib, atau hal-hal yang tidak mungkin keluar dari sekedar pendapat. (lebih…)

Syarh Ringkas Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah (1)


Pengantar Ilmu

 

Nama Ilmu

Ilmu Mushthalah Hadis, Ushul Hadis, atau Kaidah-kaidah Hadis.

 

Definisi Ilmu

Kaidah-kaidah yang dengannya dapat diketahui kondisi-kondisi para perawi (sanad) dan riwayat (matn); dari sisi diterima atau ditolaknya.

Objek pembahasan

Sanad dan Matn; dari sisi diterima dan ditolaknya.

Faidah mempelajarinya

Kemampuan membedakan hadis yang shahih (hujjah) dari yang dhaif (bukan hujjah).

Keutamaan mempelajarinya

Imam Nawawi berkata, “Ilmu hadis adalah diantara ilmu yang paling utama, yang mendekatkan kepada Rabb semesta alam. Bagaimana tidak, ia adalah penjelasan atas jalan sebaik-baik makhluk, yang dahulu dan yang terakhir.”[1] (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.