Menjaga Harta

Menjaga harta dari kesia-siaan adalah tahap selanjutnya ketika harta yang manusia usahakan dengan cara yang halal telah ada dalam genggaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk mensia-siakan harta (HR Bukhari Muslim)

Rasulullah menjelaskan tentang maksud mensia-siakan harta itu dengan sabdanya, “Ia adalah ketika Allah mengaruniakan rizki yang halal kepadamu, lalu engkau membelanjakannya pada apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR Ibnu Abi Dunya)

Pertanggungjawaban yang kelak akan dibebankan kepada orang yang dikaruniakan nikmat harta tidak hanya dari cara mendapatkannya, tapi juga dari cara bagaimana ia membelanjakannya. Sabda Nabi, “Dan (manusia) juga akan ditanya tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan.” (HR Tirmidzi)

Keberkahan harta juga sangat ditentukan bagaimana seseorang menggunakan hartanya. Jika ia mampu membelanjakannya pada pos-pos kebenaran seperti menafkahi diri dan keluarga, berzakat dan bersedekah, atau memberi hadiah, berarti ia telah memenuhi kewajibannya untuk bersyukur kepada Allah terhadap harta yang ia miliki. Dan dari sikap syukur itulah Allah akan menurunkan keberkahan pada hartanya berupa tambahan-tambahan nikmat harta berikutnya.

Namun jika ia kufur, dengan cara membelanjakan harta itu pada pos-pos yang diharamkan Allah, maka Allah mengancamnya dengan siksa yang sangat pedih. Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)

Menjaga harta berarti menjaga kehidupan. Kelalaian dalam menjaga harta adalah pangkal dari seluruh kerusakan dalam hidup. Pintar dalam mengelola harta berarti pintar dalam mengelola hidup. Semakin cakap seseorang mengatur hartanya, maka kebaikan demi kebaikan akan semakin banyak diraihnya. Itu karena potensi harta begitu besar dalam mendatangkan beragam kemanfaatan dan maslahat, baik di dunia ataupun di akhirat. Begitu pula sebaliknya, harta memiliki potensi yang sangat kuat untuk mendorong manusia melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, dosa, pelangggaran dan kerusakan yang sangat merugikan.

Oleh karena itu diantara doa yang senantiasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan kepada Allah adalah, “Ya Allah perbaikilah hidupku yang padanya ada kehidupanku (rizkiku), dan perbaikilah perkara akhiratku yang padanya ada tempat kembaliku.” (HR Muslim)***Wallahu a’lam bish-shawab

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: